Showing posts with label keluarga. Show all posts
Showing posts with label keluarga. Show all posts

Thursday, November 12, 2015

Kapan mau punya anak lagi?

Belakangan ini saya mengalami yang biasa seorang ibu beranak 1 alami. 
Orang-orang di sekeliling mulai bertanya : 
"Afiqah umurnya berapa?" 
"Wah, mau 3 tahun ya?"
"Afiqah belum punya adik?"
"Afiqah udah cocok tuh buat punya Adik." 
"Kenapa nunda-nunda, sih?"
"Umur kamu jalan terus, loh. Emang mau punya anak di usia lanjut?"
dst.. dst...

Sudah siapkah punya anak lagi? Justru pertanyaan itu yang saya tanyakan pada diri saya, bahkan sebelum ada pertanyaan-pertanyaan di atas dari orang lain. Saya dan Ibas selalu sepakat soal jumlah dan kapan mau punya anak, alhamdulillah. Dulu menjelang menikah, kami sepakat tidak berusaha menunda punya anak. Alhamdulillah, Allah SWT langsung mempercayakan sebulan setelah kami menikah dan Afiqah lahir 38 minggu kemudian. :) Kehamilan pertama saya alhamdulillah tidak banyak drama, selain adanya miom jinak. Rasa mual saya rasakan hanya sebulan saat masuk minggu ke 8 - 12. Sempat khawatir ketika pada minggu ke 13, dokter menemukan adanya miom di dalam rahim saya. Kekhawatiran bertambah ketika bulan berikut miom membesar dengan cukup cepat. Namun, setelah mendapat dokter yang tepat (karena diagnosa dan saran-sarannya yang menenangkan), kehamilan pertama saya sangat menyenangkan. Kelahiran Afiqah pun tidak banyak drama. Karena adanya miom yang sangat besar (diameter 11 cm, berat 3 kg), keputusan caesar memang sudah kami persiapkan. Kelahiran Afiqah membawa kebahagiaan yang tak terkira buat saya dan Ibas. Intinya adalah saya tidak trauma untuk hamil dan melahirkan lagi, kalau tidak mengingat mahalnya biaya kedua operasi (bayi dan miom) saat itu. :P

"Semua anak khan punya rezeki masing-masing."

Betul sekali. Kami juga sangat percaya hal itu. Mana mungkin kami berani tidak percaya akan rezeki Allah SWT. Tapi kami juga percaya bahwa "tidak akan berubah suatu kaum sebelum mereka merubah diri mereka sendiri". Artinya kami juga cukup tahu diri untuk mengukur kemampuan kami. Buat kami seorang atau berapa orang anak, amanah yang luar biasa besar tanggung jawabnya. Kami tidak mau memberi rezeki seadanya bahkan kurang pada anak (-anak) kami. Rasanya kami akan sangat berdosa kalau membuat mereka kekurangan. Seorang anak tidak dapat memilih orang tua seperti apa, namun kami bisa memilih mau menjadi orang tua seperti apa untuk anak kami.

"Afiqah sudah 3 tahun, sudah cocok lah buat punya adik."

Alhamdulillah umur Afiqah sudah 3 tahun. Pada umumnya memang sudah cukup jarak usianya jika adiknya direncanakan lahir tahun depan. Namun, kami (khususnya saya) merasa belum cukup waktu saya menimang-nimang Afiqah. Waktu saya sehari-hari yang dipotong untuk bekerja di luar rumah, rasanya belum cukup banyak untuk Afiqah. Walaupun ketika weekend dan hari libur tiba, semua waktu saya untuk Afiqah dan keluarga. Saya merasa masih perlu waktu lebih banyak lagi untuk dapat lebih lengket dengan Afiqah, sebelum adiknya lahir. Karena saya juga paham bahwa ketika adiknya lahir, perhatian saya harus terbagi. Saya percaya kasih sayang seorang ibu akan sama rata untuk semua anak-anaknya. Namun, saya juga realistis, tentunya waktu akan lebih banyak ke anak yang lebih kecil karena belum mampu melakukan apapun sendiri. Harapan saya ketika Afiqah sudah cukup siap mental saat punya adik, dia akan lebih pengertian, atau bahkan mungkin sudah dapat membantu saya. Sehingga saya tidak terlalu lelah jasmani dan rohani yang dapat membuat saya khilaf berkata dengan nada tinggi ke Afiqah. Sekali lagi, saya menyadari kemampuan saya. Rasanya tidak sanggup bila nanti saya sedang mengurus adiknya, lalu Afiqah merengek minta diperhatikan juga. Tidak sanggup hati melihat Afiqah seolah merasa 'disingkirkan' dan saya akan merasa dilema.

"Umur kamu jalan terus, loh. Emang mau pas umur 40 tahun masih kejar-kejar anak balita?"

Kami (terutama saya) sangat paham tentang keadaan ini. Secara biologis, hamil dan melahirkan pada saat usia di atas 40 tahun memang lebih beresiko. Allah SWT Maha Penyayang. Saya yakin, umur berapa-pun nantinya saya memiliki anak, Allah pasti akan menjaga saya. Rencana kami memang akan kembali memiliki anak sebelum usia 40 tahun, semoga rencana Allah sama dengan kami. Amiin.

"Tambah anak sekarang saja. Mumpung kamu masih kuat cari duitnya dan mama kamu masih cukup kuat untuk jaga anak kamu".

Subhanallah memang kalau mendengar komentar yang ini. Seolah-olah saya sengaja meminta mama saya khusus untuk menjaga Afiqah. Demi Allah, itu tidak benar. Saat ini kalau boleh jujur, saya terpaksa meminta bantuan mama menjaga Afiqah. Kami sekeluarga sepakat untuk tidak mempercayakan Afiqah 100% kepada baby sitter.

Jadi, tanpa kalian tanya pun, saya sudah bertanya kok kepada diri saya kapan siap punya anak lagi.
Allah yang Maha Tahu apa yang baik untuk umatnya. Saya yakin. Bismillaahiraahmanirrahiim.

^_^

Sunday, July 21, 2013

Untuk memiliki rumah itu banyak pertimbangannya, ya?

Bermula dari melihat status salah satu teman yang menawarkan untuk membeli rumah melalui salah satu developer, saya jadi teringat akan keinginan saya (yang kini menjadi keinginan bersama Ibas) untuk memiliki paling tidak sebuah rumah sendiri. Rumah sendiri yang saya maksudkan di sini adalah rumah yang layak, bukan hanya sekedar bangunan dari bahan seadanya, memiliki kekuatan hukum yang kuat, dan atas nama saya. Saat ini memang kami sudah tinggal terpisah dari orang tua kami, namun masih mengontrak rumah orang lain. Karena hal itu adalah pilihan terbaik kami saat ini. Namun, secara realistis ternyata untuk dapat memiliki rumah yang diinginkan tidak semudah yang saya fikirkan. Berikut beberapa pertimbangan yang menurut saya lumayan (kalau tidak dapat dibilang sangat) mempengaruhi realisasi keinginan tersebut.


1. Harga tanah (dan rumah) dan kemampuan finansial 
Harga tanah dan rumah semakin hari akan semakin naik. Mengapa begitu? Kalau menurut analisa saya sebagai orang awam, itu karena semakin banyaknya permintaan rumah sebanding lurus dengan pertambahan jumlah penduduk di Jakarta ini. Namun keinginan memiliki rumah akan sangat sulit direalisasikan jika kemampuan finansial tidak memadai. Kemampuan finansial didapat dari pemasukan hasil wirausaha maupun gaji sebagai pegawai yang HARUS lebih besar daripada pengeluaran. Kemampuan finansial ini seolah berkejar-kejaran dengan harga rumah itu sendiri. Jika kita tidak berlari lebih kencang, atau meminta bantuan lain untuk mengejar, maka kita tidak akan dapat menangkap harga rumah yang kita inginkan. 

2. Jarak antara rumah dengan tempat kerja 
Untuk para pegawai (seperti yang saya jalani saat ini) yang bekerja di Jakarta, pertimbangan ini cukup penting. Mengapa? Waktu kerja umumnya menghabiskan waktu 9 jam sehari, yaitu dari pukul 8 pagi sampai dengan pukul 17 sore. Waktu tempuh dari rumah ke kantor dan dari kantor ke rumah yang wajar menurut saya tidak lebih dari 1 jam. Sehingga, kita harus berangkat paling tidak jam 7 pagi dari rumah dan akan sampai rumah jam 18 sore. Untuk mencapai suatu tempat di jakarta dari jarak yang dekat saja dapat menghabiskan waktu yang banyak karena macetnya, maka dapat dibayangkan jika jarak rumah cukup jauh dari kantor. Sangat mungkin terjadi kita harus berangkat dari pukul 5 pagi dan akan sampai di rumah pukul 20 malam. Jadi jam berapa kita harus bangun dan pergi tidur? Hanya berapa jam yang dapat kita nikmati untuk tidur ketika hari kerja? Hanya berapa jam yang dapat kita nikmati untuk bercengkerama dengan orang yang kita sayang ketika hari kerja? 

