Friday, February 17, 2017

Baru 5 tahun belajar

Saya dan suami tidak pernah menyangka bahwa kami akan menikah. Kami memang sudah saling mengenal 10 tahun sebelum kami menikah. Mengenyam pendidikan selama 4 tahun bersama. Jumlah mahasiswa yang tidak terlalu banyak, memungkinkan kami sering bertemu atau bahkan ada kelas2 yang kami ikuti bersama (menurut suami sih ada kelas bareng, tapi saya tidak ingat 😅). Tapi selama 4 tahun bertemu di kampus, seingat saya kami mengobrol hanya beberapa kali, bisa dihitung dengan jari. Itu pun tak pernah mengobrol berdua, tapi dalam forum panitia. Apalagi kami juga bukan teman sepermainan (beda gank gituh 😁). Intinya, sebelumnya saya mengenal suami hanya lewat teman-temannya dan hanya tau bahwa dia ada. 
Sampai sekitar 6 tahun kemudian, dia membantu saya menemukan alamat untuk interview freelance job, saya juga masih tidak menyangka kami akan memiliki hubungan selain pertemanan. Hingga 2,5 tahun setelah itu (8,5 tahun sejak kami kenal), kami dipertemukan lagi di acara pernikahan salah seorang teman. Kami yang kebetulan datang duluan dari yang lain, mengobrol banyak tentang banyak hal. 
Setelah itu, saya baru menyadari bahwa dia ada niat untuk lebih mengenal satu sama lain (dan memastikan saya belum ada yang lamar 😅). Tak sampai 2 bulan setelah itu, dia langsung bertanya pada saya apakah saya mau menjadi istrinya. Setelah saya menyetujuinya, 2 bulan kemudian dia melamar saya langsung ke papa saya. 2 bulan setelahnya dia membawa serta keluarganya untuk melamar saya secara resmi. Setelah itu, kami membutuhkan 8 bulan untuk mempersiapkan segala sesuatu berkaitan dengan akad nikah dan resepsi. Kalau diingat-ingat, kami hanya memiliki waktu 1 tahun (minus kesibukan mempersiapkan pernikahan) sebelum menikah untuk saling mengenal. Waktu yang kurang sih menurut saya. Oleh karena itu, setelah menikah, kami tak berhenti untuk belajar memahami satu sama lain. Belajar menjadi suami dan istri yang saling membawa kebaikan. Belajar menjadi orang tua yang baik untuk anak kami. Sudah 5 tahun kami belajar. Banyak suka dan duka yang kami lewati. Dan kami belum akan berhenti belajar, sampai maut memisahkan (jika Allah SWT mengijinkan).
Btw, teman-teman yang mengenyam pendidikan bersama, (hampir) semua tidak menyangka saat kami mengirimkan undangan pernikahan. Kata mereka "Kok bisa? Kapan PDKTnya?". Hehehe.. Kami saja tidak menyangka kok. Kalau Allah SWT sudah berkehendak, Dia bisa mendekatkan yang jauh, khan? 😊

