Showing posts with label cita. Show all posts
Showing posts with label cita. Show all posts

Thursday, November 12, 2015

Kapan mau punya anak lagi?

Belakangan ini saya mengalami yang biasa seorang ibu beranak 1 alami. 
Orang-orang di sekeliling mulai bertanya : 
"Afiqah umurnya berapa?" 
"Wah, mau 3 tahun ya?"
"Afiqah belum punya adik?"
"Afiqah udah cocok tuh buat punya Adik." 
"Kenapa nunda-nunda, sih?"
"Umur kamu jalan terus, loh. Emang mau punya anak di usia lanjut?"
dst.. dst...

Sudah siapkah punya anak lagi? Justru pertanyaan itu yang saya tanyakan pada diri saya, bahkan sebelum ada pertanyaan-pertanyaan di atas dari orang lain. Saya dan Ibas selalu sepakat soal jumlah dan kapan mau punya anak, alhamdulillah. Dulu menjelang menikah, kami sepakat tidak berusaha menunda punya anak. Alhamdulillah, Allah SWT langsung mempercayakan sebulan setelah kami menikah dan Afiqah lahir 38 minggu kemudian. :) Kehamilan pertama saya alhamdulillah tidak banyak drama, selain adanya miom jinak. Rasa mual saya rasakan hanya sebulan saat masuk minggu ke 8 - 12. Sempat khawatir ketika pada minggu ke 13, dokter menemukan adanya miom di dalam rahim saya. Kekhawatiran bertambah ketika bulan berikut miom membesar dengan cukup cepat. Namun, setelah mendapat dokter yang tepat (karena diagnosa dan saran-sarannya yang menenangkan), kehamilan pertama saya sangat menyenangkan. Kelahiran Afiqah pun tidak banyak drama. Karena adanya miom yang sangat besar (diameter 11 cm, berat 3 kg), keputusan caesar memang sudah kami persiapkan. Kelahiran Afiqah membawa kebahagiaan yang tak terkira buat saya dan Ibas. Intinya adalah saya tidak trauma untuk hamil dan melahirkan lagi, kalau tidak mengingat mahalnya biaya kedua operasi (bayi dan miom) saat itu. :P

"Semua anak khan punya rezeki masing-masing."

Betul sekali. Kami juga sangat percaya hal itu. Mana mungkin kami berani tidak percaya akan rezeki Allah SWT. Tapi kami juga percaya bahwa "tidak akan berubah suatu kaum sebelum mereka merubah diri mereka sendiri". Artinya kami juga cukup tahu diri untuk mengukur kemampuan kami. Buat kami seorang atau berapa orang anak, amanah yang luar biasa besar tanggung jawabnya. Kami tidak mau memberi rezeki seadanya bahkan kurang pada anak (-anak) kami. Rasanya kami akan sangat berdosa kalau membuat mereka kekurangan. Seorang anak tidak dapat memilih orang tua seperti apa, namun kami bisa memilih mau menjadi orang tua seperti apa untuk anak kami.

"Afiqah sudah 3 tahun, sudah cocok lah buat punya adik."

Alhamdulillah umur Afiqah sudah 3 tahun. Pada umumnya memang sudah cukup jarak usianya jika adiknya direncanakan lahir tahun depan. Namun, kami (khususnya saya) merasa belum cukup waktu saya menimang-nimang Afiqah. Waktu saya sehari-hari yang dipotong untuk bekerja di luar rumah, rasanya belum cukup banyak untuk Afiqah. Walaupun ketika weekend dan hari libur tiba, semua waktu saya untuk Afiqah dan keluarga. Saya merasa masih perlu waktu lebih banyak lagi untuk dapat lebih lengket dengan Afiqah, sebelum adiknya lahir. Karena saya juga paham bahwa ketika adiknya lahir, perhatian saya harus terbagi. Saya percaya kasih sayang seorang ibu akan sama rata untuk semua anak-anaknya. Namun, saya juga realistis, tentunya waktu akan lebih banyak ke anak yang lebih kecil karena belum mampu melakukan apapun sendiri. Harapan saya ketika Afiqah sudah cukup siap mental saat punya adik, dia akan lebih pengertian, atau bahkan mungkin sudah dapat membantu saya. Sehingga saya tidak terlalu lelah jasmani dan rohani yang dapat membuat saya khilaf berkata dengan nada tinggi ke Afiqah. Sekali lagi, saya menyadari kemampuan saya. Rasanya tidak sanggup bila nanti saya sedang mengurus adiknya, lalu Afiqah merengek minta diperhatikan juga. Tidak sanggup hati melihat Afiqah seolah merasa 'disingkirkan' dan saya akan merasa dilema.

"Umur kamu jalan terus, loh. Emang mau pas umur 40 tahun masih kejar-kejar anak balita?"

Kami (terutama saya) sangat paham tentang keadaan ini. Secara biologis, hamil dan melahirkan pada saat usia di atas 40 tahun memang lebih beresiko. Allah SWT Maha Penyayang. Saya yakin, umur berapa-pun nantinya saya memiliki anak, Allah pasti akan menjaga saya. Rencana kami memang akan kembali memiliki anak sebelum usia 40 tahun, semoga rencana Allah sama dengan kami. Amiin.

"Tambah anak sekarang saja. Mumpung kamu masih kuat cari duitnya dan mama kamu masih cukup kuat untuk jaga anak kamu".

Subhanallah memang kalau mendengar komentar yang ini. Seolah-olah saya sengaja meminta mama saya khusus untuk menjaga Afiqah. Demi Allah, itu tidak benar. Saat ini kalau boleh jujur, saya terpaksa meminta bantuan mama menjaga Afiqah. Kami sekeluarga sepakat untuk tidak mempercayakan Afiqah 100% kepada baby sitter.

Jadi, tanpa kalian tanya pun, saya sudah bertanya kok kepada diri saya kapan siap punya anak lagi.
Allah yang Maha Tahu apa yang baik untuk umatnya. Saya yakin. Bismillaahiraahmanirrahiim.

^_^

Sunday, July 21, 2013

Untuk memiliki rumah itu banyak pertimbangannya, ya?

Bermula dari melihat status salah satu teman yang menawarkan untuk membeli rumah melalui salah satu developer, saya jadi teringat akan keinginan saya (yang kini menjadi keinginan bersama Ibas) untuk memiliki paling tidak sebuah rumah sendiri. Rumah sendiri yang saya maksudkan di sini adalah rumah yang layak, bukan hanya sekedar bangunan dari bahan seadanya, memiliki kekuatan hukum yang kuat, dan atas nama saya. Saat ini memang kami sudah tinggal terpisah dari orang tua kami, namun masih mengontrak rumah orang lain. Karena hal itu adalah pilihan terbaik kami saat ini. Namun, secara realistis ternyata untuk dapat memiliki rumah yang diinginkan tidak semudah yang saya fikirkan. Berikut beberapa pertimbangan yang menurut saya lumayan (kalau tidak dapat dibilang sangat) mempengaruhi realisasi keinginan tersebut.


1. Harga tanah (dan rumah) dan kemampuan finansial 
Harga tanah dan rumah semakin hari akan semakin naik. Mengapa begitu? Kalau menurut analisa saya sebagai orang awam, itu karena semakin banyaknya permintaan rumah sebanding lurus dengan pertambahan jumlah penduduk di Jakarta ini. Namun keinginan memiliki rumah akan sangat sulit direalisasikan jika kemampuan finansial tidak memadai. Kemampuan finansial didapat dari pemasukan hasil wirausaha maupun gaji sebagai pegawai yang HARUS lebih besar daripada pengeluaran. Kemampuan finansial ini seolah berkejar-kejaran dengan harga rumah itu sendiri. Jika kita tidak berlari lebih kencang, atau meminta bantuan lain untuk mengejar, maka kita tidak akan dapat menangkap harga rumah yang kita inginkan. 

2. Jarak antara rumah dengan tempat kerja 
Untuk para pegawai (seperti yang saya jalani saat ini) yang bekerja di Jakarta, pertimbangan ini cukup penting. Mengapa? Waktu kerja umumnya menghabiskan waktu 9 jam sehari, yaitu dari pukul 8 pagi sampai dengan pukul 17 sore. Waktu tempuh dari rumah ke kantor dan dari kantor ke rumah yang wajar menurut saya tidak lebih dari 1 jam. Sehingga, kita harus berangkat paling tidak jam 7 pagi dari rumah dan akan sampai rumah jam 18 sore. Untuk mencapai suatu tempat di jakarta dari jarak yang dekat saja dapat menghabiskan waktu yang banyak karena macetnya, maka dapat dibayangkan jika jarak rumah cukup jauh dari kantor. Sangat mungkin terjadi kita harus berangkat dari pukul 5 pagi dan akan sampai di rumah pukul 20 malam. Jadi jam berapa kita harus bangun dan pergi tidur? Hanya berapa jam yang dapat kita nikmati untuk tidur ketika hari kerja? Hanya berapa jam yang dapat kita nikmati untuk bercengkerama dengan orang yang kita sayang ketika hari kerja? 