3. Jarak antara rumah dengan rumah orang tua 
Bagi kita yang tinggal 1 kota dengan orang tua, pertimbangan ini seringkali muncul ketika menentukan akan tinggal dimana, baik yang masih single maupun yang sudah berkeluarga. Buat saya yang belum lama berkeluarga, jujur ini penting ketika masih memiliki anak yang berusia di bawah 5 tahun. Setelah berkeluarga dan memiliki anak, saya masih ingin bekerja. Bukan karena saya ambisius terhadap karir. Namun, dengan bekerja saya dapat membantu Ibas untuk menambah pemasukan keluarga dan mewujudkan mimpi-mimpi kami kepada keluarga kami. Bekerja merupakan pilihan yang saya ambil saat ini, dan tentu ada konsekuensinya. Anak saya yang masih kecil tentu tidak dapat ditinggal di rumah sendirian, apalagi dibawa ke tempat saya bekerja. Saya juga termasuk yang kurang dapat percaya 100% kepada pengasuh, sekalipun ia tenaga profesional. Saya ingin menitipkan anak saya kepada orang yang dapat mencintainya paling tidak sebesar saya mencintainya, bukan hanya sekedar menjaga dan mengasuhnya. Maka pilihan saya jatuh kepada orang tua saya. Sungguh, bukan maksud saya untuk menyusahkan dan merepotkan kedua orang tua saya yang sudah tidak muda lagi. Tapi, saya sungguh hanya ingin mencari solusi terbaik bagi semuanya. Semoga pilihan saya diridhoi Allah SWT. Alhamdulillah, kedua orang tua saya setuju untuk membantu saya menjaga Afiqah.

4. Keamanan dan kenyamanan 
Keamanan rumah mungkin menjadi salah satu hal terpenting bagi semua orang. Baik memiliki rumah yang besar dan mewah, maupun yang yang memiliki rumah yang kecil dan sederhana. Kenyamanan juga pasti diinginkan semua orang. Seperti yang banyak orang katakan, "Home sweet home", atau "Rumahku adalah Istanaku". Kenyamanan yang didefinisikan oleh masing-masing orang memang dapat berbeda. Dalam definisi saya, kenyamanan dapat diartikan adanya kehangatan yang dirasakan semua orang yang tinggal bersama, dapat menjadi diri sendiri, tidak malu untuk memberikan kebaikan kepada satu sama lain. :) 

5. Jarak antara rumah dengan tempat-tempat fungsional (rumah sakit, pasar, sekolah anak) 
Selain poin nomor 2, poin ini juga merupakan salah satu pertimbangan yang banyak difikirkan oleh kebanyakan orang-orang yang sudah berkeluarga. Keluarga yang memang cukup sering memasak tentunya akan sangat senang jika rumahnya tak jauh dari pasar. Untuk membeli beberapa barang kebutuhan rumah tangga mungkin memang dapat dibeli sekali seminggu ataupun sekali sebulan di supermarket yang agak jauh dari rumah. Namun, untuk membeli bahan makanan fresh, seperti ayam, ikan, daging, buah, dan sayur, tentunya lebih enak jika dibeli tak lama sebelum akan diolah, yaitu setiap pagi. Untuk orang-orang yang sudah memiliki anak, jarak antara rumah dan sekolah anak juga penting. Para orang tua tentu tidak ingin anak mereka terlambat sampai di sekolah. Mereka juga mungkin tidak tega untuk membangunkan anak mereka sangat pagi hanya karena sekolahnya jauh dari rumah. 

6. Jarak antara rumah dengan akses angkutan umum 
Tidak semua orang punya dan mampu punya kendaraan pribadi (materi baru nih :P). Sehingga angkutan umum adalah pilihan terbaik untuk membantu aktifitasnya. Apalagi saya, yang termasuk malas dan "agak" penakut untuk mengendarai kendaraan sendiri (apapun kendaraannya), lebih memilih naik angkutan umum. Kenapa? Karena naik angkutan umum itu dijamin tidak nyasar (asal tahu trayeknya saja), lebih enak untuk mengamati keadaan di sepanjang jalan (ini sih kebiasaan saya saja suka mengamati sesuatu hal atau bahkan sekedar membaca tulisan-tulisan yang terlihat). Nah, akses untuk mendapatkan angkutan umum dari rumahnya tentu adalah hal yang patut dipertimbangkan. Saya pernah ke rumah salah seorang kenalan yang berada di komplek mewah. Rumah dia itu terletak di ujung komplek tersebut. Oke, saya maklum jika mungkin tidak ada angkutan umum di dalam komplek rumahnya. Tapi ini lebih parah dari itu, tidak angkutan umum yang lewat di depan gerbang komplek rumahnya. Sejak saat itu, saya kapok main ke rumahnya, kecuali jika naik taxi atau diantar jemput ke tempat yang ada akses angkutan umumnya. :P 

7. Luas tanah dengan jumlah orang yang akan menempati 
Poin ini sebenarnya untuk mendukung poin kenyamanan yang ada di poin 4. Jika luas tanah / bangunan tidak mencukupi untuk orang-orang yang akan tinggal tentu tidak nyaman. Sebaliknya jika luas tanah / bangunan jauh melebihi kecukupan untuk jumlah orang yang akan menempati rumah tersebut, menurut saya akan mengurangi kehangatan keluarga yang saya bahas di poin 4. Beberapa orang bilang bahwa poin ini dapat "diakalin". Maksudnya adalah jika tanah / bangunannya kecil, sedangkan orang yang akan menempatinya lebih banyak, maka dapat dibangun bertingkat ke atas atau ke bawah menyesuaikan kebutuhan. Namun, ini akan memunculkan masalah baru. Untuk naik turun rumah bertingkat banyak tentu akan mengurangi kenyamanan tinggal di rumah tersebut. Hehehe... 

8. Apakah rawan bencana (kebakaran, banjir, gempa)? 
Setelah hidup selama lebih dari 20 tahun (jumlah aslinya rahasia, ya? :P), saya mengalami atau melihat banyak bencana yang terjadi di berbagai belahan dunia ini. Bencana memang bukan hal yang dapat disangka-sangka kapan waktunya dan terjadi di mana. Namun, kita sebagai manusia dapat melihat adanya potensi-potensi dari sebuah tempat mengalami sebuah bencana. Misalnya saja kebakaran. Suatu perumahan padat penduduk dengan ilmu wawasan dan kesadaran yang rendah dapat menyebabkan sering terjadinya kebakaran. Seringkali kebakaran terjadi hanya karena hal-hal yang dianggap sepele, seperti membuang puntung rokok (yang masih menyala, walau sedikit) sembarangan, menggunakan karburator gas yang kendor, selang gas yang bocor (halus), menaruh lilin sembarangan, membiarkan anak kecil bermain api tanpa penjagaan, dan lain sebagainya. Banjir pun demikian. Tak dapat dipungkiri, banjir yang sering terjadi di Indonesia (terutama Jakarta) sebagian besar alasannya adalah karena menumpuknya sampah di pembuangan air. 

9. Jalan menuju rumah dapat dilewati kendaraan (roda 2 dan roda 4) 
Pertimbangan yang satu ini sebenarnya tidak hanya difikirkan oleh orang-orang yang memiliki kendaraan pribadi, namun juga bagi yang tidak memiliki kendaraan pribadi. Mengapa? Alasan pertama adalah, tentunya akan lebih nyaman jika kita tidak harus berjalan di gang yang sempit untuk dapat pulang dan pergi ke dan dari rumah kita. Alasan selanjutnya, agar adanya akses untuk angkutan umum melewati jalur rumah kita seperti yang saya inginkan di poin 6. Dan mungkin akan banyak alasan lainnya. 

10.Tanah yang ada dapat membangun garasi untuk kendaraan yang dimiliki (roda 2 dan roda 4) 
Hal ini penting bagi orang yang memiliki kendaraan pribadi agar keamanan kendaraannya lebih terjaga. Jika poin ini terpenuhi, maka juga akan membawa kenyamanan bagi orang yang tinggal di sekitar rumah kita maupun yang melewati rumah kita. Sering saya temui banyak sekali kendaraan (roda 2 ataupun roda 4) yang diparkir di depan sebuah rumah. Hal itu membuat jalan / gang rumah tersebut menjadi sulit dilalui. 