Happy anniversary, yank. 😘

Wednesday, September 7, 2016

Juli 1996 - Juli 2016

Baru sadar tahun ini sudah 20 tahun saya (masih) belajar menutup aurat. Dengan perjalanan yang bagi saya pun tak mudah, menutup aurat di negara yang walaupun mayoritas Islam, namun (dulu) masih sedikit yang menutup aurat.
Pertama kali saya belajar menutup aurat memang dalam kondisi yang masih disuruh karena saya menjalani pendidikan tingkat tsanawiyah di pesantren putri yang mengharuskan semua santrinya menutup aurat. colek teman-teman se-asrama dan se-pesantren (yang gak mungkin di tag semua). Jujur saat itu, saya menggunakan penutup kepala dan pakaian yang lebih panjang hanya sebatas mengikuti yang diperintahkan dan belum memaknai lebih mendalam.
Ketika lulus tsanawiyah dan smp kemudian melanjutkan ke sma negeri, dimana tidak semua siswi menutup aurat, saya mulai mempertanyakan diri saya sendiri, apakah saya siap dengan keadaan yang berbeda dengan kebanyakan siswi lain. Hati kecil saya yang paling dalam meyakinkan diri saya untuk meneruskan apa yang sudah saya mulai. Insya Allah semua akan mudah. Tentu, banyak hal-hal yang mengharuskan saya menyesuaikan diri. Dimana sebelumnya teman-teman saya sekelas, 1 sekolah bahkan 1 pesantren adalah perempuan semua, kini saya bersekolah dengan lawan jenis juga. Saya ingat pernah sangat terkejut saat teman saya (laki-laki) memanggil untuk meminjam alat tulis. @siti aminah mungkin juga masih ingat ini. Pernah juga seorang teman (laki-laki) bertanya kepada saya dan teman sebangku saya (@feybi) yang juga berjilbab, apa alasan kami memakai jilbab. Itulah pertama kalinya ada yang mempertanyakan alasan saya memakai jilbab. Saat itu saya terus terang tidak dapat menjawab pertanyaan itu. Namun, setelah itu saya lalu mencari jawabannya di dalam diri saya. Perlu waktu hingga 2 tahun sampai saya meyakini alasan saya menutup aurat, karena itu salah satu yang diperintahkan agama yang saya yakini kepada wanita (baligh) yang harus saya ikuti. Pernah juga beberapa orang yang mempertanyakan kenapa wanita berjilbab ada memiliki kelakuan tidak baik. Buat saya jilbab memang sebagai salah satu hal yang bisa menjaga saya dari perbuatan tidak baik. Misal karena saya berjilbab, saya akan lebih malu untuk merokok / minum minuman beralkohol / 'dugem' atau tindakan lainnya. Namun jika masih ada wanita berjilbab yang melakukan itu, bukan jilbabnya yang salah, wanita tersebut yang mungkin belum paham esensi menutup aurat. Sama hal-nya dengan sholat yang bertujuan untuk mencegah perbuatan keji dan munkar. Kalau ada orang rajin sholat namun tetap membunuh atau melakukan tindak kriminal lainnya, bukan berarti orang itu tidak boleh sholat. Sholat itu wajib untuk semua umat Islam. Sama seperti menutup aurat untuk wanita Islam (baligh). Jadi jangan bilang "gpp gw gak berjilbab yang penting rajin sholat". Untuk perempuan (baligh) beragama Islam, menutup aurat dan sholat tidak bisa diperbandingkan. Sama-sama wajib.

Dalam menutup aurat, saya juga jadi melihat lagi ke belakang bagaimana proses belajar saya. Dulu yang saya tau cukup menutup badan dan kepala dengan pakaian agar rambut, leher, tangan, dan kaki yang dulu sering terbuka menjadi tertutup. Lalu kemudian saya belajar bahwa pakaian pun dipilih yang tidak pas di badan alias longgar. Juga saya belajar bahwa penutup kepala dipilih yang juga menutup bagian dada. Tentu sampai saat ini saya masih terus belajar untuk semakin baik dan sesuai syari'ah. Alhamdulillah dapat pendamping yang juga mendukung hal ini. colek @basuki Saya ingat pernah dia tegur karena memakai dress hingga lutut lalu dipadukan dengan celana legging yang ketat untuk menutup betis ketika akan pergi menghadiri undangan.

Jadi kalau kamu ngaku wanita yang beragama Islam, jangan takut untuk menutup aurat. Yuk, sama-sama belajar. :)

Thursday, November 12, 2015

Kapan mau punya anak lagi?

Belakangan ini saya mengalami yang biasa seorang ibu beranak 1 alami. 
Orang-orang di sekeliling mulai bertanya : 
"Afiqah umurnya berapa?" 
"Wah, mau 3 tahun ya?"
"Afiqah belum punya adik?"
"Afiqah udah cocok tuh buat punya Adik." 
"Kenapa nunda-nunda, sih?"
"Umur kamu jalan terus, loh. Emang mau punya anak di usia lanjut?"
dst.. dst...