3. Jarak antara rumah dengan rumah orang tua 
Bagi kita yang tinggal 1 kota dengan orang tua, pertimbangan ini seringkali muncul ketika menentukan akan tinggal dimana, baik yang masih single maupun yang sudah berkeluarga. Buat saya yang belum lama berkeluarga, jujur ini penting ketika masih memiliki anak yang berusia di bawah 5 tahun. Setelah berkeluarga dan memiliki anak, saya masih ingin bekerja. Bukan karena saya ambisius terhadap karir. Namun, dengan bekerja saya dapat membantu Ibas untuk menambah pemasukan keluarga dan mewujudkan mimpi-mimpi kami kepada keluarga kami. Bekerja merupakan pilihan yang saya ambil saat ini, dan tentu ada konsekuensinya. Anak saya yang masih kecil tentu tidak dapat ditinggal di rumah sendirian, apalagi dibawa ke tempat saya bekerja. Saya juga termasuk yang kurang dapat percaya 100% kepada pengasuh, sekalipun ia tenaga profesional. Saya ingin menitipkan anak saya kepada orang yang dapat mencintainya paling tidak sebesar saya mencintainya, bukan hanya sekedar menjaga dan mengasuhnya. Maka pilihan saya jatuh kepada orang tua saya. Sungguh, bukan maksud saya untuk menyusahkan dan merepotkan kedua orang tua saya yang sudah tidak muda lagi. Tapi, saya sungguh hanya ingin mencari solusi terbaik bagi semuanya. Semoga pilihan saya diridhoi Allah SWT. Alhamdulillah, kedua orang tua saya setuju untuk membantu saya menjaga Afiqah.

4. Keamanan dan kenyamanan 
Keamanan rumah mungkin menjadi salah satu hal terpenting bagi semua orang. Baik memiliki rumah yang besar dan mewah, maupun yang yang memiliki rumah yang kecil dan sederhana. Kenyamanan juga pasti diinginkan semua orang. Seperti yang banyak orang katakan, "Home sweet home", atau "Rumahku adalah Istanaku". Kenyamanan yang didefinisikan oleh masing-masing orang memang dapat berbeda. Dalam definisi saya, kenyamanan dapat diartikan adanya kehangatan yang dirasakan semua orang yang tinggal bersama, dapat menjadi diri sendiri, tidak malu untuk memberikan kebaikan kepada satu sama lain. :) 

5. Jarak antara rumah dengan tempat-tempat fungsional (rumah sakit, pasar, sekolah anak) 
Selain poin nomor 2, poin ini juga merupakan salah satu pertimbangan yang banyak difikirkan oleh kebanyakan orang-orang yang sudah berkeluarga. Keluarga yang memang cukup sering memasak tentunya akan sangat senang jika rumahnya tak jauh dari pasar. Untuk membeli beberapa barang kebutuhan rumah tangga mungkin memang dapat dibeli sekali seminggu ataupun sekali sebulan di supermarket yang agak jauh dari rumah. Namun, untuk membeli bahan makanan fresh, seperti ayam, ikan, daging, buah, dan sayur, tentunya lebih enak jika dibeli tak lama sebelum akan diolah, yaitu setiap pagi. Untuk orang-orang yang sudah memiliki anak, jarak antara rumah dan sekolah anak juga penting. Para orang tua tentu tidak ingin anak mereka terlambat sampai di sekolah. Mereka juga mungkin tidak tega untuk membangunkan anak mereka sangat pagi hanya karena sekolahnya jauh dari rumah. 

6. Jarak antara rumah dengan akses angkutan umum 
Tidak semua orang punya dan mampu punya kendaraan pribadi (materi baru nih :P). Sehingga angkutan umum adalah pilihan terbaik untuk membantu aktifitasnya. Apalagi saya, yang termasuk malas dan "agak" penakut untuk mengendarai kendaraan sendiri (apapun kendaraannya), lebih memilih naik angkutan umum. Kenapa? Karena naik angkutan umum itu dijamin tidak nyasar (asal tahu trayeknya saja), lebih enak untuk mengamati keadaan di sepanjang jalan (ini sih kebiasaan saya saja suka mengamati sesuatu hal atau bahkan sekedar membaca tulisan-tulisan yang terlihat). Nah, akses untuk mendapatkan angkutan umum dari rumahnya tentu adalah hal yang patut dipertimbangkan. Saya pernah ke rumah salah seorang kenalan yang berada di komplek mewah. Rumah dia itu terletak di ujung komplek tersebut. Oke, saya maklum jika mungkin tidak ada angkutan umum di dalam komplek rumahnya. Tapi ini lebih parah dari itu, tidak angkutan umum yang lewat di depan gerbang komplek rumahnya. Sejak saat itu, saya kapok main ke rumahnya, kecuali jika naik taxi atau diantar jemput ke tempat yang ada akses angkutan umumnya. :P 

7. Luas tanah dengan jumlah orang yang akan menempati 
Poin ini sebenarnya untuk mendukung poin kenyamanan yang ada di poin 4. Jika luas tanah / bangunan tidak mencukupi untuk orang-orang yang akan tinggal tentu tidak nyaman. Sebaliknya jika luas tanah / bangunan jauh melebihi kecukupan untuk jumlah orang yang akan menempati rumah tersebut, menurut saya akan mengurangi kehangatan keluarga yang saya bahas di poin 4. Beberapa orang bilang bahwa poin ini dapat "diakalin". Maksudnya adalah jika tanah / bangunannya kecil, sedangkan orang yang akan menempatinya lebih banyak, maka dapat dibangun bertingkat ke atas atau ke bawah menyesuaikan kebutuhan. Namun, ini akan memunculkan masalah baru. Untuk naik turun rumah bertingkat banyak tentu akan mengurangi kenyamanan tinggal di rumah tersebut. Hehehe... 

8. Apakah rawan bencana (kebakaran, banjir, gempa)? 
Setelah hidup selama lebih dari 20 tahun (jumlah aslinya rahasia, ya? :P), saya mengalami atau melihat banyak bencana yang terjadi di berbagai belahan dunia ini. Bencana memang bukan hal yang dapat disangka-sangka kapan waktunya dan terjadi di mana. Namun, kita sebagai manusia dapat melihat adanya potensi-potensi dari sebuah tempat mengalami sebuah bencana. Misalnya saja kebakaran. Suatu perumahan padat penduduk dengan ilmu wawasan dan kesadaran yang rendah dapat menyebabkan sering terjadinya kebakaran. Seringkali kebakaran terjadi hanya karena hal-hal yang dianggap sepele, seperti membuang puntung rokok (yang masih menyala, walau sedikit) sembarangan, menggunakan karburator gas yang kendor, selang gas yang bocor (halus), menaruh lilin sembarangan, membiarkan anak kecil bermain api tanpa penjagaan, dan lain sebagainya. Banjir pun demikian. Tak dapat dipungkiri, banjir yang sering terjadi di Indonesia (terutama Jakarta) sebagian besar alasannya adalah karena menumpuknya sampah di pembuangan air. 

9. Jalan menuju rumah dapat dilewati kendaraan (roda 2 dan roda 4) 
Pertimbangan yang satu ini sebenarnya tidak hanya difikirkan oleh orang-orang yang memiliki kendaraan pribadi, namun juga bagi yang tidak memiliki kendaraan pribadi. Mengapa? Alasan pertama adalah, tentunya akan lebih nyaman jika kita tidak harus berjalan di gang yang sempit untuk dapat pulang dan pergi ke dan dari rumah kita. Alasan selanjutnya, agar adanya akses untuk angkutan umum melewati jalur rumah kita seperti yang saya inginkan di poin 6. Dan mungkin akan banyak alasan lainnya. 

10.Tanah yang ada dapat membangun garasi untuk kendaraan yang dimiliki (roda 2 dan roda 4) 
Hal ini penting bagi orang yang memiliki kendaraan pribadi agar keamanan kendaraannya lebih terjaga. Jika poin ini terpenuhi, maka juga akan membawa kenyamanan bagi orang yang tinggal di sekitar rumah kita maupun yang melewati rumah kita. Sering saya temui banyak sekali kendaraan (roda 2 ataupun roda 4) yang diparkir di depan sebuah rumah. Hal itu membuat jalan / gang rumah tersebut menjadi sulit dilalui. 


Pertimbangan-pertimbangan saya di atas sebenarnya sudah tertulis di FB saya. Cukup banyak respon yang ditulis oleh beberapa teman. Ada yang sagalau saya dalam keinginannya memiliki rumah. Ada yang menyarankan untuk nekat membeli dengan modal dan pertimbangan seadanya. Ada yang memberikan beberapa solusi agar dapat memiliki rumah yang cukup layak dan dapat memenuhi sebagian besar (jika tidak dapat semua) pertimbangan-pertimbangan di atas. Doain saya, ya. Agar dapat memiliki rumah sendiri yang memenuhi pertimbangan-pertimbangan di atas. Aamiin.

Jadi, apa pertimbangan kalian dalam mewujudkan keinginan memiliki rumah sendiri?

Friday, November 16, 2012

Sekali lagi, ulang tahun penuh kebahagiaan.. Alhamdulillah..