Pertimbangan-pertimbangan saya di atas sebenarnya sudah tertulis di FB saya. Cukup banyak respon yang ditulis oleh beberapa teman. Ada yang sagalau saya dalam keinginannya memiliki rumah. Ada yang menyarankan untuk nekat membeli dengan modal dan pertimbangan seadanya. Ada yang memberikan beberapa solusi agar dapat memiliki rumah yang cukup layak dan dapat memenuhi sebagian besar (jika tidak dapat semua) pertimbangan-pertimbangan di atas. Doain saya, ya. Agar dapat memiliki rumah sendiri yang memenuhi pertimbangan-pertimbangan di atas. Aamiin.

Jadi, apa pertimbangan kalian dalam mewujudkan keinginan memiliki rumah sendiri?

Saturday, May 25, 2013

Yeay.. Belajar Makan..

Saya sudah mengumpulkan berbagai resep MPASI untuk persiapan Afiqah belajar makan padat pertamanya. Saat Afiqah berusia 6 bulan, kami memang sedang melakukan perjalanan Jakarta - Kuala Lumpur - Kota Kinabalu. Jadi, kami memutuskan untuk memundurkan waktu belajar makan-nya Afiqah. Karena kami fikir saat itu kami memprioritaskan penyesuaian Afiqah terhadap trip itu sendiri (trip akan diceritakan terpisah).
Pilihan pertama saya jatuh pada biskuit Farley. Menurut rekomendasi beberapa teman, biskuit ini teksturnya lebih lembut dibanding biskuit lainnya. Saya campurkan biskuit Farley dengan susu Formula-nya. Alhamdulillah lahap makannya. Semoga dengan mulainya makan makanan padat, Afiqah akan berkurang ketergantungan pada susu formulanya.

^_^

Saturday, April 6, 2013

She is 5 months old now!

Akhirnya saya merelakan untuk Afiqah minum susu formula. Ini keputusan yang amat sangat sulit buat saya. Butuh waktu sebulan observasi Afiqah dan mempersiapkan mental. Alhamdulillah ASI saya masih keluar, jadi saya ASI saya masih cukup untuk menyusui Afiqah secara langsung. Namun hasil pompa ASIP tidak sebanding dengan kebutuhan Afiqah selama saya di kantor. Kenapa akhirnya saya memutuskan untuk mencampur asupan Afiqah antara ASI dan Susu Formula?

1. Selama 1 bulan sejak saya kembali aktif di kantor, semua stock ASIP yang saya kumpulkan selama saya cuti melahirkan (3 bulan) habis tak bersisa. Sehingga, sejak Afiqah berumur 4 bulan, yang saya pompa di kantor pada hari ini untuk diminum Afiqah esoknya.

2. Total ASIP yang bisa saya hasilkan dengan memompa selama tidak disusui oleh Afiqah secara langsung adalah = 580 ml - 650 ml, dengan perincian sebagai berikut :
 a. Jam 2 pagi = 50 ml
 b. Jam 5 pagi = 50 ml
 c. Jam 8 pagi = 60 ml
 d. Jam 1 siang = 150 ml
 e. Jam 4 sore = 150 ml
 f. Jam 8 malam = 70 ml
 g. Jam 10 malem = 50 ml

3. Jumlah kebutuhan Afiqah selama saya tinggal ke kantor adalah 7 x 100 ml = 700 ml, maksimal 7 x 120 ml = 840 ml

4. Metode pemberian ASIP pada Afiqah biasanya adalah 1 botol @50ml setiap kali minum. Menurut orang tua saya, setelah 1 botol habis, Afiqah masih suka menangis. Sudah dicoba diganti popok dan bajunya, sudah coba dinyalakan pendingin ruangan, masih menangis. Namun, jika diberikan ASIP 1 botol @50ml lagi, baru dia diam.

5. Tidak mungkin saya tega mengetahui anak saya kekurangan asupan, hanya karena saya egois menerapkan keinginan saya untuk ASIX.

6. Saya sudah mencoba memakan semua makanan dan minuman yang dianjurkan oleh orang tua, dokter, artikel internet, ibu-ibu di milis ASI. Bahkan saya juga sudah 2 kali ke konselor laktasi. Hasilnya adalah memang ASI saya lancar, namun payudara saya menghasilkan ASI yang banyak tapi tidak melimpah. Terlebih melihat kemampuan menyusu Afiqah yang cukup banyak. Itulah mengapa hasil pompa saya selama di rumah tidak dapat banyak, karena sisanya memang sedikit setelah disusu langsung oleh Afiqah.

Apapun itu, alhamdulillah Afiqah tetap sehat dan ceria. Sekarang Afiqah sudah mulai lancar merangkak, walau masih kadang tangannya terjatuh. Semangat sayangnya papa mama! 

^_^

Saturday, March 23, 2013

Sudah 4 bulan.. Dan stock ASIP pun habis.. :'(

Sebulan kerja setelah selesai cuti melahirkan sungguh luar biasa. Penyesuaian kembali terhadap coding dan logsheet setelah 3 bulan tidak menyentuhnya. Alhamdulillah punya rekan-rekan kerja yang luar biasa membantu mengembalikan otak dan konsentrasi ke pekerjaan. Namun, tentu ritme penyesuaian yang saya alami harus disertai dengan berlari mengejar ketertinggalan yang cukup banyak. Hal baru yang saya temui di kantor adalah adanya seorang programmer baru yang direkrut ketika saya masih dalam masa cuti melahirkan.

Penyesuaian lain adalah adanya aktifitas pompa ASI selama di kantor. Karena saya belum tahu bagaimana menyelipkan aktifitas ini di sela jam kerja, jadwal pompa ASI adalah pagi menjelang jam 8 pagi dan pada saat istirahat makan siang (setelah makan siang). Pompa di minggu pertama tidak terlalu banyak, mungkin karena tegang menghadapi saat pertama penyesuaian terhadap pekerjaan. Apalagi mendengar laporan dari uti dan akungnya Afiqah kalau Afiqah bisa menghabiskan 6-7 botol ASIP sehari. Alamaaak, lahap betul minumnya. Jadi kalau kata orang dulu anak perempuan minum ASI nya gak banyak, terbukti mitos yaaa.. :P

Minggu kedua lumayan meningkat, sehari bisa mompa total 2 botol @ 100ml. Dan di akhir bulan, ternyata stock ASIP di kulkas rumah dan rumah mama pun habis. Akhirnya merasakan juga apa yang pernah diobrolin di milis ASI, kejar tayang. Mompa hari ini untuk diminum besok. Semangaaat..

Sunday, February 3, 2013

3 bulan. Cuti sudah habis. Hiks

Satu bulan terakhir sungguh tak terasa. Terlebih karena situasi kejar-kejar-an stock ASIP dengan waktu. ASIP di freezer sudah mencapai 60 botol @ 10 - 60 ml. Alhamdulillah. Persiapan untuk pompa ASI di kantor pun sudah lengkap. Bismillah, semoga lancarr jaya.

Perlengkapan pompa ASI saya terdiri dari :
1. 1 set Pompa ASI manual (hasil lungsuran temannya kakak)
2. 1 buah mini cooler box
3. 1 buah ice cooler
4. 2 buah blue ice gel
5. Beberapa botol dengan penutup karet untuk menyimpan ASI.

Selama 3 bulan cuti, saya sudah mengkondisikan Afiqah dengan keadaaan saya yang nantinya harus kembali bekerja dan menitipkan Afiqah di rumah mama. Jadi setiap jam 7 pagi, setelah Ibas berangkat kerja, saya  membawa Afiqah ke rumah mama dan memandikannya di sana. Setelah mandi, disusukan selama 30-60 menit. Jika setelahnya ia tidak rewel atau malah tertidur lagi, maka saya kembali pulang ke rumah untuk beres-beres rumah. Mama akan mengambil alih menjaga Afiqah hingga ia bangun dan meminta ASI kembali. Ritual ini saya lakukan sepanjang hari (pagi - sore) setiap hari Senin-Jumat. Ketika hari Sabtu dan Minggu saya akan lebih banyak menghabiskan waktu bersama Afiqah di rumah sendiri.

Hal yang membuat saya agak cemas tentang jam pumping ASI di kantor. Alhamdulillah, kantor saya menyediakan ruangan meeting yang cukup nyaman untuk pegawainya memompa ASI selama di kantor. Menurut pegawai yang pernah melakukan pompa ASI, dia bisa 2-3 kali memompa ASI selama di kantor, selama ruangan meeting tidak digunakan untuk rapat atau seleksi pegawai. Namun, mengingat pekerjaan saya sebagai programmer yang membutuhkan perhatian dan waktu yang tidak sedikit, saya jadi ragu dapat meluangkan waktu 3 kali untuk pompa. Semoga Allah memudahkan. Aamiin. Bismillah.