Sudah siapkah punya anak lagi? Justru pertanyaan itu yang saya tanyakan pada diri saya, bahkan sebelum ada pertanyaan-pertanyaan di atas dari orang lain. Saya dan Ibas selalu sepakat soal jumlah dan kapan mau punya anak, alhamdulillah. Dulu menjelang menikah, kami sepakat tidak berusaha menunda punya anak. Alhamdulillah, Allah SWT langsung mempercayakan sebulan setelah kami menikah dan Afiqah lahir 38 minggu kemudian. :) Kehamilan pertama saya alhamdulillah tidak banyak drama, selain adanya miom jinak. Rasa mual saya rasakan hanya sebulan saat masuk minggu ke 8 - 12. Sempat khawatir ketika pada minggu ke 13, dokter menemukan adanya miom di dalam rahim saya. Kekhawatiran bertambah ketika bulan berikut miom membesar dengan cukup cepat. Namun, setelah mendapat dokter yang tepat (karena diagnosa dan saran-sarannya yang menenangkan), kehamilan pertama saya sangat menyenangkan. Kelahiran Afiqah pun tidak banyak drama. Karena adanya miom yang sangat besar (diameter 11 cm, berat 3 kg), keputusan caesar memang sudah kami persiapkan. Kelahiran Afiqah membawa kebahagiaan yang tak terkira buat saya dan Ibas. Intinya adalah saya tidak trauma untuk hamil dan melahirkan lagi, kalau tidak mengingat mahalnya biaya kedua operasi (bayi dan miom) saat itu. :P

"Semua anak khan punya rezeki masing-masing."

Betul sekali. Kami juga sangat percaya hal itu. Mana mungkin kami berani tidak percaya akan rezeki Allah SWT. Tapi kami juga percaya bahwa "tidak akan berubah suatu kaum sebelum mereka merubah diri mereka sendiri". Artinya kami juga cukup tahu diri untuk mengukur kemampuan kami. Buat kami seorang atau berapa orang anak, amanah yang luar biasa besar tanggung jawabnya. Kami tidak mau memberi rezeki seadanya bahkan kurang pada anak (-anak) kami. Rasanya kami akan sangat berdosa kalau membuat mereka kekurangan. Seorang anak tidak dapat memilih orang tua seperti apa, namun kami bisa memilih mau menjadi orang tua seperti apa untuk anak kami.

"Afiqah sudah 3 tahun, sudah cocok lah buat punya adik."

Alhamdulillah umur Afiqah sudah 3 tahun. Pada umumnya memang sudah cukup jarak usianya jika adiknya direncanakan lahir tahun depan. Namun, kami (khususnya saya) merasa belum cukup waktu saya menimang-nimang Afiqah. Waktu saya sehari-hari yang dipotong untuk bekerja di luar rumah, rasanya belum cukup banyak untuk Afiqah. Walaupun ketika weekend dan hari libur tiba, semua waktu saya untuk Afiqah dan keluarga. Saya merasa masih perlu waktu lebih banyak lagi untuk dapat lebih lengket dengan Afiqah, sebelum adiknya lahir. Karena saya juga paham bahwa ketika adiknya lahir, perhatian saya harus terbagi. Saya percaya kasih sayang seorang ibu akan sama rata untuk semua anak-anaknya. Namun, saya juga realistis, tentunya waktu akan lebih banyak ke anak yang lebih kecil karena belum mampu melakukan apapun sendiri. Harapan saya ketika Afiqah sudah cukup siap mental saat punya adik, dia akan lebih pengertian, atau bahkan mungkin sudah dapat membantu saya. Sehingga saya tidak terlalu lelah jasmani dan rohani yang dapat membuat saya khilaf berkata dengan nada tinggi ke Afiqah. Sekali lagi, saya menyadari kemampuan saya. Rasanya tidak sanggup bila nanti saya sedang mengurus adiknya, lalu Afiqah merengek minta diperhatikan juga. Tidak sanggup hati melihat Afiqah seolah merasa 'disingkirkan' dan saya akan merasa dilema.