Alhamdulillah.. Sudah 28 tahun.. ^_^

Coba saya ingat-ingat dulu pencapaian sampai saat ini :
1. Sudah lulus sekolah sampai jenjang S1;
2. Sudah bekerja di bidang yang sesuai dengan background kuliah;
3. Sudah memiliki penghasilan sendiri dan cukup layak sesuai dengan jenjang pendidikan dan skill;
4. Sudah memiliki suami yang insya Allah terbaik;
5. Sudah memiliki Syafiqah Rahmah;
6. Sudah bisa membahagiakan orang tua dengan mewujudkan keinginan mereka terhadap saya, sedikit demi sedikit;
7. Sudah dan masih memiliki banyak teman dan sahabat yang menyayangi saya;
8. Terpenting : masih hidup, sehat, dan insya Allah bermanfaat untuk sesama.

Hmm... yang saat ini masih diperjuangkan :
1. Mendampingi Ibas membiayai adik-adiknya hingga lulus kuliah;
2. Ingin menaikkan kemampuan diri dalam hal programming, bisa lewat sekolah lagi, workshop, course, dsb -> ingin Ibas juga seperti ini;
3. Ingin memiliki rumah sendiri yang sesuai dengan impian saya dan Ibas ( saya akan bahas disini );
4. Memiliki usaha yang saya impikan, berhubungan dengan IT, buku, wanita, keluarga;
5. Ingin meningkatkan kemampuan diri sendiri sebagai muslimah, termasuk memantapkan ibadah sehari-hari dan ibadah haji;
6. Ingin bisa masak setiap hari untuk anak dan suami -> Ibas pernah protes saya jadi jarang masak buat dia semenjak punya anak :P ;

Saat ini beberapa item di atas yang baru terpikirkan. Mungkin tahun depan bisa berubah atau nambah listnya. Hehehehe..
Catatan : penomoran di atas itu bukan berarti yang disebut belakang tidak lebih penting dari pada yang disebut duluan. Semua item di atas sama berartinya untuk saya. :)


^_^

Sunday, January 22, 2012

Tanggal VS Gedung VS Vendors

Jika sebagian besar calon pengantin harus menyerahkan penentuan tanggal kepada keputusan kedua keluarga besar, tidak demikian dengan kami. Alhamdulillah, kedua orang tua kami dan para sesepuh di atasnya tidak memaksakan sebuah tanggal yang biasanya mereka dapat dengan menghitung-hitung tanggal baik dari tanggal lahir kami berdua. Kedua orang tua kami sepakat bahwa insya Allah semua tanggal baik. Syarat yang mereka minta juga tak sulit, yaitu : hari Minggu. Sesuai dengan ajaran Islam, pada dasarnya mereka meminta sebaiknya pernikahan diadakan tak jauh setelah proses lamaran. Akan lebih baik jika diadakan tak jauh setelah hari Raya Idul Fitri. Namun, apa daya, selain karena uang tabungan kami berdua belum cukup :P, gedung di sekitar rumah saya pun sudah habis di-booked oleh calon pengantin yang lain.

Jika calon pengantin memutuskan untuk mengadakan acara pernikahan, akad dan resepsi, dengan menyewa tempat/gedung di luar rumah, maka perlu diingat bahwa gedung tersebut milik umum yang tentu saja ada peminat selain anda. Terlebih lagi, biasanya gedung tersebut hanya dapat disewakan pada akhir minggu, yang sering tidak match dengan "tanggal baik" yang biasanya jatuh pada hari kerja. Sehingga, adat "tanggal baik" cukup (baca : sangat) sulit diterapkan. Sebagian calon pengantin masa kini menyiasatinya dengan mengadakan akad dan resepsi di tempat yang terpisah. Akad diadakan di rumah pada "tanggal baik", kemudian mengadakan  resepsi di Gedung pada tanggal yang tersedia. Namun, perlu diperhatikan juga biaya yang akan dikeluarkan jika mengadakan 2 acara di 2 tempat dan waktu yang berbeda.Saya dan Ibas sepakat untuk mengadakan akad nikah dan resepsi di tempat dan hari yang sama dengan menyewa gedung karena beberapa pertimbangan. Alhamdulillah, keluarga mendukung keputusan kami.

Pencarian tanggal juga berbanding lurus dengan gedung dan para vendor. Mengapa demikian? Hubungan antara gedung dan tanggal telah saya jelaskan di atas. Beberapa gedung biasanya telah memiliki rekanan para pengisi acaranya, bahkan ada beberapa yang mewajibkan untuk menggunakan rekanan mereka. Ada juga beberapa gedung yang membebaskan calon pengantin menggunakan jasa rekanan mereka (tanpa charge tambahan) atau memilih vendor lain (dengan charge tambahan). Jadi hal ini perlu ditanyakan dulu kepada pihak gedung.

Kami memilih tanggal 12 Februari 2012, sebagai tanggal akad nikah dan resepsi kami. Banyak yang mengira kami ingin tanggal cantik (12022012), namun bukan itu alasan utama kami. Kebetulan, gedung yang kami inginkan kosong pada tanggal tersebut. Kami menjatuhkan pilihan kepada Gedung Sasana Amal Bakti milik Kementrian Agama Republik Indonesia yang berada di Jl. Lapangan Banteng, Jakarta Pusat. Alasannya sederhana : lokasi tak jauh dari rumah saya, tanggal kosong yang tersedia tak jauh dari rencana kami, dan pastinya harga terjangkau dengan budget kami. :) Mengapa memilih lokasi yang tak jauh dari rumah saya? Pada saat akad nikah, pastinya calon mempelai wanita yang membutuhkan banyak waktu untuk dirias. Setelah saya bertanya kepada beberapa sumber, dibutuhkan tak kurang dari 3 jam untuk merias calon mempelai wanita hingga selesai. Bisa dibayangkan, jika akad nikah dilakukan pada jam 8 atau 9 pagi, berarti jam 5 atau 6, saya sudah harus tiba di lokasi. Jika lokasinya jauh dari rumah saya, masa saya harus menginap di lokasi? Hehehehe...

Friday, January 20, 2012

KUA atau Rumah atau Gedung?

Lokasi acara memang salah satu hal terpenting saat memutuskan untuk menikah, selain tanggal tentunya. Sebelum menentukan atau mencari lokasi, kita harus menentukan dulu apakah hanya mengadakan akad nikah atau dilanjutkan dengan resepsi.

KUA
Kantor Urusan Agama dapat menjadi pilihan lokasi untuk akad. Ada beberapa alasan untuk memilih KUA sebagai tempat berlangsungnya akad nikah :
- Harga administrasi pernikahan dan honor penghulu lebih murah daripada akad nikah dilakukan di luar KUA (di rumah atau gedung)
- Calon Pengantin tidak perlu menyediakan ruangan, meja, kursi, microfon, sound, dan lain sebagainya, karena di KUA sudah disediakan. Kita tinggal datang berpakaian rapih dan membawa keperluan pernikahan (mempelai pria, mempelai wanita, wali nikah, saksi nikah, mahar)
- Calon Pengantin juga dapat membawa beberapa orang keluarga dan kerabat, karena KUA akan menyediakan ruangan Serbaguna untuk akad nikah beserta beberapa kursi. Tapi sepanjang pengetahuan saya, kursi yang disediakan oleh KUA biasanya tak lebih untuk 50 orang.

Rumah
Biasanya calon pengantin mengadakan akad nikah dan resepsi di rumah, karena beberapa alasan berikut :
- Calon pengantin mengadakan akad nikah di rumah, lalu mengadakan resepsi di rumah, biasanya karena terbentur "tanggal baik", yaitu tanggal yang biasanya adalah hasil perhitungan sesepuh keluarga dari hari lahir kedua calon pengantin. "Tanggal baik" ini biasanya jatuh pada hari kerja (Senin - Jum'at), sedangkan teman-teman calon pengantin sulit hadir. Sehingga biasanya pada saat akad nikah, hanya mengundang keluarga dekat. Pada saat resepsi yang diadakan pada akhir minggu, baru mengundang kerabat dan teman-teman.
- Acara pernikahan (biasanya resepsi) yang diadakan di rumah, biasanya diadakan sepanjang hari, dari pagi hingga malam. Hal ini agar semua undangan dapat hadir pada waktu yang sesuai dengan kesediaan waktu mereka.

- Calon pengantin yang memutuskan mengadakan acara akad nikah di rumah, lalu resepsi di luar rumah, biasanya selain karena alasan poin pertama ("Tanggal baik"), juga karena rumahnya kurang terjangkau. Bisa karena ukuran rumah terlalu kecil, berada di gang kecil, atau jalan menuju rumah sulit terjangkau.

Gedung
Calon pengantin yang memutuskan untuk mengadakan akad nikah dan resepsi di luar rumah, biasanya karena alasan-alasan berikut :
- Ukuran rumah terlalu kecil untuk menampung tamu yang biasanya berjumlah ratusan.
- Rumah berada di kawasan padat penduduk dan atau di gang kecil
- Jalanan menuju rumah sulit terjangkau, bisa karena jauh dari jalan utama, tidak ada angkutan umum, atau kondisi jalan yang rusak.
- Mencari lokasi yang lebih dekat dengan sebagian besar rumah para tamu
- Mencari lokasi yang berada di antara rumah kedua calon pengantin
- Agar acara tidak berlangsung seharian, karena keterbatasan waktu dan tenaga.