^_^

Friday, January 4, 2013

Sudah 2 bulan, ya nak?

Tidak terasa sudah 2 bulan. Banyak kejadian yang terjadi, dari peristiwa kebakaran di sekitar rumah 2 hari sebelum Afiqah lahir, sampai kepergian Mbah Nur tersayang.

Selama 2 bulan ini, siklus tidur saya luar biasa menantang. Saya memilih untuk tidak memakaikan Afiqah diapers karena masih terlalu kecil dan kasihan dengan kulitnya yang masih sangat sensitif pastinya. Jadi otomatis, saya terbangun tiap kali Afiqah menangis karena popok kainnya basah. Belum lagi kalau ia terbangun karena haus, saya juga harus bangun untuk menyusuinya. Saya sudah dapat mengenal siklus tidur, pipis / pup, dan nenen nya Afiqah. Dalam sehari, ia pipis 7 - 10 kali, pup 3-5 kali, tidur pada siang hari biasanya sebelum jam 12 siang (1-2 kali, @ 20 - 60 menit), dan nenen pada waktu tak berbatas (alias sangat sering sekali).

Selain siklus tidur / istirahat saya yang luar biasa menantang, usaha saya untuk mengumpulkan stock ASIP (ASI Perahan) juga butuh perjuangan yang luar biasa. Bagaimana tidak, Afiqah minum ASI langsung (nenen) sangat sering sekali. Tiap kali nenen, dia bisa menghabiskan waktu hampir 1 jam pada PD (payudara) kanan dan kiri. Sehingga saat saya mau merah ASI, sudah hampir tidak ada sisa. Ditambah saya yang saat ini belum jago merah ASI menggunakan alat bantu. Saya sudah coba ganti alat bantu dari yang manual ke elektrik. Sudah coba juga metode marmet alias perah langsung tanpa alat bantu. Keduanya tidak banyak membantu.

Saya mencari info di milis khusus ASI. Saran yang akhirnya cukup membantu adalah saya lebih sering memerah ASI. Sebelumnya saya memerah hanya 3 kali, setelahnya saya jadwalkan minimal 5 kali. Saya usahakan dapat memerah 3 - 4 kali pada waktu pagi hingga sore, dan sekali sekitar jam 8-9 malam (saat Afiqah baru saja tidur), dan sekali jam 11 malam (biasanya Afiqah baru bangun sekitar jam 1 pagi). Hasilnya saya berhasil mengumpulkan 30 botol @ 10-50 ml. Buat saya, itu adalah pencapaian yang luar biasa.
Setelah saya lebih sering memerah, alhamdulillah hasil tiap kali perah makin banyak.

Semangat!!

^_^

Tuesday, November 20, 2012

Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Roji'un. Selamat jalan, mbah Nur.

Semua yang lahir pasti akan meninggal. Ada yang datang dan ada yang pergi.

Kelahiran Syafiqah Rahmah di bulan November ini ternyata diikuti dengan kepergian Mbah Nur tercinta.
Kemarin mbah Nur (ibunya papa saya) telah dipanggil Allah SWT dalam usia 80 tahun lebih. Beliau meninggal dalam kondisi sakit yang cukup parah karena kanker payudara yang dideritanya selama 1 tahun lebih. Beberapa tahun sebelumnya, mbah pernah terkena stroke 2 kali. Bahkan stroke yang terakhir menyebabkan beliau susah menggerakkan bibir untuk bicara dan kaki untuk berjalan.

Buat keluarga kami, mbah Nur menempati tempat yang sangat istimewa. Bagaimana tidak? Papa adalah anak satu-satunya Mbah Nur. Sehingga semua kasih sayang mbah Nur dicurahkan kepada kami, anak-anak papa. Mbah Nur dan mbah Karim lama tinggal di Pekalongan, bahkan mbah Karim meninggal di kota kelahiran papa itu. Sejak kecil, hampir setiap lebaran Idul Fitri kami melakukan tradisi mudik ke Wonopringgo, sebuah kota kecil di Pekalongan.

Sejak kecil kami terbiasa dengan kasih sayang Mbah Nur yang selalu tak habis-habisnya. Terlebih lagi bila kami mudik ke rumah beliau. Setiap pagi kami pasti selalu dibelikan Nasi Megono seharga Rp. 1,000 per bungkus. Nasi Megono ini terdiri dari nasi hangat + Urap nangka gurih manis khas Pekalongan + Tempe goreng tepung. Kami tidak pernah bosan makan nasi megono tiap pagi selama kami di sana. Hehehe..


Sunday, October 14, 2012

Trimester Ketiga

Minggu ke 25 - 28
Alhamdulillah.. Baby berkembang dengan baik dan sehat. Organ tubuhnya sudah lengkap, tapi ukurannya masih kecil-kecil. Hehehe.. Ukuran kepala normal, yang artinya tidak kecil ataupun terlalu besar (hydrosefalus). Begitu juga lingkar perutnya.

Minggu ke 29 - 32
Pada minggu-minggu ini air ketuban mulai dicek. Jumlahnya cukup dan warnanya normal, tidak berwarna kehijauan yang berarti keracunan. Jumlah jari kedua tangan dan kedua kakinya normal. Ada betis dan paha yang artinya, insya allah tidak kuntet. Berat badan bayinya normal. Hingga minggu ke 32, dr. Reino masih optimis bahwa saya masih bisa lahir dengan proses spontan. Walau ukuran miom cukup besar, selama posisi kepala bayi bisa turun dan masuk ke dalam panggul.

Minggu ke 33 - 36
Mulai minggu ke 32, saya disarankan untuk ikut senam hamil. Agar diarahkan gerakan-gerakan yang dapat membuat kepala bayiku turun dan memasuki panggul. Berat badanku hingga minggu ke 36, total kenaikan hanya 6 kg. Menurut dokter kandunganku, dan juga suster serta bidan instruktur senam hamil, kenaikan berat badan ibu hamil tidak harus terlalu dipermasalahkan. Yang terpenting adalah berat badan bayinya normal, dan keadaannya sehat. Begitu juga keadaan ibunya harus sehat.

Sunday, July 29, 2012

Trimester Kedua

Minggu ke 13 - 16
Mulai minggu ini saya lebih concern kepada miom yang ada di dalam rahim saya. Karena harus dipastikan bahwa miom tersebut tidak mengganggu janin yang sedang saya kandung. Hingga minggu ke 16, Alhamdulillah janin yang sedang saya kandung berkembang dengan baik.

Minggu ke 17 - 20
Pada bulan ini diketahui bahwa miom yang ada di dalam rahim saya mulai membesar. Menurut dokter tidak ada yang bisa dilakukan untuk menyetop perkembangan miom atau memperkecil ukurannya. Yang bisa dilakukan adalah hanya memonitor bahwa janin dalam keadaan baik dan berkembang dengan semestinya.
Saat itu saya sih belum merasakan apapun di perut saya. Bahkan ukuran perut saya hanya ada gundukan kecil, dan belum terlihat seperti orang hamil. Jadi saya dan Ibas masih sanggup untuk berjalan-jalan ke Jogja selama 3 hari. :)