"Umur kamu jalan terus, loh. Emang mau pas umur 40 tahun masih kejar-kejar anak balita?"

Kami (terutama saya) sangat paham tentang keadaan ini. Secara biologis, hamil dan melahirkan pada saat usia di atas 40 tahun memang lebih beresiko. Allah SWT Maha Penyayang. Saya yakin, umur berapa-pun nantinya saya memiliki anak, Allah pasti akan menjaga saya. Rencana kami memang akan kembali memiliki anak sebelum usia 40 tahun, semoga rencana Allah sama dengan kami. Amiin.

"Tambah anak sekarang saja. Mumpung kamu masih kuat cari duitnya dan mama kamu masih cukup kuat untuk jaga anak kamu".

Subhanallah memang kalau mendengar komentar yang ini. Seolah-olah saya sengaja meminta mama saya khusus untuk menjaga Afiqah. Demi Allah, itu tidak benar. Saat ini kalau boleh jujur, saya terpaksa meminta bantuan mama menjaga Afiqah. Kami sekeluarga sepakat untuk tidak mempercayakan Afiqah 100% kepada baby sitter.

Jadi, tanpa kalian tanya pun, saya sudah bertanya kok kepada diri saya kapan siap punya anak lagi.
Allah yang Maha Tahu apa yang baik untuk umatnya. Saya yakin. Bismillaahiraahmanirrahiim.

^_^

Sunday, October 5, 2014

Selamat Hari Raya Idul Adha untuk semua muslimin di dunia

Buat yang blm berqurban dengan alasan gak punya duit. Coba lihat lagi deh.

Punya HP? Harganya brp?

Punya laptop / PC? Harganya brp?

Punya motor? Harganya brp?

Punya mobil? Harganya brp?


"Semua itu khan dibeli dengan dicicil".


Qurban juga bisa dicicil kok. Qurban itu khan HANYA setahun 1 kali.

Kalau sebulan nabung 200rb. Setahun dapat Rp. 2.4jt. Insya allah sudah bisa qurban ( 1ekor kambing atau 1/7 Sapi)

Gak bisa?

Kalau sebulan nabung Rp. 100rb, berarti dalam 2 tahun insya Allah bisa qurban.

Masih gak bisa juga?

Kalau sebulan nabung Rp. 50rb, berarti dalam 4 tahun insya Allah bisa qurban.

Masih ngerasa gak bisa karena pendapatan pas pas an buat makan dan transport?

Coba deh puasa sunnah. Kalau ongkos makan Rp. 15.000/ 1 kali makan. Berarti cukup puasa sunnah 1 kali seminggu, dalam sebulan udah bisa nabung Rp. 60rb. Pahalanya insya Allah jadi double.

Kalau ngerasa gak bisa nabung selama itu, krn uangnya kepake terus, coba deh Tabungan Rencana. Tabungan yang di autodebet pas setelah gajian, jadi "dipaksa" nabung. Masa bisa nabung buat beli keperluan dunia, tapi gak bisa nabung untuk keperluan akhirat. Hehehehe..

Bener2 gak bisa nabung segitu? Atau pengen berqurban lebih cepat dari kemampuan? Coba ajak keluarga untuk patungan. Suami, anak, orangtua, kakak, adik, ipar, mertua. Mungkin yang akan diajukan hanya nama 1 orang ke panitia Qurban, tapi Allah SWT khan Maha Tau siapa aja yang berniat qurban itu. Gpp namanya gak diketahui manusia sebagai pengurban, yang penting khan Allah tau. Ya, gak? :D

Bismillah, niatkan berqurban. Tetapkan hati berusaha menabung untuk qurban. Sisanya jadi mudah, karena dimudahkan oleh Allah SWT. Percaya, deh.