Saya dan Ibas sepakat untuk mengadakan akad nikah dan resepsi di tempat dan hari yang sama di luar rumah. Berikut beberapa alasannya :
1. Kedua rumah orang tua kami masing berada di gang kecil dengan luas rumah yang tidak terlalu besar.
Kami ingin membuat para tamu dapat berada di tempat pernikahan kami selama acara berlangsung tanpa takut tidak mendapatkan space.
2. Keterbatasan waktu dan tenaga. Sebenarnya ini keinginan pribadi kami. Rasanya kami tak sanggup harus berpakaian adat selama seharian penuh, sekalipun jika acara di rumah biasanya 2 hingga 3 kali ganti baju. Terutama saya, yang berencana memakai sunting adat minang itu.
3. Sebenarnya ada usulan dari kedua orang tua kami untuk memisahkan acara akad nikah dan resepsi. Hal ini agar dapat memecah tamu menjadi 2 bagian. Namun kami menolak dengan alasan, memisahkan tempat dan waktu akad nikah dan resepsi akan memakan waktu, tenaga, dan biaya yang lebih besar. :)

Sebenarnya, memutuskan dimana tempat diadakannya acara pernikahan, dapat diputuskan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan. Hohoho.. It is getting closer, sodara-sodara.. ^_^

Wednesday, January 18, 2012

Check List


Setelah kami sepakat untuk menikah, kami mulai googling hal-hal yang perlu dipersiapkan. Berikut adalah hal-hal yang harus dipersiapkan secara garis besar :

1. Gedung Akad dan Resepsi
2. Catering Akad dan Resepsi
3. Tata rias dan busana Akad dan Resepsi
4. Pelaminan dan dekorasi Resepsi
5. Foto dan Video Akad dan Resepsi
6. MC Akad dan Resepsi
7. Hiburan dan Tari-tarian Resepsi
8. Undangan
9. Souvenir
10. Administrasi RT, RW, Kelurahan, KUA
11. Penghulu
12. Seserahan
13. Mahar / Mas Kawin (wajib)
14. Transportasi ketika hari H
15. Baju seragam keluarga (optional)

Let's hunting.. ^_^

Sunday, January 15, 2012

Lamar Melamar

Sebenarnya Ibas sudah melamar secara personal ketika awal kami dekat dan sudah meminta kepada orang tua saya. Jadi proses lamaran ini adalah sebagai perkenalan kedua keluarga yang baru pertama kali bertemu, sekaligus permintaan secara resmi dari keluarga Ibas untuk menjadikan saya mantu. :D Biasanya sih dalam lamaran ini dibicarakan hal-hal yang berhubungan dengan pernikahan, seperti tanggal, tempat, dan biaya. Tapi berhubung kedua pihak keluarga mempercayakan segala keputusan kepada kami berdua, jadi hari itu lebih banyak diisi dengan perkenalan antara kedua keluarga.

Berikut susunan acara lamaran itu :
1. Pembukaan acara oleh pembawa acara, yang saat itu adalah kakak saya.
2. Pihak keluarga pria mengutarakan maksud dan tujuan kedatangan rombongan keluarga pria yang diwakilkan oleh utusan yang sudah ditunjuk. Saat itu yang mewakilkan adalah adik laki-laki bapaknya Ibas.
3. Kemudian dari pihak keluarga wanita akan memberikan sambutan penerimaan sebagai tanda bahwa pihak keluarga menyambut baik rencana lamaran dari pihak pria. Saat itu yang mewakilkan adalah adik laki-laki tertua mama saya.
4. Perkenalan keluarga masing-masing, yang biasanya diawali oleh keluarga pihak pria baru kemudian keluarga pihak wanita.
5. Penyerahan hantaran oleh pihak pria secara simbolis.
6. Penyerahan balasan hantaran oleh pihak wanita secara simbolis.
7. Ibu dari calon mempelai pria memakaikan cincin kepada calon mempelai wanita
8. Penutupan oleh pembawa acara yang diteruskan dengan doa bersama, bertujuan agar segala sesuatu yang telah direncanakan dapat berjalan dengan lancar.
9 Acara ramah-tamah yang diisi dengan makan siang bersama yang sebelumnya telah disiapkan.

Hantaran
Sebenarnya saya tidak terlalu ingat detail hantaran lamaran yang dibawa oleh Ibas sekeluarga. Karena acara penyerahan hantaran dilakukan ketika saya masih 'disembunyikan' di dalam kamar. Ketika acara makan siang selesai pun, semua hantaran langsung dibagi menjadi beberapa bungkusan untuk dibagikan ke saudara dan tetangga. Hal yang saya ingat adalah semua hantaran itu merupakan makanan dan minuman, tidak ada barang pribadi. Nanti saya coba lihat di kumpulan foto pada saat acara lamaran ya, semoga adik saya memotret semua hantaran. :D

Percaya tau tidak, saya dan Ibas hampir tidak mengobrol selama acara berlangsung. Kami juga baru menyadari ketika acara sudah selesai bahwa kami terlalu fokus terhadap keberhasilan acara. Saya sendiri baru keluar dari kamar ketika acara hampir selesai, yaitu ketika ibunya Ibas akan memakaikan cincin. Pada saat makan bersama pun, Ibas menemani para bapak-bapak dari kedua keluarga dan saya menemani para ibu-ibu nya. Yang saya paling ingat adalah ketegangan kami berdua selama acara. Tangan saya mendadak dingin dan gemetar ketika akan dipakaikan cincin oleh Ibu nya Ibas. Ibas pun tak banyak bicara selama acara. hehehe.. Alhamdulillah, acara berlangsung lancar. Ready to the next step, go find vendors. B-)

Thursday, January 12, 2012

I am Getting Married

Kenapa Menikah Sekarang?
[X] usia sudah 'cukup'
[X] sudah bekerja
[X] sudah ada pasangan
[X] sudah disuruh orang tua

Ketika lulus kuliah, ditanya "Kapan kerja?". Sudah kerja, ditanya "Kapan nikah?". "Usia sudah cukup, pekerjaan sudah ada, pasangan sudah ada, nunggu apa lagi sih?". Orang tua saya, selayaknya orang tua lainnya, ingin anak-anaknya bahagia dengan pasangan hidupnya kelak. Mereka ingin kami, anak-anaknya, mendapatkan orang yang dapat meneruskan tanggung jawab mereka menjaga kami. Namun, mereka mempercayakan pilihan kepada kami.
Beberapa teman yang sudah mengenal saya sejak masih sekolah dan kuliah sering mempertanyakan kenapa saya agak "dingin" dengan beberapa lelaki yang mendekati saya. Bukan berarti orientasi biologis saya menolak lelaki. Ketika usia sudah mencapai seperempat abad, banyak yang bilang "Udah, jangan terlalu pemilih. Nanti malah g ada yang mau memilih.". Saya sungguh tidak bisa menjadi "jual murah" dengan tidak memilih. Saya ingin menikah sekali seumur hidup dengan orang yang bisa menjadi partner menjalani rumah tangga hingga maut memisahkan. Saya yakin banyak yang setuju dengan kalimat klise itu. Semua akan indah pada waktunya. Jadi, ketika saya beberapa kali menjalin hubungan dekat dengan lelaki, lalu kemudian berakhir, saya yakin memang sudah seharusnya begitu. Semua hal yang saya alami di kehidupan saya pasti membawa hikmah yang besar. 

Kenapa dengan dia?
Cinta karena Allah tidak selalu membutuhkan beragam kesamaan di antara kalian. Namun, yang terpenting adalah kesamaan prinsip dan tujuan, yaitu menggapai ridha Allah SWT.
Saya sendiri, bahkan juga dia, tidak menyangka bahwa kami akan menikah. Kami memang berteman sudah lama, tapi hanya sekedar kenal bahwa kami satu almamater, bahkan mungkin kuantitas obrolan kami dapat dihitung dengan jari. Ketika akhirnya kami memiliki kesempatan untuk dekat, sudah beberapa tahun setelah kami lulus. Saya selalu percaya bahwa jika hati ragu, maka jangan ambil keputusan itu. Saya selalu meminta agar Allah SWT yang menggerakkan hati saya untuk mengambil keputusan yang tepat dan terbaik untuk saya. Saat dia bilang ingin menjadikan saya istrinya, ada yang berbeda di hati saya. Saya yang selama ini takut dan penuh keraguan ketika ada lelaki yang melamar, mendadak yakin dan berani untuk mengangguk dan menjawab "Ya, aku bersedia". Padahal saat itu baru genap sebulan kedekatan kami. Teman-teman kami tidak ada yang percaya bahwa saya semudah itu 'ditaklukan'. :P Well, let's see about our difference. Saya wanita, dia pria. Saya kuning langsat, dia sawo matang. Saya cerewet, dia pendiam. Saya tipe yang banyak beraktifitas di pagi hari, sedangkan dia di malam hari. Saya planner, dia spontan. Saya tegas, dia pemaaf. Saya programmer, dia Network Engineer. Saya Scorpio, dia Leo. Dan masih banyak perbedaan lainnya. Bahkan ketika masih belajar di almamater yang sama, teman main kami pun berbeda. 