Minggu ke 21 - 24
Ukuran perut saya mulai membuncit. Tapi karena saya hampir tidak pernah menggunakan pakaian / kaos yang melekat di badan, sehingga orang umum belum menyadari bahwa saya sedang hamil. Hehehe.
Namun pada minggu ke 23, tiba-tiba saya merasakan  nyeri yang sangat pada perut bagian bawah dekat vagina, seperti sakit sedang haid yang dulu sering saya alami. Naasnya, saat itu hampir semua dokter kandungan di Jakarta sedang di Bali untuk mengikuti konferensi dokter kandungan se-Indonesia, termasuk dokter di klinik bersalin yang biasa saya datangi.
Bahkan rumah sakit pemerintah sebesar RSCM pun tidak ada dokter spesialis kandungan yang praktek. Saya malah disuruh menginap ke UGD dulu sampai dokter kembali dari Bali. Tentu saja saya menolak. Hanya membuang waktu dan biaya, karena dokter jaga atau suster yang ada pun tidak dapat melakukan tindakan yang hanya dapat dilakukan dokter spesialis kandungan jika terjadi sesuatu terhadap saya dan kandungan saya.
Malam itu juga, saya dan suami browsing semua rumah sakit di Jakarta yang menyediakan praktek dokter kandungan. Dari 20 Rumah sakit yang kami tlp, 19 diantaranya mengatakan hal yang sama, yaitu dokter spesialis kandungan mereka sedang ke Bali, dan menyuruh saya untuk datang 3 hari kemudian saat dokter itu pulang. Damn, mana bisa saya menunggu selama itu. Memangnya mereka mau tanggung jawab kalau terjadi apa-apa dengan saya dan kandungan saya?
Alhamdulillah ada 1 Rumah Sakit yang menyediakan dokter praktek, yaitu RSIA Tambak. Ada 2 dokter yang praktek pada malam itu dan besoknya. Namun 1 dokter akan berangkat ke Bali malam itu juga setelah selesai praktek dan saya tidak mungkin sempat mengejar jadwal praktek dokter tersebut. Akhirnya saya membuat janji untuk menemui dokter yang satunya lagi, yaitu dr. Reino Rambay. Alhamdulillah. Dari hasil usg fetomaternal dan penjelasan dari dr. Reino, diketahui bahwa sakit yang saya derita itu bukan karena miomnya. Tapi, karena tali pusarnya menutupi jalan lahir, dan sering kesenggol oleh bayi yang saya kandung.
Allah SWT memang Maha Berkehendak. Saya sengaja dipertemukan oleh dr. Reino saat saya memang didiagnosa memiliki Miom di dalam rahim saya. Beliau menyarankan saya untuk berhenti mengkonsumsi kacang kedelai dan semua olahannya, agar pertumbuhan miomnya dapat dihentikan. saya memang sangat suka mengkonsumsi tempe dan tahu, dan selalu ada di menu makanan saya setiap hari. Terbukti, sebulan setelah saya berhenti mengkonsumsi tempe dan tahu, ukuran miom saya tidak bertambah besar. Selain olahan kedelai, tentu saja saya harus menghindari JunkFood, makanan mentah, dan selalu mengkonsumsi buah dan sayur.

Saturday, April 7, 2012

Trimester Pertama

Minggu ke 1 - 4
Blm berasa hamil beneran sih.. Hehehe.. Baru ketauan hamil khan pas minggu ke - 5. Hitung minggu ke - 1 itu dari hari pertama haid terakhir. Itu berarti minggu ketika saya menikah. :D

Minggu ke 5 - 8
Masuk minggu ke 5 sebenarnya belum ada tanda-tanda hamil yang umumnya terlihat, seperti mual mual, tidak enak badan, dan lain sebagainya. Saya tau kalo sedang hamil juga karena melalukan test menggunakan test pack. Nah, mulai masuk minggu ke 7, rasa mual mulai muncul. Tapi Alhamdulillah, mual hanya muncul di kondisi tertentu saja. Misal saat mencium bau / wangi yang menyengat, seperti masakan tyang baru matang, bau kamar mandi (yang padahal bersih), ruangan lembab.

Minggu ke 9 - 12
Rasa mual itu masih terasa sampai minggu ke 10. Selama masa mual itu, saya jadi tidak bisa lagi memasak. Saat mau masuk rumah, selalu butuh waktu agar bau ruangannya menguap. Begitu juga saat mau masuk kamar mandi, saya harus mencium wangi2an yang saya suka seperti sabun / parfum terlebih dahulu.
Memasuki bulan ke tiga, terdeteksi adanya miom di dalam rahim saya. Saat itu diagnosa dokter, miom yang berada di rahim saya tidak berbahaya, baik untuk saya dan janin yang sedang saya kandung. Tidak ada pantangan makanan untuk miom itu

Saturday, March 17, 2012

Positif

Memiliki anak sudah tentu menjadi salah satu keinginan kami setelah menikah. Tapi sungguh saya tidak menyangka dapat hamil secepat ini. Kami memang mengikuti saran-saran agar saya dapat langsung hamil. Kebetulan, saat hari pernikahan merupakan hari keempat periode menstruasi pada bulan itu, yang berarti, saat kami berbulan madu adalah saat masa subur saya. :) Saya dan Ibas memang sepakat untuk tidak menunda memiliki anak setelah menikah, karena kami tidak memiliki alasan untuk itu.

Setelah sebulan kami menikah, pembicaraan tentang anak memang mulai muncul di antara saya dan Ibas. Apalagi setelah saya telat menstruasi 2 hari dari jadwal yang seharusnya. Ibas segera meminta saya untuk test menggunakan test pack, namun hasilnya negatif. Setelah 1 minggu telat haid, saya kembali mencoba test dan hasilnya positif :)

Malamnya kami langsung ke Rumah Bersalin dekat rumah untuk memastikan kehamilan saya. Dokter melakukan transvaginal USG karena usia kehamilan yang baru 5 minggu. Sebelum pulang, saya dibekali vitamin-vitamin untuk memperkuat janin yang ada di kandungan saya.

Alhamdulillah atas Karunia Mu ya ALLAH SWT. Semoga kehamilan ini sehat selalu.. Bismillah...


Wednesday, February 22, 2012

Bali Day Three

Tak terasa, ini hari terakhir honeymoon kami di Bali. Hari ketiga kami merencanakan untuk berjalan-jalan ke tempat wisata yang jauh dari Kuta. Untuk itulah kami memesan mobil beserta supir yang dapat sekaligus menjadi guide.

Setelah sholat subuh, kami langsung beres-beres barang-barang dan memasukkan ke dalam koper. Seharusnya sih kami lakukan malam sebelumnya, tapi apa daya badan tepar karena seharian berkeliling. Hehehe... Barang sudah rapih, kami langsung sarapan di hotel. Saat sedang sarapan, supir yang kami sewa menelpon dan mengabarkan bahwa dia sudah siap menunggu di halaman depan hotel. Kami langsung bersiap-siap, checkout dari hotel dan mengembalikan motor yang kami sewa.

Begitu mobil meluncur meninggalkan hotel, saya langsung bertanya agenda jalan-jalan kami kepada supir sekaligus guide kami. Dia menyarankan untuk ke tanjung benoa karena di sana banyak aktifitas air seru yang bisa dilakukan. Ehm, tentu saja kami terpaksa menolak usul tersebut, karena kami (baca : suami saya) tidak cocok di air. Hehehe.. Akhirnya tujuan pun diarahkan menuju Gunung Kintamani.

Sebelum sampai di Gunung Kintamani, kami mampir ke beberapa tempat. Tempat pertama adalah tempat pentas Tari Barong. Di tempat ini ada sedikit perbedaan dengan pementasan Tari Barong yang kami tonton di GWK. Di tempat ini pementasannya lebih lama durasinya, lebih banyak. Hal yang paling membuatku tertarik adalah di tempat ini, penonton dibagikan kertas berisi cerita yang dipentaskan, dan ditulis dalam berbagai macam bahasa di dunia.

Mammoth Art Galery - Perak adalah tujuan kami selanjutnya. Tempat ini terdiri dari 2 bangunan yang tak terlalu besar. Bangunan pertama merupakan workshop dan bangunan lainnya berisi banyak etalase untuk display. Harganya memang cukup mahal, namun mengingat barang-barang dari perak tersebut dibuat langsung oleh tangan, maka harganya memang sesuai dengan kualitas barangnya. Barang-barang yang dijual di sini tidak hanya perhiasan.

Tempat yang paling membuatku senang adalah tujuan kami selanjutnya. Kenapa? Karena kami mendapatkan banyak minuman gratis. Hehehe.. Sebenarnya Satria adalah salah satu tempat yang terkenal dengan Kopi Luwak nya. Kata pengurus tempat ini, kopi yang dibuat merupakan kopi yang langsung diambil dari luwaknya. Memang sih, di depan gerbangnya ada beberapa luwak yang sedang bersantai di kandangnya. Namun, tak hanya luwak yang diproduksi di sini. Namun banyak juga olahan teh, coklat, dan jahe.

Akhirnya kami sampai di puncak tujuan kami, yaitu kaki gunung Kintamani. Hawanya sangat sejuk dan menenangkan. Karena belum makan siang, maka kami makan siang di salah satu restaurant rekomendasi dari tour guide kami.

Sebelum kami turun, kami diajak mampir ke Tirta Empul Temple. Temple ini merupakan tempat yang terkenal menghasilkan air suci. Air yang dipercaya dapat memberikan banyak manfaat bila diminum atau dipakai untuk mandi. Bahkan konon katanya bila kita membasuh wajah dengan air ini, bisa membuat kita tampak awet muda. Ehm. :P Temple ini terletak tak jauh dari istana Tampak Siring.