Cobain deh sekali aja berqurban, rasanya luar biasa menakjubkan.


^_^

Saturday, July 5, 2014

Ceriwis

Please meet si ceriwis Afiqah.. Hehehehe..

Rasanya mulutnya tak berhenti bicara kecuali saat dia tidur. Memang awalnya saya yang memancing Afiqah menjadi ceriwis. Pasalnya saya menganut paham : ajaklah bayimu berbicara agar tercipta bonding dan meminimalisir kemungkinan dia terlambat memiliki kemampuan berbicara. Tapi sepertinya saya yang terlampau semangat mengajak ngobrol Afiqah sejak ia belum genap 1 tahun. Hehehe.. Untuk ukuran seusia dia, kemampuan bicaranya melebihi rata-rata. Tentu saja itu penilaian dari mamanya yang bisa jadi sangat subjective. Hihihihi.. Intinya, alhamdulillah dia sudah sangat lancar melafalkan semua kata yang ia pelajari. Walaupun tentu masih ada huruf yang terdengar cadel. Misal dia belum bisa melafalkan huruf F dan Q. Jadi dia menamai dirinya Pipa dari kata Fiqa. Hehehee..
Ah, berapapun bertambahnya kemampuanmu nak tetap membuatku bangga menjadi mamamu.

Love u

😘😬

Saturday, April 5, 2014

Libur Nasional 2015

Saya sudah merencanakan Family Travelling tahun depan. Berhubung saya adalah orang yang bekerja di kantor, hari libur nasional di weekday merupakan hal yang sangat saya perhatikan ketika merencanakan travelling. :)
Jadi, saya mau berbagi info hari libur tahun 2015 kepada kalian. Semoga bermanfaat. Dan semoga info dari saya ini cukup valid. Hehehe..

Libur Nasional :

1. 1 Januari (Kamis) - Tahun Baru 2015

2. 3 Januari (Sabtu) - Maulid Nabi Muhammad SAW

3. 19 Februari (Kamis) - Tahun Baru Imlek 2566

4. 21 Maret (Sabtu) - Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1937

5. 3 April (Jumat) - Wafat Yesus Kristus

6. 1 Mei (Jumat) - Hari Buruh Internasional

7. 14 Mei (Kamis) - Kenaikan Yesus Kristus

8. 16 Mei (Sabtu) - Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW

9. 2 Juni (Selasa) - Hari Raya Waisak 2559

10. 17-18 Juli (Jumat-Sabtu) - Hari Raya Idul Fitri 1436 Hijriah

11. 17 Agustus (Senin) - Hari Kemerdekaan RI

12. 24 September (Kamis) - Hari Raya Idul Adha 1436 Hijriah

13. 14 Oktober (Rabu) - Tahun Baru Islam 1437 Hijriah

14. 25 Desember (Jumat) - Hari Raya Natal


Cuti Bersama:

1. 16, 20, dan 21 Juli (Kamis, Senin, Selasa) - Cuti Bersama Hari Raya Idul Fitri 1436 Hijriah

2. 24 Desember (Kamis) - Cuti Bersama Hari Raya Natal

Sunday, November 3, 2013

She is not a baby anymore



Alhamdulillah, She is not a baby anymore. Happy Birthday my little Afiqah :)

Sunday, July 21, 2013

Untuk memiliki rumah itu banyak pertimbangannya, ya?