Lalu apa yang selanjutnya terjadi?
Kami sepakat hal pertama yang kami lakukan ketika berencana menikah adalah menabung. Hal itu kami lakukan bahkan sebelum mengatakan rencana ini kepada kedua orang tua masing-masing. Kami sadar, sesederhana apapun acara pernikahan kami kelak, pasti membutuhkan biaya. Jadi, seminggu setelah kami sepakat untuk menikah, kami membuka akun bank terpisah untuk menabung. Kenapa terpisah? Hanya untuk menjaga keharmonisan hubungan, mengingat kami belum menjadi suami istri. Jadi, jika ternyata rencana kami tidak sama dengan rencana Allah, tidak akan ada ganjalan di kemudian hari. Tapi tentunya kami berprasangka baik dan terus berdoa semoga rencana kami sejalan dengan rencana Allah SWT. Amin Ya Rabb.
Selama beberapa bulan selanjutnya kami mempersiapkan diri untuk mengatakan rencana kami terhadap kedua orang tua. Mengingat bahwa kami baru saja dekat, tentu orang tua juga perlu dipersiapkan untuk mendengar berita itu. :P Sekitar 4 bulan setelah jadian, kami berdua menghadap kedua orang tua untuk mengatakan rencana pernikahan ini. Deg-deg an nya jauh melebihi ketika akan menghadapi wawancara kerja. hehehe.. Tentunya banyak nasihat-nasihat yang diberikan oleh mereka, yang kami dengarkan dengan seksama. Intinya, mereka mempertanyakan kesiapan mental kami, menghadapi perbedaan di antara kami, menerima kelebihan dan kekurangan keluarga masing-masing. Dengan mengucapkan bismillah, kami berdua siap. B-)
Sebulan kemudian, terjadilah lamaran secara resmi. Hmm, maksudnya keluarga Ibas datang menemui keluarga saya melamar saya untuk anak mereka. Bagaimana kisahnya? Tunggu post selanjutnya. :)

You know what? Sampai sekarang, saya kadang masih kaget bahwa saya akan menikah. :D

Friday, December 30, 2011

Resolusi Tahun Baru

Saya ingin berbagi tentang makna tahun baru bagi saya. Saya mengalami Tahun Baru Hijriyah dan Tahun Baru Masehi, sebagai muslim dan warga negara Indonesia. Buat saya, Tahun Baru itu adalah moment untuk mengingatkan bahwa telah 1 tahun lagi saya diberikan kesempatan oleh Allah SWT dengan segala nikmat yang telah Ia berikan. Saya merenungi kembali apa saja yang telah saya lakukan selama 1 tahun kemarin. Apakah saya telah melakukan perbaikan terhadap diri dan ibadah saya? Apakah saya telah memberikan manfaat kepada orang lain? Apakah saya telah memperbaiki lisan agar tidak menyakiti orang lain, memperbaiki sikap agar tidak mendzalimi orang lain, memperbaiki pengetahuan agar tidak menyesatkan orang lain?

Setelah merenungi semua hal yang telah saya lakukan selama 1 tahun kemarin, hal yang pertama yang dilakukan adalah memohon ampun kepada Allah atas semua kekurangan dalam beribadah kepadaNya. Selanjutnya membuat daftar orang yang pernah saya  sakiti secara lisan atau sikap, agar ingat untuk meminta maaf kepada mereka. Karena sesungguhnya Allah tidak akan memaafkan kita sebelum orang yang kita dzalimi memaafkan kita. (Na'udzubillahi min dzalik).

Kemudian saya, sebagai planner :D, kembali membuat rencana. Rencana membuat saya selalu bersemangat menghadapi hari esok. Setelah saya sadari beberapa tahun yang lalu, rencana (yang menurut banyak orang dianggap resolusi) yang selalu saya buat pada awal tahun, terealisasi pada tahun tersebut. Yah, walau tidak semuanya sih. :P Saya ingat sebuah nasihat yang bagus.
"Jika kamu bermimpi jangan terus menarik selimut, tapi bangunlah lalu wujudkan mimpimu."
"Jangan menganggap remeh dirimu sehingga tidak berani memimpikan sesuatu yang besar."
Saya jadi ingin berbagi tentang beberapa rencana (resolusi) sejak beberapa tahun yang lalu.. Hmm.. kita mulai dari tahun 2006 saja ya, biar tidak kepanjangan artikelnya. :P

2006 - menyelesaikan pendidikan Sarjana dengan IPK 3. 
Walaupun tidak sesuai dengan target untuk selesai 3,5 tahun, alhamdulillah selesai di akhir tahun 2006 dengan IPK yang cukup bagus :) Waktu itu wisuda diadakan 2 hari setelah hari ulang tahun saya, hal itu merupakan kado ultah yang sangat berkesan untuk saya.
2007 - mendapatkan pekerjaan yang dapat membuat saya mengamalkan ilmu Teknik Informatika. 
Alhamdulillah, menjelang pertengahan tahun, saya mendapatkan pekerjaan sebagai programmer di salah satu perusahaan IT yang mengajarkan saya tidak hanya ilmu IT namun juga ilmu dalam menghadapi dunia kerja. Resolusi saya yang lain tahun itu adalah bisa berenang. Alhamdulillah dalam 1 bulan sudah bisa gaya katak.. Yah minimal saya tidak takut lagi tenggelam kalau di kolam renang. Dan uniknya lagi, saya yang dulu takut berada dekat kolam renang kemudian berubah menjadi addicted terhadap berenang.
2008 - dapat mengendarai motor. 
Pada akhir tahun itu alhamdulillah sudah bisa mengendarai motor. Hmm, walau hanya berani di sekitar komplek rumah saja. :P 
2009 - menambah wawasan dan networking berkaitan dengan bidang pekerjaan. 
Pada bulan Januari, saya terpilih menjadi salah satu pengurus MySQL Indonesia. Komunitas tersebut terdiri dari orang-orang yang menekuni bidang IT, baik mahasiswa maupun profesional, dari programming, networking, database, analis, dan lain sebagainya. 
2010 - Meningkatkan kemampuan diri dengan hijrah ke kantor lain.
Sempat menjadi pekerja lepas selama kurang lebih 1 bulan, karena sudah resign dari kantor sebelumnya dan belum mendapatkan pekerjaan baru, akhirnya saya diterima di sebuah perusahaan konsultan IT di daerah yang tak jauh dari rumah. Kantor lama dan kantor baru saya berada tak jauh dari rumah, dan saya sangat bersyukur untuk itu, karena tidak harus berangkat terlalu pagi dan sampai rumah terlalu malam. Alhamdulillah.
2011 - mendapatkan calon suami.
Tahun ini saya usia saya sudah menjelang 27 tahun. Untuk urusan cinta, saya memang tidak bisa merencanakan seperti layaknya rencana hidup yang lain. Saya tidak terlalu ngoyo untuk mencari pendamping hidup, karena saya percaya menikah dengan seseorang bukanlah hal yang bisa diputuskan dalam waktu singkat. Alhamdulillah Allah mendekatkan kami (saya dan calon suami) dengan cara-Nya.

Jadi apa resolusi tahun 2012?
 Insya Allah ingin menikah dan membangun keluarga baru. Saya sadar bahwa hidup berumahtangga tidak akan semudah ketika masih bersama orang tua. Tapi bismillah, semoga Allah SWT selalu menjaga hati kami agar dapat menjalankan amanah memiliki suami / istri dan (Insya Allahu minal Amin) keturunan yang sholeh sholehah. Amin ya Rabb..

Semangat... ^_^

Friday, December 4, 2009

Install MySQL di Linux - MYSQL INDONESIA conference #1

Intro : Apakah ada yang pernah mengalami gagal menginstall mysql?  (perasaan tinggal next-next doank) :P

Q : under linux atau windows neh bahasnya?
A : Kalau sudah masuk mysql console, platform apa saja sama saja.

Q : Apa bedanya instal di linux dan windows?
A : Sebenernya sih sama. Kalau di linux biasanya sudah bawaan distro masing-masing, hanya kadang perlakuannya agak berbeda. Untuk debian base bisa jalankan perintah : apt-get. Untuk redhat base, seperti fedora,centos,  bisa pake yum. Untuk unix atau bsd bisa pake perintah pkg_add atau install lewat ports. Kalau penggunaan Mysql di windows dan linux sama, port yang diopen untuk listen juga sama.

Q : Lalu, kalau sudah dijalankan perintah seperti di atas, apakah pasti jalan?
A : default standart nya jalan :D

Q : Soalnya dulu pernah coba install di ubuntu, ada masalah dengan mysql.sock. Jadi tidak bisa diakses oleh user di lain komputer. Dulu di *nix, harus buat file mysql.sock kosongan.
A : mysql.sock itu adalah file yang secara otomatis dibuat ketika mysql-server nya running. Untuk itu bisa di edit di my.cnf nya

Q : my.cnf ada terdpat di /etc/my.cnf
A : tempat file my.cnf tergantung distronya

Q : Jadi install mysql di beda distro beda caranya kah?
A : Ya. Kecuali mau mengompile sendiri menggunakan paket source .tar.gz

Q : Apa kelebihan kalau mengompile source sendiri?
A : Ketika kita mengompile sendiri kita bisa menentukan apa saja yang diload secara library nya.