Karena hari sudah beranjak sore, maka kami mulai turun menuju ke kota. Kami diajak untuk membeli oleh-oleh di Hawaii, salah satu tempat menjual oleh-oleh khas Bali selain Khrisna. Niat kami selanjutnya sebenarnya adalah membeli pie susu yang terkenal itu. Tapi sayang tokonya sudah tutup. Menurut info yang kami dapat dari guide, untuk dapat membeli pie susu tersebut, kami harus memesan lewat telp. Bahkan  karena banyaknya permintaan, kabarnya ada yang memesan 3 hari sebelumnya. Wuiih..

Sebelum ke airport, kami meminta untuk mampir ke tempat makan. Makan malam dipilihkan Ayam Betutu khas Bali. Warungnya terletak tak jauh dari Bandara. Sambal matahnya luar biasa pedas, terutama untuk saya yang tidak kuat dengan pedas. Hehehe.. Selesai makan, kami berencana langsung ke bandara. Naasnya, mobil yang kami sewa tiba-tiba mogok. Untungnya ada mobil pengganti yang segera datang dari tempat penyewaan. Setelah memindahkan koper dan barang-barang lainnya, kami segera menuju ke airport.

Akhir waktu penyewaan mobil kami adalah jam 9 malam, sedangkan flight kami jam 11 malam. Kami memang mengambil flight terakhir untuk kembali ke Jakarta. Kami memutuskan untuk menunggu di airport hingga waktu boarding tiba. Bye-bye Bali, welcome Jakarta!

Monday, February 20, 2012

Bali Day Two

Hmm... Pagi kedua di Bali.. Kami sangat bersemangat sekali hari ini, karena berencana mengejar matahari terbit di pantai, mumpung pantai hanya tinggal beberapa jingkring dari hotel. :P Tapi sayangnya, kami tidak mencari info yang akurat. Ternyata, posisi pantai Kuta itu tidak tepat untuk melihat matahari terbit, tapi lebih pas untuk melihat matahari terbenam. Jadi, sampai 1 jam kami menunggu, matahari terbit itu tak kunjung terlihat. Hehehe... Akhirnya kami memutuskan kembali ke hotel untuk sarapan dan mandi. 

Hari kedua, itenari lebih padat daripada hari pertama. Kami berencana untuk berkeliling Bali hingga malam. Tujuan pertama adalah Garuda Wisnu Kencana (GWK). Saya tidak menyangka bahwa letak GWK sangat jauh dari hotel tempat kami menginap. Ibas sangat jago membaca peta, sehingga kami dapat sampai tujuan tanpa nyasar. :-* Tiket masuk GWK adalah Rp. 30,000 untuk wisatawan lokal, Rp. 25,000 untuk anak-anak, dan Rp. 60,000 untuk wisatawan asing. GWK ternyata cukup luas, banyak tempat di sana yang dapat digunakan sebagai background untuk berfoto. Kami menyempatkan berfoto di depan patung Garuda dan Wisnu. Di sana juga ada pertunjukan yang dapat dinikmati.

Selesai berkeliling plus berfoto di GWK, kami menyempatkan untuk makan siang di pantai Jimbaran, yang lokasinya tak terlalu jauh dari GWK. Karena kami datang ke pantai tersebut pada saat jam makan siang, maka hawa di sana sangatlah panas. :P Seperti restoran di pantai pada umumnya, restoran-restoran yang ada menyajikan berbagai macam makanan laut. Kami memesan nasi putih, ikan bakar, kangkung balacan, disajikan dengan 3 macam sambal. 

Perut kenyang, saatnya kembali ke tengah kota. Kami memutuskan untuk kembali ke Joger, membeli kaos untuk oleh-oleh dan untuk kami berdua. Ukuran kaos di Joger cukup besar, mungkin standar ukurannya mengikuti standar orang luar Indonesia, mengingat banyak wisatawan asing yang datang ke Bali. Ukuran yang pas untuk kami berdua adalah SS, yang artinya sangat kecil. :P Acara beli oleh-oleh dilanjutkan ke Khrisna. Di sini, kami membeli beberapa cemilan untuk keluarga dan kerabat, serta body butter untuk panitia  yang telah membantu pernikahan kami.Dari Khrisna, kami menuju ke Jalan Legian, tak jauh dari hotel, untuk membeli pesanan mba iin dan uus, yaitu kaos lukis. Toko kaos lukis ini bisa dibilang cukup kecil, letaknya di pojok perempatan Jalan Legian, hampir tak terlihat jika tak melihat dengan seksama. 

Selesai membeli kaos lukis, perut sudah keroncongan karena memang sudah waktunya makan malam. Kami mencoba menu di warung pasta tak jauh dari kaos lukis. Kami memesan spaghetti, hanya berbeda sausnya. Porsinya cukup membuat kami kenyang. Setelah itu, kami kembali ke hotel untuk beristirahat. :)

Saturday, February 18, 2012

Bali - Day One

Woohooo...

Saya pernah pergi ke Bali ketika masih kecil bersama keluarga. Tapi, tak banyak hal-hal yang dapat saya ingat mengenai Bali belasan tahun yang lalu. Kebetulan, Ibas belum pernah ke Bali. Sehingga, impian kami adalah pergi honeymoon ke Bali. Jujur kami agak ragu bahwa mimpi tersebut akan terwujud, mengingat kami berencana untuk menanggung seluruh biaya pernikahan. Namun, niat dan ikhtiar kami diijabah oleh Allah dengan cara yang tak kami duga sebelumnya. Bahkan kami mendapatkan voucher gratis untuk menginap 2 malam di sebuah hotel di Bali dan seat murah di budget airline yang dapat kami gunakan untuk honeymoon. Alhamdulillah. :)

Berhubung saat rencana honeymoon ini dibuat Ibas hanya mendapat cuti selama 3 hari, maka kami harus menyusun itenari sepadat mungkin selama 3 hari setelah hari pernikahan. Sehingga, kami mengambil penerbangan pertama saat berangkat dan penerbangan terakhir saat pulang. Kami berangkat jam 6 pagi dari bandara Soekarno-Hatta dan sampai di Bandara Ngurah Rai sekitar pukul 9 pagi kemudian langsung mencari taksi Blue Bird. Namun, karena tak kunjung dapat, akhirnya kami memesan taksi lokal dengan sistem pembayaran di awal. Jadi kami mengantri di loket dan mengatakan tujuan, mereka menentukan biayanya, kami membayar lalu supirnya akan mengantar kami ke armadanya. 

Sesampai di Hotel Best Western Hotel Kuta Seaview, kami langsung melakukan registrasi atas voucher yang kami dapat dari tukar dan undi poin di Pesta Poin Simpati Telkomsel. Kami baru dapat melakukan check-in jam 2 siang dan saat itu baru sekitar jam 10 pagi. Jadi setelah melakukan registrasi, kami menitipkan koper untuk berjalan di sekitar hotel. O iya, hotel kami ada di sebuah Jalan (lebih tepatnya gang) Benesari, Kuta; berjarak hanya sekitar 50 meter dari pantai kuta. Jadi, kami memutuskan untuk jalan-jalan sekitar kuta sekaligus survey apa saja yang ada di sekitar hotel kami. 

Setelah keluar dari gang, ternyata banyak resto dan hotel berbintang di sekitarnya. Kami sempatkan untuk berfoto di Hard Rock Cafe Kuta Bali dan pintu serta di dalam pantai Kuta. Karena hari kerja, pantai kuta sangat sepi saat itu. Saya saat itu ingin duduk di kursi pantai, tapi ternyata harus bayar alias sewa. Hehehe... Kami melanjutkan berjalanan kaki menuju komplek pertokoan di sekitar pantai Kuta. Saya meminta Ibas untuk mampir ke KFC Kuta, karena perut mulai keroncongan :P sekaligus internet browsing tentang tempat istimewa untuk menyusun itenari kami selama di Bali. 