Bermula dari melihat status salah satu teman yang menawarkan untuk membeli rumah melalui salah satu developer, saya jadi teringat akan keinginan saya (yang kini menjadi keinginan bersama Ibas) untuk memiliki paling tidak sebuah rumah sendiri. Rumah sendiri yang saya maksudkan di sini adalah rumah yang layak, bukan hanya sekedar bangunan dari bahan seadanya, memiliki kekuatan hukum yang kuat, dan atas nama saya. Saat ini memang kami sudah tinggal terpisah dari orang tua kami, namun masih mengontrak rumah orang lain. Karena hal itu adalah pilihan terbaik kami saat ini. Namun, secara realistis ternyata untuk dapat memiliki rumah yang diinginkan tidak semudah yang saya fikirkan. Berikut beberapa pertimbangan yang menurut saya lumayan (kalau tidak dapat dibilang sangat) mempengaruhi realisasi keinginan tersebut.


1. Harga tanah (dan rumah) dan kemampuan finansial 
Harga tanah dan rumah semakin hari akan semakin naik. Mengapa begitu? Kalau menurut analisa saya sebagai orang awam, itu karena semakin banyaknya permintaan rumah sebanding lurus dengan pertambahan jumlah penduduk di Jakarta ini. Namun keinginan memiliki rumah akan sangat sulit direalisasikan jika kemampuan finansial tidak memadai. Kemampuan finansial didapat dari pemasukan hasil wirausaha maupun gaji sebagai pegawai yang HARUS lebih besar daripada pengeluaran. Kemampuan finansial ini seolah berkejar-kejaran dengan harga rumah itu sendiri. Jika kita tidak berlari lebih kencang, atau meminta bantuan lain untuk mengejar, maka kita tidak akan dapat menangkap harga rumah yang kita inginkan. 

2. Jarak antara rumah dengan tempat kerja 
Untuk para pegawai (seperti yang saya jalani saat ini) yang bekerja di Jakarta, pertimbangan ini cukup penting. Mengapa? Waktu kerja umumnya menghabiskan waktu 9 jam sehari, yaitu dari pukul 8 pagi sampai dengan pukul 17 sore. Waktu tempuh dari rumah ke kantor dan dari kantor ke rumah yang wajar menurut saya tidak lebih dari 1 jam. Sehingga, kita harus berangkat paling tidak jam 7 pagi dari rumah dan akan sampai rumah jam 18 sore. Untuk mencapai suatu tempat di jakarta dari jarak yang dekat saja dapat menghabiskan waktu yang banyak karena macetnya, maka dapat dibayangkan jika jarak rumah cukup jauh dari kantor. Sangat mungkin terjadi kita harus berangkat dari pukul 5 pagi dan akan sampai di rumah pukul 20 malam. Jadi jam berapa kita harus bangun dan pergi tidur? Hanya berapa jam yang dapat kita nikmati untuk tidur ketika hari kerja? Hanya berapa jam yang dapat kita nikmati untuk bercengkerama dengan orang yang kita sayang ketika hari kerja? 

3. Jarak antara rumah dengan rumah orang tua 
Bagi kita yang tinggal 1 kota dengan orang tua, pertimbangan ini seringkali muncul ketika menentukan akan tinggal dimana, baik yang masih single maupun yang sudah berkeluarga. Buat saya yang belum lama berkeluarga, jujur ini penting ketika masih memiliki anak yang berusia di bawah 5 tahun. Setelah berkeluarga dan memiliki anak, saya masih ingin bekerja. Bukan karena saya ambisius terhadap karir. Namun, dengan bekerja saya dapat membantu Ibas untuk menambah pemasukan keluarga dan mewujudkan mimpi-mimpi kami kepada keluarga kami. Bekerja merupakan pilihan yang saya ambil saat ini, dan tentu ada konsekuensinya. Anak saya yang masih kecil tentu tidak dapat ditinggal di rumah sendirian, apalagi dibawa ke tempat saya bekerja. Saya juga termasuk yang kurang dapat percaya 100% kepada pengasuh, sekalipun ia tenaga profesional. Saya ingin menitipkan anak saya kepada orang yang dapat mencintainya paling tidak sebesar saya mencintainya, bukan hanya sekedar menjaga dan mengasuhnya. Maka pilihan saya jatuh kepada orang tua saya. Sungguh, bukan maksud saya untuk menyusahkan dan merepotkan kedua orang tua saya yang sudah tidak muda lagi. Tapi, saya sungguh hanya ingin mencari solusi terbaik bagi semuanya. Semoga pilihan saya diridhoi Allah SWT. Alhamdulillah, kedua orang tua saya setuju untuk membantu saya menjaga Afiqah.