Q : Kalau mengompile sendiri dari sisi security lebih bagus?
A : Sebetulnya tidak juga kalau di sisi security, hanya mungkin bisa sesuai keinginan. Ada kemungkinan lebih ringan karena library nya atau module yang diload hanya sedikit. Kalau dari sisi sekuriti nanti bisa diatur ketika manajemennya .

Q : Dari informasi yang pernah didapat, kalau mengompile source sendiri, kita dapat menambahkan plugin dari 3rd party, seperti XtraDB (modif-an InnoDB keluaran Percona). Apakah benar?
A : Benar.

Q : Tapi, ada kekurangannya kalau 'tidak standar' begitu. Belum tentu db kita dapat di-deploy sempurna di server lain. Misal: di server hosting
A : Itulah sebabnya compile itu untuk user yang sudah advance

Q : Kalau mengompile sendiri, biasanya kode dioptimasi sesuai dengan hardware yang ada. Apa benar ?
A : Sebenarnya ketika kita mengompile itu juga sudah disesuaikan dengan arsitektur server kita. Kita compile di mesin x86_64 atau mesin 64 bit, maka mysql nya sudah pasti untuk 64 bit. Begitu juga sebaliknya

Q : Kalau di detik.com sendiri, menggunakan mesin apa?
A : untuk database biasanya kita menggunakan 64 bit

Q : Apakah mungkin terjadi tidak compatibilitas dabatase karena beda mesin ? Misalkan bikin database di server hp, terus di pindahkan ke mesin sun, apakah akan oke aja?
A : Kalau secara arsitekture x86 trus platform sama, biasanya tidak masalah. Kalau sun saya tidak yakin. Tapi menurut saya tidak  recommended, kecuali memang secara mesin sama dan platform juga tentunya.

Q : Setahuku kompatibilitas itu "biasanya" ada di OS. Ada yang case sensitive, ada yg insensitive
A : Kalau untuk masalah ci dan cs tadi, (ci = case insensitive, cs = case sensitive), tambahkan baris ini di my.cnf : lower_case_table_names=1.
Jadi ketika di-porting ke linux tidak masalah. Linux emang OS yang paling sensitif sedunia . Jadi antara MySQL ama mysql itu beda.
Contoh : kalau kita membuat tabel di windows : tbl_Member --> dilarikan ke server linux --> semua query harus ngikutin besar-kecil-nya abjad
Linux itu case sensitive, unix varian juga.

Q : Yang termasuk unix varian?
A : Unix varian itu seperti freebsd, openbsd, netbsd. solaris itu juga unix

Q : Jadi, bagaimana cara install mysql di linux dan unix?
A : Untuk memudahkan install gunakan saja package manager ketika install di linux atau unix
Untuk install mysql di redhat base atau fedora kita install sesuai standart distro masing-masing.  Aku kasih clue nya saja. Untuk fedora  jalankan : yum install mysql-server. Untuk debian-base jalankan : apt-get install mysql-server.
Kalau ingin compile silahkan download sendiri package source, karena compile sendiri sangat complicated

sumber : http://groups.google.com/group/mysql-indonesia

Thursday, December 3, 2009

Kebiasaan Baru pada Saat sudah Bekerja

Hmm.. kebiasaan itu adalah sesuatu yang kita lakukan terus menerus di waktu tertentu. Yah.. paling tidak beberapa kali lah.. Berikut adalah kebiasaan saya pada saat saya sudah bekerja (a.k.a menjadi pegawai), dimana sebelumnya saya tidak seperti itu

1. Menggunakan Komputer
Kalau ini mah ibarat kata nafas di kantor. Lah wong pekerjaan saya membuat software untuk komputer, yah pakai komputer. Minimal di kantor saja, saya menatap layar komputer, memencet keyboard, dan klik sana sini dengan mouse, bisa menghabiskan waktu 8 jam. Bahkan pada saat makan siang, saya sering kali makan di depan komputer (bawa bekal, red).
Itu belum dihitung kalau lembur yah.. Belum lagi kalau beberapa pekerjaan kantor (seringnya sih bikin dokumentasi, laporan, de el el) saya bawa ke rumah, bisa tambah sekitar 2-3 jam lagi. Kalau dulu, menggunakan komputer hanya untuk mengerjakan tugas sekolah atau kuliah, itupun paling banyak total hanya 5 jam sehari.

2. ONLINE
...Siang malam ku selalu menatap layar terpaku untuk online online online online.....
hehehehehe.. itu penggalan lagu online dari Saykoji.. Semenjak bekerja, saya seperti addict dengan kegiatan satu itu. Bukan berarti sebelum saya resmi jadi pegawai, saya gak pernah online. Tapi kalau dulu itu online paling sering 1 minggu sekali, alasan utamanya sih karena males ke warnet. Lagipula, kalau dulu saya ke warnet sepertinya gak banyak yang saya lakukan dan cepat bosan. Semenjak sudah bekerja, kalau tidak online rasanya mati gaya. (ok, ini agak berlebihan.. :P) Dari mulai ngecek email di inbox dan folder-folder berisi email dari beberapa milis, cari-cari turorial, source, dsb, untuk kerjaan, update di situs jejaring sosial, browsing tentang berita, resep, film yang mau ditonton, buku yang mau dibeli, download lagu (ups :D), sampai surfing ngalor ngidul yang g jelas juntrungannya. Apalagi sekarang di rumah pun sudah bisa online, jadi tambah sering deh.. :P

3. Jarang Nonton TV
Akibat 2 kegiatan di atas, saya jadi jarang nonton tv. Berita-berita, baik berita beneran sampai berita selebritis B-), saya dapatkan dari online. Saya juga jadi jarang nonton sinteron atau film yang ditayangkan di tv. Tapi saya masih usahakan nonton tv pagi pada saat saya sarapan sebelum berangkat ke kantor. Kalau malam, sudah jarang sekali nonton tv, karena sering kali sampai rumah sudah cape dan ngantuk.

4. Minum kopi
Nah, ini dia kebiasaan yang bener2 baru terjadi pada saat saya sudah bekerja. Kalau dulu mah, saya hampir g pernah minum kopi. Sekarang, hampir tiap hari saya minum kopi. Entah hanya sugesti atau memang keadaannya begitu, setiap menjelang jam 3 sore saya merasa ngantuk sekali. Mungkin akibat perut yang masih kenyang makan siang atau memang cuacanya mendukung, atau karena menjelang waktu pulang kantor, atau mungkin cuma perasaan saya saja.. hehehehehe... Tapi kadang saya berusaha untuk tidak menuruti perasaan saya untuk minum kopi. Tapi sayang, banyak gagalnya usaha saya itu.. :( Papa saya yang mengetahui kebiasaan baru saya ini sering kali mengomeli dan menyuruh saya untuk berhenti minum kopi, karena dia takut saya jadi caffein addict.. maaf pa, belum berhasil berhenti nih..

5. Jarang ke tempat olahraga
Kalau dulu saya selalu rutin berolahraga. Tiap weekend (Sabtu dan Minggu) senam di klub senam bersama keluarga di daerah Monas. Waktu awal saya bekerja, saya masih cukup rutin berolahraga minimal 1 kali tiap minggu. Tapi memasuki tahun kedua saya bekerja, mulai deh jarang. Alesannya sih karena tiap weekend mulai banyak acara ketemu-ketemu teman lama dan baru. Kalau hari kerja, pulang kerja udah g sanggup deh. Tapi saya masih usahakan kok olahraga, walaupun tidak ke tempat olahraga. Misal, Kalau berangkat kantor, saya turun angkotnya tidak persis di depan kantor, jadi lumayan jalan sekitar 100 meter. Kalau pulang kantor, jalan dari kantor ke tempat angkot sekitar 300 meter, trus  dari tempat turun angkot ke tempat naik bis sekitar 50 meter, turun bis nya tidak tepat di depan rumah, jadi lumayan jalan sekitar 300 meter. Kalau di ruangan kantor pun, saya usahakan banyak minum, sehingga sering ke dispenser dan kamar mandi, lumayan khan jadi tidak duduk terus. :P Bahkan beberapa bulan belakangan ini, saya mengusahakan untuk jadwal ketemu-ketemu teman di weekend agak siang, jadi paginya saya sempat dan sanggup olahraga.

6. Ngemil
Ini juga kebiasaan yang membahayakan, terutama bagi berat badan :P Mungkin karena tidak banyak kegiatan (selain ngetak ngetik klak klik di depan komputer), bawaanya iseng aja mau ngunyah. :P Padahal kadang sebenarnya saya tidak terlalu lapar. Ketika tahun pertama saya bekerja sering banget ngemil, sampai baru sadar pas beberapa celana sudah sulit dikancingin :(( akhirnya saya bertindak (hihihihi.. menyesal itu selalu terjadi belakangan khan?) saya jadi lebih banyak minum air putih dari biasanya. Saya jadi ingat bagaimana saya dulu (waktu jaman es de) bisa kuat tidak makan seharian, hanya minum air putih. Sekarang sih g bisa begitu juga, kacau kalau tidak makan seharian (padahal tidak puasa), bisa g konsentrasi ke pekerjaan.