Perut sudah kenyang, kami kembali berjalan kaki dan sampai di Jalan Legian. Di sepanjang jalan ini penuh dengan toko-toko berukuran kecil, hotel, hostel, dan resto yang ukurannya tidak terlalu besar. Di tengah   bangunan-bangunan itu terdapat Monumen Bom Bali, yang dibangun untuk memperingati para korban Bom Bali. Tak lupa kami berfoto di monumen tersebut. Berhubung kami hanya berdua dan tak membawa tripod, jadi kami harus bergantian berfoto di monumen ini. Saat itu ada sepasang muda mudi yang juga sedang berfoto di monumen tersebut. Mereka menawari untuk mengambil foto kami berdua dengan syarat kami mengambil foto mereka berdua. :)

Kami sudah lelah berkeliling, jadi kami memutuskan untuk kembali ke hotel. Ketika sampai di hotel, masih ada waktu 1 jam lebih sebelum waktu check in, sehingga kami memutuskan untuk menggunakan fasilitas pc + internet gratis yang disediakan di lobi hotel untuk kembali browsing. Kali ini Ibas menggunakan aplikasi Google maps untuk menemukan rute yang terdekat untuk mencapai lokasi wisata yang ingin kami datangi. Tepat pukul 2 siang, kami check in dan menempati kamar yang kami dapatkan. Jujur, saya agak kecewa ketika melihat ukuran kamar yang cukup kecil. Pada voucher yang kami dapatkan memang tertera Standard Room, namun dapat dilakukan upgrade menjadi Superior Room. Tentu saja, kami menggunakan fasilitas upgrade tersebut. Ketika melihat ukuran kamar yang menurut saya cukup kecil untuk ukuran superior, saya sampai menelpon bagian resepsionis untuk memastikan bahwa tidak ada kesalahan penempatan pemberian kamar. Ternyata memang untuk hotel tersebut, kamar itulah yang termasuk superior room.

Setelah check in, kami merapihkan barang dan membersihkan diri. Setelah beristirahat sebentar, kami memutuskan untuk menyewa motor di tempat penyewaan motor Bali Tese Car & Bike Rental, yang terletak di depan hotel. Motor yang kami pilih adalah Honda Scoopy matic, agar tak terlalu lelah mengendarainya hingga jarak jauh sekalipun. Harga sewanya Rp. 50.000 / 24 jam dan free 2 helm + bensin premium 1 liter. Di sana juga tersedia bensin premium yag dijual Rp. 5.000 / liter.

Karena waktu sudah sore, kami memutuskan untuk tidak berkeliling terlalu jauh, agar tidak terlalu lelah dan malam kembali ke hotel. Tujuan pertama kami adalah Toko kaos Joger, untuk melihat-lihat koleksi kaos yang tersedia sekaligus survey harga. Setelah puas melihat-lihat, kami langsung makan siang di Nasi Pedas Ibu Andhika yang terkenal, yang ternyata terletak persis di seberang Toko Joger. Harganya pun tidak mahal. Saya pesan nasi putih + telur mata sapi + sayur labu + tahu kuah + sambal pedas, sedangkan Ibas pesan nasi putih + teri goreng + sayur tauge + tahu kuah + sambal pedas. Keduanya seharga Rp. 11.000. Sambal pedasnya luar biasa pedas, apalagi untuk saya yang tidak kuat dengan pedas. Cuma cocol saja, saya perlu menghabiskan 2 teh botol untuk menghilangkan rasa pedas di mulut. :P

Perut sudah kenyang, kami berkeliling di sekitar Denpasar untuk mencari lokasi toko oleh-oleh di Khrisna terdekat. Kami menyempatkan untuk membeli beberapa oleh-oleh untuk keluarga dan kerabat di Jakarta. Saat kami keluar toko setelah selesai berbelanja, langit mulai gelap, sehingga kami memutuskan untuk kembali ke hotel. 

Friday, February 17, 2012

Resepsi - Drama dimulai di sini


Setelah kami berdua sarapan lontong sayur dengan topping ayam, kami langsung diminta perias untuk kembali ke ruang rias. Kami harus mengganti baju akad nikah dengan pakaian adat minang untuk resepsi. Riasan pun di-touch up kembali dan disesuaikan dengan pakaian minang yang meriah. Akhirnya saya merasakan memakai sunting 9 tingkat itu loh. Namun, sungguh aneh saya tidak merasakan beban berat di atas kepala saya, periasnya jago!

Namun kemudian terjadilah drama. Papa saya yang memang kurang tidur tiba-tiba merasakan sakit kepala yang cukup berat dan harus meminum obat pribadinya. Sedangkan obat itu tertinggal di rumah dan hanya dia yang tahu tempat menaruhnya, sehingga dia harus kembali ke rumah. Pemilik sanggar baju dan rias adat minang yang saya sewa tak henti-hentinya mengganggu saya dan mengomel karena acara foto studio tak kunjung dilakukan. Terlebih lagi karena studio foto diletakkan di luar ruang rias yang menyebabkan terlihat oleh tamu, yang menurutnya itu tidak bagus. Please deh! 

Drama berulang ketika prosesi resepsi akan dimulai. Prosesi resepsi diawali dengan iring-iringan kedua pengantin dan diikuti oleh barisan keluarga kedua mempelai memasuki gedung resepsi. Kebetulan ruang rias pengantin berada di luar pintu utama dan terdapat tangga yang cukup tinggi dari halaman untuk mencapai pintu utama gedung. Panitia saya menyarankan agar khusus untuk saya dan suami tidak perlu turun tangga agar saya tidak kelelahan turun tangga dengan menanggung beban sunting 9 tingkat itu, jadi cukup barisan keluarga saja yang berbaris menurun ke bawah. Namun, ibu pemilik sanggar secara langsung dan ketus membentak panitia saya "Harus turun! Anak kemaren sore mau coba-coba mengatur saya!". 

Saya saat itu mencoba untuk berfikir positif bahwa mungkin ibu pemilik sanggar itu tersinggung karena merasa diatur padahal beliau lebih lama dan senior berkecimpung di dunia bisnis pernikahan terutama dalam adat Minang. Namun, sangat disayangkan bahwa di sisi lain, perilaku beliau dapat dilihat sebagai bentuk keengganan untuk berkoordinasi dengan pendukung acara lainnya. Padahal panitia pernikahan saya adalah para crew profesional dalam bidang Event termasuk Wedding Event. 

Kembali ke acara pernikahan kami. Iring-iringan keluarga pun masuk menyusuri karpet merah hingga pintu masuk pelaminan. Di depan pintu pelaminan, kami disambut oleh tarian Galombang Pasambahan dan dilanjutkan dengan tari piring. Inilah atraksi yang sangat saya dan suami (ehm, sekarang sudah suami :P) sukai dari pernikahan adat Minang. Selain ibu pemilik sanggar, secara umum acara pernikahan saya hari itu dapat dikatakan berjalan cukup lancar. Sebagian besar undangan dapat hadir, makanan enak dan berlimpah (menurut pengakuan sebagian besar orang yang hadir), pakaian dan riasan oke punya, acara berjalan sesuai dengan rencana, souvenir tidak kurang bahkan berlebih.

Alhamdulillah, it was wrap!

Thursday, February 16, 2012

The DAY - Akad Nikah

Saya benar-benar tak menyangka bahwa saya akan mengalami hari itu. Hari dimana sah menjadi istri dari seseorang pilihan hati saya. Sebentar.. Saya sedang mencoba mengingat semua detail yang terjadi pada hari itu, agar tak ada yang tertinggal untuk dicatat di blog ini.

Malam sebelumnya saya agak telat tidur, mungkin efek grogi. Hehehe.. Tapi alhamdulillah, cukup nyenyak dan bangun cukup pagi, bahkan paling pagi di antara orang-orang di rumah. Ada 2 keluarga dari saudara papa yang menginap di rumah. Jadi, pagi itu kami semua mengantri untuk mandi. Saya sungguh tak nafsu sarapan, sebagian karena grogi dan sebagian lagi karena saat itu saya kram perut akibat menstruasi. Namun, mama tetap memaksa saya untuk makan walaupun sedikit, karena khawatir saya tidak fit untuk menjalankan akad nikah. Mami (adiknya mama) mengantar aku dan kakakku ke tempat acara pagi itu, karena kami berdua harus berada paling pagi di tempat acara. Saya, karena harus menjalani ritual rias yang panjang itu; kakak saya, karena dia adalah ketua panitia. Sampai di tempat acara pukul 6.00, ternyata penata rias dan pemasang sunting aku sudah sampai dari jam 05.30. :P Tak menunggu lama, saya langsung dirias, dipasang sunting 2 tingkat, dan baju pengantin untuk akad nikah. Saya sangat puas dengan riasan pagi itu, simple dan manis. :)

Tepat pukul 07.30, saya sudah siap dengan baju kebaya putih dan riasan lengkap serta sunting. Rombongan keluarga besar Ibas pun sudah datang dan berbaris untuk memasuki gedung. Namun, sangat disayangkan justru Bapak Penghulu yang belum datang. Padahal dia yang meminta agar akad diadakan pukul 8 tepat dan meminta semua untuk hadir sebelum pukul 8. Penghulu datang pada pukul 8 lewat, dan prosesi akad segera dimulai. Diawali dengan penyerahan seserahan dari keluarga besar Ibas kepada keluarga besar saya yang oleh perwakilan masing-masing, yaitu mamangnya Ibas dan guru mengaji saya. Kemudian, penyerahan Ibas secara simbolik dari kedua orang tuanya kepada kedua orang tua saya. setelah itu, rombongan masuk ke dalam gedung dan menduduki kursi masing untuk melakukan ijab qobul. Sebelum ijab qobul, dibacakan ayat-ayat suci Al-Qur'an oleh sahabatnya Ibas. Ijab qobul dibacakan dalam bahasa Arab sesuai kesepakatan papa saya dan Ibas.