4. Keamanan dan kenyamanan 
Keamanan rumah mungkin menjadi salah satu hal terpenting bagi semua orang. Baik memiliki rumah yang besar dan mewah, maupun yang yang memiliki rumah yang kecil dan sederhana. Kenyamanan juga pasti diinginkan semua orang. Seperti yang banyak orang katakan, "Home sweet home", atau "Rumahku adalah Istanaku". Kenyamanan yang didefinisikan oleh masing-masing orang memang dapat berbeda. Dalam definisi saya, kenyamanan dapat diartikan adanya kehangatan yang dirasakan semua orang yang tinggal bersama, dapat menjadi diri sendiri, tidak malu untuk memberikan kebaikan kepada satu sama lain. :) 

5. Jarak antara rumah dengan tempat-tempat fungsional (rumah sakit, pasar, sekolah anak) 
Selain poin nomor 2, poin ini juga merupakan salah satu pertimbangan yang banyak difikirkan oleh kebanyakan orang-orang yang sudah berkeluarga. Keluarga yang memang cukup sering memasak tentunya akan sangat senang jika rumahnya tak jauh dari pasar. Untuk membeli beberapa barang kebutuhan rumah tangga mungkin memang dapat dibeli sekali seminggu ataupun sekali sebulan di supermarket yang agak jauh dari rumah. Namun, untuk membeli bahan makanan fresh, seperti ayam, ikan, daging, buah, dan sayur, tentunya lebih enak jika dibeli tak lama sebelum akan diolah, yaitu setiap pagi. Untuk orang-orang yang sudah memiliki anak, jarak antara rumah dan sekolah anak juga penting. Para orang tua tentu tidak ingin anak mereka terlambat sampai di sekolah. Mereka juga mungkin tidak tega untuk membangunkan anak mereka sangat pagi hanya karena sekolahnya jauh dari rumah. 

6. Jarak antara rumah dengan akses angkutan umum 
Tidak semua orang punya dan mampu punya kendaraan pribadi (materi baru nih :P). Sehingga angkutan umum adalah pilihan terbaik untuk membantu aktifitasnya. Apalagi saya, yang termasuk malas dan "agak" penakut untuk mengendarai kendaraan sendiri (apapun kendaraannya), lebih memilih naik angkutan umum. Kenapa? Karena naik angkutan umum itu dijamin tidak nyasar (asal tahu trayeknya saja), lebih enak untuk mengamati keadaan di sepanjang jalan (ini sih kebiasaan saya saja suka mengamati sesuatu hal atau bahkan sekedar membaca tulisan-tulisan yang terlihat). Nah, akses untuk mendapatkan angkutan umum dari rumahnya tentu adalah hal yang patut dipertimbangkan. Saya pernah ke rumah salah seorang kenalan yang berada di komplek mewah. Rumah dia itu terletak di ujung komplek tersebut. Oke, saya maklum jika mungkin tidak ada angkutan umum di dalam komplek rumahnya. Tapi ini lebih parah dari itu, tidak angkutan umum yang lewat di depan gerbang komplek rumahnya. Sejak saat itu, saya kapok main ke rumahnya, kecuali jika naik taxi atau diantar jemput ke tempat yang ada akses angkutan umumnya. :P 