7. Memeriksa rekening tiap akhir bulan
Untuk pegawai gajian seperti saya, ini adalah rutinitas yang menyenangkan dan patut ditunggu :) Senang kalau sudah bertambah pada waktunya, kecewa kalau ternyata terlambat, dan sedih kalau nominalnya transfernya tidak naik :P Saya memang tidak punya dan (sepertinya) tidak berminat punya kartu kredit. Alasan utamanya sih karena takut berhutang dan masih cukup tahu diri dengan pemasukan saya yang tidak terlalu besar. Ok, karena saya tidak punya kartu kredit, jadi cukup senang tidak harus membayar cicilan hutang. Tapi terkadang masih juga suka kepleset untuk mengatur pengeluarannya. Saya termasuk orang yang tidak addict belanja, tapi kalau untuk urusan buku ternyata masih suka kalap. Alhamdulillah, sekarang sudah lebih jarang kepelesetnya.

Hmm.. apalagi yah? Rasanya itu list kebiasaan setelah sudah bekerja yang saya sadari. Mungkin nanti kalau saya menemukan kebiasaan baru, saya ceritakan lagi.. :)
Jadi, apa kebiasaan anda?

Thursday, March 12, 2009

Di luar rencana seorang planner


Saya akui bahwa saya seorang planner dan ini saya sadari ketika beranjak remaja. Dari kecil dulu, semua yang saya lakukan sebagian besar sudah direncanakan sebelumnya. Mungkin juga sebagian karena didikan orang tua saya yang mengharuskan bangun pagi jam sekian agar tidak telat sekolah, jam sekian pulang sekolah, jam sekian makan siang, jam sekian tidur siang, jam sekian harus sudah bangun dan mandi sore karena ada sekolah madrasah malam harinya, dan seterusnya. Perencanaan itu mau g mau membekas dan jadi sebagian dari jati diri saya. Dari kecil saya dan kakak saya (waktu itu adik saya belum lahir) suka diajak bepergian oleh orang tua. Walaupun hanya keluar makan malam di malam minggu atau pergi ke ancol sebulan sekali. Bepergian itu juga kadang saya lakukan bersama teman sekolah. Setiap akan bepergian, saya selalu mencamkan rencana tersebut di otak saya dan akan melakukan persiapan beberapa hari sebelumnya. Padahal sih mama yang akan mempersiapkan segala sesuatunya seperti bekal makanan ataupun pakaian, karena saya masih kecil. Tapi biasanya saya juga harus mempersiapkan bawaan sendiri, karena masih kecil yah..yang dipersiapkan paling makanan kecil seperti chiki, wafer, dan lain sebagainya. ;)) Ketika beranjak remaja, saya mulai terbiasa mempersiapkan segala sesuatunya sendiri, terlebih ketika saya masuk smp islam dengan fasilitas asrama.

Dalam benak saya jika semua sudah dipersiapkan dengan baik sebelumnya akan membuat semuanya berjalan dengan baik. Tapi ada akibat negatif dari sifat saya ini. Saya jadi cenderung perfeksionis. Saya jadi gusar (a.k.a. BT) kalau yang terjadi tidak seperti yang saya rencanakan. Saya juga jadi suka memaksa orang lain untuk mengikuti rencana yang saya buat dan kurang percaya untuk membagi tugas ke orang lain. Apalagi kalau ternyata rencana orang lain (yang tidak sama dengan rencana saya) tidak berjalan dengan baik, saya jadi cenderung menyalahkan si empunya rencana. Tapi pengalaman hidup benar-benar mengajarkan hal ini dan sedikit demi sedikit merubah saya ke arah yang lebih baik (amin).

Lulus SD saya sudah diterima di smp yang 99% temen sd saya diterima juga di sana. Tapi orang tua saya memiliki rencana lain dan memasukkan saya ke smp islam berasrama di daerah bekasi. Saat itu karena masih kecil saya nurut saja (karena belum bisa memilih). Tapi di smp islam itu saya belajar bagaimana berinteraksi dengan orang lain selama 24 jam. Saya dilatih untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan, peka dengan sekitar, mengalah, tidak egois, tidak pelit, bersikap empati, mengerjakan pekerjaan rumah tangga sendiri (mencuci dan menyetrika baju sendiri, mencuci piring sendiri, merapikan tempat tidur sendiri, dsb), cara bicara yang baik kepada orang yang telah mendzolimi kita, taat pada peraturan, dan belajar menutup aurat dengan baik.

Lulus smp saya mulai tahu apa yang saya inginkan, jadi saya ingin masuk sma dimana banyak teman-teman sd saya. Perbedaan standar nilai antara Bekasi dan Jakarta membuat saya gagal masuk ke sma tersebut. Tapi di sma itu, saya belajar untuk tidak memaksakan kehendak pada orang lain, tidak menyembunyikan sesuatu yang harusnya dibagi bersama teman, berinteraksi dengan lawan jenis yang sebaya (karena smp saya khusus perempuan) dengan baik, peka dengan keadaan teman, ikhlas melepaskan yang bukan untuk kita, berkompetisi dengan sehat, berbicara di depan publik dengan baik, debat publik, mengorganisasikan keuangan dengan baik, bersikap tegas, berteman dengan bermacam-macam sifat dan latar belakang, dan belajar memikirkan masa depan.

Lulus sma, saya sebenarnya belum bisa memastikan ingin jadi apa saya nantinya. Masuk fakultas kedokteran adalah keinginan orang tua saya yang kemudian menjadi keinginan saya juga. Saya menyanggupinya karena saya suka sekali pelajaran biologi dan sains lainnya (fisika dan matematika). Kalau keinginan hati sih sebenernya saya suka sekali masak, tapi niat untuk melanjutkan kuliah masak-masak kurang disetujui oleh keluarga. Menurut mereka masak itu bisa ditekuni di luar bangku kuliah, istilah kata kalau mau jadi tukang masak g usah kuliah tinggi-tinggi :P. Akhirnya saya ikut spmb dengan pilihan kedokteran. Saya pun mengikuti test masuk fakultas kedokteran di beberapa perguruan tinggi swasta di Jakarta. Tapi semua itu gagal, hanya 1 yang keterima di bangku cadangan, namun dapat dipastikan orang tua saya tidak mampu membayar biayanya (cadangan jauh lebih mahal dari non cadangan). Akhirnya saya sempat tidak semangat untuk kuliah, karena selama itu yang ada di otak saya hanya kedokteran. Tapi orang tua saya tidak membiarkannya. Dulu ketika masih sma, ada beberapa universitas promosi ke sekolah dengan mengadakan tes masuk gratis di sekolah. Waktu itu sih saya ikutan karena iseng aja. :) Dari beberapa ada 3 universitas yang berhasil saya masuki. Tapi yang dua diantaranya saat itu sudah lewat tanggal pendaftaran ulangnya. Satu-satunya pilihan adalah STT-PLN fakultas teknik jurusan teknik elektro.

Awalnya sih saya sempat ragu, karena jurusan yang berimage "keras" (95% mahasiswanya adalah laki-laki) dan tempatnya yang jauh (di daerah cengkareng jakarta barat). Tapi setelah saya menanyakan pada Allah SWT, saya pun memantapkan pilihan. Alhamdulillah diberikan kemudahan karena ternyata boleh pindah jurusan. Saya memilih jurusan Teknik Informatika karena sudah tertarik dengan "komputer" sejak sma tapi waktu itu tidak kepikiran untuk mendalaminya. Setelah menjalani kuliah di tahun pertama, saya menemukan hal yang membuat saya akan betah di jurusan itu, mata kuliah analisa pemrograman. :) Kesukaan saya terhadap matematika membuat saya bertahan bahkan mempermudah saya mendapatkan nilai yang cukup bagus di bangku kuliah, karena lebih dari 60% mata kuliahnya berhubungan dengan matematika.

Lulus dari bangku kuliah, saya sempat menjadi pengacara (a.k.a. pengangguran banyak acara :P). Saat itulah saya menyalurkan hasrat masak-masak untuk dijual di sekolah adik saya. Hasilnya lumayan untuk menambah uang jajan saya dan adik saya. Setelah beberapa bulan menganggur, alhamdulillah saya mendapatkan pekerjaan impian saya sejak bertemu dengan mata kuliah analisa pemrograman itu, seorang programmer.

Sejak sma saya belajar untuk memikirkan masa depan, mulai dari pendidikan selanjutnya, pekerjaan, maupun pasangan hidup. Tapi saya baru benar-benar memikirkan tentang pasangan hidup saya kelak ketika saya duduk di bangku kuliah. Entah kenapa, mungkin baru di usia segitu, pikiran saya baru terbuka bahwa saya juga ingin membuat keluarga sendiri lepas dari kedua orang tua. Saya yang memang tidak jago untuk urusan begini selalu mengandalkan hati yang akan digetarkan oleh Allah SWT jika bertemu dengan pilihanNYa. Beberapa kali rencana saya untuk hal ini pun gagal. :D Sampai sekarang pun (sepertinya) belum benar-benar terbuka jalan untuk itu, tapi saya tidak berhenti berusaha membuka jalan saya sendiri mencari orang yang telah disediakan oleh Allah. Siapapun dia, saya cuma bisa berdoa semoga saya bisa menerima dia apa adanya dan sebaliknya, dan dapat membahagiakan kedua orang tua kami. Kapanpun dia datang, semoga dia datang di waktu yang tepat. :)

Banyak kejadian dalam hidup saya yang melenceng atau malah sama sekali berbeda dari rencana saya. Tapi saya selalu menemukan hal baik setelahnya. Saya percaya Allah Maha Baik sama saya. Kegagalan-kegagalan rencana saya membuat saya belajar untuk :
1. Tidak berharap 100% pada rencana yang saya buat
2. Selalu memiliki rencana B,C, sampai Z :)
3. Ikhlas ketika yang terjadi tidak seperti yang saya inginkan
4. Selalu ada hal baik yang saya dapatkan setelah kegagalan itu
5. Tidak over perfeksionis
6. Lebih percaya terhadap orang lain
7. Melobby (bukan memaksa) orang lain terhadap rencana saya
8. Menerima masukan dari rencana orang lain
9. Mengendalikan emosi (marah,senang,sedih,kecewa)

Saya adalah manusia biasa yang tentu sedih ketika sesuatu terjadi tidak seperti yang saya inginkan. Saya juga manusia biasa yang memiliki rencana dalam hidup saya. Saya merasa lebih hidup dengan adanya rencana karena jadi tahu kenapa harus bangun pagi esok hari.

Rencana besar dalam hidup saya saat ini adalah :
1. pekerjaan yang hasilnya dapat membantu keuangan keluarga (sebagai orang gajian dan insya allah sebagai wirausahawati) dan buat tabungan masa depan saya pribadi..
2. melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, mudah-mudahan ini juga bisa jadi tabungan masa depan saya..
3. mencari pasangan hidup yang baik dan diridhoi Allah SWT, mudah-mudahan ini juga buat tabungan masa depan saya..
Sekali lagi ini baru rencana dan saya sedang berusaha mempersiapkan semuanya. Selebihnya saya cuma bisa berdoa semoga Allah membukakan jalan yang baik untuk saya dan rencana-rencana saya. Amin

Friday, October 10, 2008

Pisau Para Programmer

Siang ini saya membaca arsip di milis delphi. Saya menemukan cuplikan kata-kata yang menarik dari suatu topik yang didiskusikan. Topik itu sebenarnya topik yang general, yaitu "masa depan pemrograman". Cukup banyak juga anggota milis yang menanggapinya. Opini mereka pun beragam, mulai dari memuji-muji kelebihan delphi (ya iya lah, ini khan milis delphi), ada juga yang mengatakan bahasa pemrograman sebelah lebih bagus (salah masuk milis tuh orang :P), ada juga yang menanggapinya dengan bijak. Dari semua tanggapan, ada 1 yang cukup menarik buat saya.

Bahasa pemrograman tuh kayak pisau, cuma alat untuk mencapai tujuan tertentu, yaitu memotong sesuatu. Kalo dah pernah pake pisau, pasti kalo ganti pisau harusnya gak masalah banyak, walaupun mungkin perlu penyesuaian sedikit. Dan seperti pisau juga, bahasa pemrograman banyak macamnya, satu cocok untuk motong daging, satu cocok untuk motong tulang, yang laen cocok untuk motong sayur.

Jadi buat saya, kita programmer ya jadi orang yang ngontrol pisau, bukan orang yang dikontrol jenis pisau :D :D :D

depok();
------------ --------- ---
Denny Depok
http://denny. klorofil. org
http://dennydepok. blogspot. com


Buat saya yang masih junior programmer yang ecek-ecek :D, merasa tertampar. Bagaimana tidak? Saya merasa kecil karena hanya tau dan bisa sedikit bahasa pemrograman. Saya merasa bahasa pemrograman yang saya bisa kurang "high class" di dunia kerja. Apalagi saya merasa tidak memiliki keahlian bahasa pemrograman tertentu. Tapi kutipan di atas membuat saya sadar, kalau pilihan ada di tangan saya. Saya bisa memilih mempelajari banyak bahasa pemrograman agar dapat bekerja sebagai programmer apa saja, atau memilih untuk mendalami 1 atau 2 di antaranya agar dapat dicari oleh perusahaan karena memiliki keahlian yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain.

Semangat! I like this job :)

n_n

Saturday, September 6, 2008

Pertama kali


Hmm..Pertama kalinya nih nge-blog lwt hp :) memang yg pertama kali itu selalu unik.
Kemarin juga pertama kali buka puasa di luar rumah selama 5 hari pertama puasa.Pertama kalinya juga survey untuk acara buka puasa. Kemarin aku janjian sama cindy,salah 1 teman sd,untuk buka bersama di atrium senen,sekalian survey tempat untuk bukber teman2 sd.Itu jg pertama kaliny kami jalan bareng.
Tapi sampai pulang pun, kami belum bisa memutuskan tempat yang akan dipakai untuk acara bukber sd nanti.Hehehe..At least,kami sudah punya kandidatnya. O iy,sebenarny aku ajak arin utk gabung. Tapi dia berhalangan hadir.
Udah ah,aku mau baca untuk pertama kalinya novel dua kutub cinta karangan Mira W, yang pertama kalinya aku beli kemarin d gunung agung atrium. Novel itu juga novel Mira W yang pertama yang gambar sampulnya bukan gambar bunga, setahuku y..
Aku mau tidur,yang untuk pertama kalinya, tidak harus bangun buru2, because it's Saturday! Tapi nanti jam 8 atau 9an aku mau k R.S. Tarakan untuk pertama kalinya dan mau menjalani tes bebas narkoba untuk pertama kalinya untuk melengkapi syarat dokumen tes asdp besok. Ini tes BUMN pertama yang pernah aku ikuti yang diadain hari Minggu di gedung ppm Manajemen di Menteng, yang besok akan menjadi pertama kalinya aku masuk kesana.

n_n

Friday, August 22, 2008

Pupus

hmm...

Saya bukan mau membahas lagunya Dewa.. Juga bukan mau berniat melankolis :D
hanya sekedar curhat.. biar hati sedikit lega...

Iya.. saya merasakan pupus pada 3 hal dalam waktu yang hampir bersamaan

1. pekerjaan
Saya telah beberapa kali gagal untuk pindah kerja. Bukannya saya tidak bersyukur atas pekerjaan yang selama ini saya jalani. Saya merasa inilah waktunya saya move on, untuk berkembang lebih baik lagi. Tapi puncak kekecewaan saya adalah ketika saya gagal pada tahap 2 rekrutment PLN bulan ini.

2. cita-cita
Seperti yang saya jelaskan pada postingan sebelumnya, bahwa saya gagal untuk ke3 kalinya menaikkan nilai TOEFL ITP saya. Sehingga 90 % bisa dipastikan saya tidak bisa mengajukan beasiswa ADS, karena salah 1 syaratnya adalah melampirkan hasil TOEFL >=500. Sedangkan deadline pengiriman dokumen tinggal 2 minggu lagi. Padahal dokumen lain sudah siap, kecuali TOEFL dengan nilai >= 500. Padahal saya sudah persiapkan untuk melamar beasiswa ini selama hampir 1,5 tahun. Tapi ternyata persiapan saya masih kurang matang, dan perhitungan saya meleset.

3. cinta
Hahahhaha.. kalau yang ini mah terlalu pribadi sepertinya, untuk dibuka untuk umum. Karena menyangkut orang lain. :D Tapi sudahlah.. mudah-mudahan lain waktu bisa saya bagi ceritanya disini :)

Yang jelas, postingan saya ini bukan berarti saya tidak bersyukur atas apa yang sudah saya capai dan miliki. Hanya ingin mencurahkan isi hati supaya lebih lega. Supaya lebih bisa menerima kenyataan yang tidak sesuai dengan rencana. Supaya lebih semangat lagi merancang rencana-rencana baru dan melaksanakannya serta bercermin pada pengalaman sebelumnya.

n_n

Friday, July 25, 2008

rencana pada asa

semua bicara tentang cinta
cinta yang mereka punya

bukan aku sudah menyerah pada asa
juga bukan rasa ingin sunyi
tapi hati tak sanggup memilih
otak pun penuh dengan rencana
hingga rasa pun menjadi prioritas kedua

Ya Allah ridhoilah rencanaku
inginku menggapai mimpi
yang kusematkan jauh di seberang benua

aku yakin cinta itu akan datang
pada waktu yang entah kapan
pada orang yang entah siapa

otakku sedang lelah
pada semua rencanaku sendiri
banyak yang harus kulakukan pada saat bersamaan
Ya Allah kuatkanlah diriku


n_n