7. Luas tanah dengan jumlah orang yang akan menempati 
Poin ini sebenarnya untuk mendukung poin kenyamanan yang ada di poin 4. Jika luas tanah / bangunan tidak mencukupi untuk orang-orang yang akan tinggal tentu tidak nyaman. Sebaliknya jika luas tanah / bangunan jauh melebihi kecukupan untuk jumlah orang yang akan menempati rumah tersebut, menurut saya akan mengurangi kehangatan keluarga yang saya bahas di poin 4. Beberapa orang bilang bahwa poin ini dapat "diakalin". Maksudnya adalah jika tanah / bangunannya kecil, sedangkan orang yang akan menempatinya lebih banyak, maka dapat dibangun bertingkat ke atas atau ke bawah menyesuaikan kebutuhan. Namun, ini akan memunculkan masalah baru. Untuk naik turun rumah bertingkat banyak tentu akan mengurangi kenyamanan tinggal di rumah tersebut. Hehehe... 

8. Apakah rawan bencana (kebakaran, banjir, gempa)? 
Setelah hidup selama lebih dari 20 tahun (jumlah aslinya rahasia, ya? :P), saya mengalami atau melihat banyak bencana yang terjadi di berbagai belahan dunia ini. Bencana memang bukan hal yang dapat disangka-sangka kapan waktunya dan terjadi di mana. Namun, kita sebagai manusia dapat melihat adanya potensi-potensi dari sebuah tempat mengalami sebuah bencana. Misalnya saja kebakaran. Suatu perumahan padat penduduk dengan ilmu wawasan dan kesadaran yang rendah dapat menyebabkan sering terjadinya kebakaran. Seringkali kebakaran terjadi hanya karena hal-hal yang dianggap sepele, seperti membuang puntung rokok (yang masih menyala, walau sedikit) sembarangan, menggunakan karburator gas yang kendor, selang gas yang bocor (halus), menaruh lilin sembarangan, membiarkan anak kecil bermain api tanpa penjagaan, dan lain sebagainya. Banjir pun demikian. Tak dapat dipungkiri, banjir yang sering terjadi di Indonesia (terutama Jakarta) sebagian besar alasannya adalah karena menumpuknya sampah di pembuangan air. 

9. Jalan menuju rumah dapat dilewati kendaraan (roda 2 dan roda 4) 
Pertimbangan yang satu ini sebenarnya tidak hanya difikirkan oleh orang-orang yang memiliki kendaraan pribadi, namun juga bagi yang tidak memiliki kendaraan pribadi. Mengapa? Alasan pertama adalah, tentunya akan lebih nyaman jika kita tidak harus berjalan di gang yang sempit untuk dapat pulang dan pergi ke dan dari rumah kita. Alasan selanjutnya, agar adanya akses untuk angkutan umum melewati jalur rumah kita seperti yang saya inginkan di poin 6. Dan mungkin akan banyak alasan lainnya. 

10.Tanah yang ada dapat membangun garasi untuk kendaraan yang dimiliki (roda 2 dan roda 4) 
Hal ini penting bagi orang yang memiliki kendaraan pribadi agar keamanan kendaraannya lebih terjaga. Jika poin ini terpenuhi, maka juga akan membawa kenyamanan bagi orang yang tinggal di sekitar rumah kita maupun yang melewati rumah kita. Sering saya temui banyak sekali kendaraan (roda 2 ataupun roda 4) yang diparkir di depan sebuah rumah. Hal itu membuat jalan / gang rumah tersebut menjadi sulit dilalui. 


Pertimbangan-pertimbangan saya di atas sebenarnya sudah tertulis di FB saya. Cukup banyak respon yang ditulis oleh beberapa teman. Ada yang sagalau saya dalam keinginannya memiliki rumah. Ada yang menyarankan untuk nekat membeli dengan modal dan pertimbangan seadanya. Ada yang memberikan beberapa solusi agar dapat memiliki rumah yang cukup layak dan dapat memenuhi sebagian besar (jika tidak dapat semua) pertimbangan-pertimbangan di atas. Doain saya, ya. Agar dapat memiliki rumah sendiri yang memenuhi pertimbangan-pertimbangan di atas. Aamiin.

Jadi, apa pertimbangan kalian dalam mewujudkan keinginan memiliki rumah sendiri?