Kemudian, Master of Ceremony, kakak kelas saya di kampus, meminta Ibas untuk menjemput saya di ruang rias dan membawa ke meja tempat ijab qobul dilakukan. Hal ini sesuai dengan syari'at Islam, bahwa kedua mempelai baru boleh disandingkan berdua setelah ijab qobul dinyatakan sah. Saat itu saya merasa lega karena proses paling penting pada hari itu berjalan lancar. Setelah menandatangani berkas-berkas dari pak penghulu, kami mendapatkan buku nikah kami masing-masing. Pak penghulu pamit karena harus mengurus administrasi di pernikahan lain. Saya sangat menyayangkan bahwa pak penghulu sangat terburu-buru dalam menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan pencatatan administrasi pernikahan kami.

Acara akad nikah dilanjutkan dengan penyerahan mahar dan pemakaian cincin kawin. Mahar yang kami sepakati adalah 10.6 gram emas dan uang tunai 122 Ringgit Malaysia. Emas terdiri dari 4.6 gr cincin kawin saya, 4 gr kalung + liontin, dan 2 gr emas murni. Nominal 122 sengaja kami ambil untuk mengingat tanggal pernikahan kami, sedangkan Ringgit Malaysia kami pilih untuk menghormati teman kami, sepasang suami istri dari Malaysia yang berperan dalam mendekatkan kami berdua. :) Kemudian acara dilanjutkan dengan berfoto bersama keluarga dan tamu menyalami kami berdua.


Wednesday, January 25, 2012

Vendor ooh.. Vendor


Menentukan Vendor untuk pernikahan kita itu gampang-gampang susah. Biasanya drama persiapan pernikahan dimulai dari ini. hehehe.. Karena hal-hal lain selain Gedung, sangat penting antara satu dan yang lainnya. Pada saat menentukan pilihan-pilihan dari sekian banyak vendor yang ada lah, yang biasanya menyebabkan perselisihan antara kedua pengantin bahkan juga bisa kedua keluarga besar.

Secara garis besar, ada 2 pilihan dalam memilih vendor, yaitu menggunakan vendor mandiri (vendor-vendor yang terpisah) atau menggunakan paket (memilih 1 vendor, lalu menggunakan vendor lain yang rekanan). Terdapat kelebihan dan kekurangan pada kedua pilihan tersebut, namun saya sarankan pilih sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan.

Memilih vendor-vendor secara terpisah
Kelebihan :
  1. Memungkinkan kita untuk mendapatkan vendor yang terbaik di bidangnya masing-masing.
  2. Biasanya terdapat banyak bonus yang diberikan dari vendor.
  3. Biasanya kita dapat meminta hal-hal secara mendetail sesuai dengan keinginan kita.
  4. Biasanya mereka memiliki konsultan yang dapat memberikan saran jika kita masih bingung atau mengarahkan ide kita agar hasilnya lebih baik.
Kekurangan :
  1. Biasanya harus mengeluarkan dana yang lebih banyak dibandingkan memilih vendor secara paket.
  2. Biasanya kita membutuhkan waktu dan tenaga lebih banyak untuk mengatur semua vendor sendiri.

Memilih paket dari vendor (dan rekanannya)
Kelebihan :
  1. Bisa menghemat waktu dan tenaga, karena kita hanya perlu mengontrol kemajuan persiapan kesemua vendor hanya melalui salah satunya.
  2. Biasanya kita mendapatkan harga yang lebih murah daripada memilih vendor yang terpisah, karena antar vendor telah memiliki kesepakatan mengenai harga.
Kekurangan :
  1. Terkadang ada salah 1 vendor rekanan yang belum kita kenal baik hasil pekerjaannya. 
  2. Tak banyak vendor yang memperbolehkan kita merubah paket yang mereka tawarkan. Biasanya mereka sudah memiliki item-item yang termasuk di dalam paket. Kita hanya bisa memilih salah satu dari beberapa paket yang telah mereka sediakan. Sebaiknya, pastikan dulu kepada vendor sejauh mana kita dapat menambah / mengurangi / merubah isi paket yang mereka tawarkan.



Sunday, January 22, 2012

Tanggal VS Gedung VS Vendors

Jika sebagian besar calon pengantin harus menyerahkan penentuan tanggal kepada keputusan kedua keluarga besar, tidak demikian dengan kami. Alhamdulillah, kedua orang tua kami dan para sesepuh di atasnya tidak memaksakan sebuah tanggal yang biasanya mereka dapat dengan menghitung-hitung tanggal baik dari tanggal lahir kami berdua. Kedua orang tua kami sepakat bahwa insya Allah semua tanggal baik. Syarat yang mereka minta juga tak sulit, yaitu : hari Minggu. Sesuai dengan ajaran Islam, pada dasarnya mereka meminta sebaiknya pernikahan diadakan tak jauh setelah proses lamaran. Akan lebih baik jika diadakan tak jauh setelah hari Raya Idul Fitri. Namun, apa daya, selain karena uang tabungan kami berdua belum cukup :P, gedung di sekitar rumah saya pun sudah habis di-booked oleh calon pengantin yang lain.

Jika calon pengantin memutuskan untuk mengadakan acara pernikahan, akad dan resepsi, dengan menyewa tempat/gedung di luar rumah, maka perlu diingat bahwa gedung tersebut milik umum yang tentu saja ada peminat selain anda. Terlebih lagi, biasanya gedung tersebut hanya dapat disewakan pada akhir minggu, yang sering tidak match dengan "tanggal baik" yang biasanya jatuh pada hari kerja. Sehingga, adat "tanggal baik" cukup (baca : sangat) sulit diterapkan. Sebagian calon pengantin masa kini menyiasatinya dengan mengadakan akad dan resepsi di tempat yang terpisah. Akad diadakan di rumah pada "tanggal baik", kemudian mengadakan  resepsi di Gedung pada tanggal yang tersedia. Namun, perlu diperhatikan juga biaya yang akan dikeluarkan jika mengadakan 2 acara di 2 tempat dan waktu yang berbeda.Saya dan Ibas sepakat untuk mengadakan akad nikah dan resepsi di tempat dan hari yang sama dengan menyewa gedung karena beberapa pertimbangan. Alhamdulillah, keluarga mendukung keputusan kami.

Pencarian tanggal juga berbanding lurus dengan gedung dan para vendor. Mengapa demikian? Hubungan antara gedung dan tanggal telah saya jelaskan di atas. Beberapa gedung biasanya telah memiliki rekanan para pengisi acaranya, bahkan ada beberapa yang mewajibkan untuk menggunakan rekanan mereka. Ada juga beberapa gedung yang membebaskan calon pengantin menggunakan jasa rekanan mereka (tanpa charge tambahan) atau memilih vendor lain (dengan charge tambahan). Jadi hal ini perlu ditanyakan dulu kepada pihak gedung.

Kami memilih tanggal 12 Februari 2012, sebagai tanggal akad nikah dan resepsi kami. Banyak yang mengira kami ingin tanggal cantik (12022012), namun bukan itu alasan utama kami. Kebetulan, gedung yang kami inginkan kosong pada tanggal tersebut. Kami menjatuhkan pilihan kepada Gedung Sasana Amal Bakti milik Kementrian Agama Republik Indonesia yang berada di Jl. Lapangan Banteng, Jakarta Pusat. Alasannya sederhana : lokasi tak jauh dari rumah saya, tanggal kosong yang tersedia tak jauh dari rencana kami, dan pastinya harga terjangkau dengan budget kami. :) Mengapa memilih lokasi yang tak jauh dari rumah saya? Pada saat akad nikah, pastinya calon mempelai wanita yang membutuhkan banyak waktu untuk dirias. Setelah saya bertanya kepada beberapa sumber, dibutuhkan tak kurang dari 3 jam untuk merias calon mempelai wanita hingga selesai. Bisa dibayangkan, jika akad nikah dilakukan pada jam 8 atau 9 pagi, berarti jam 5 atau 6, saya sudah harus tiba di lokasi. Jika lokasinya jauh dari rumah saya, masa saya harus menginap di lokasi? Hehehehe...

Friday, January 20, 2012

KUA atau Rumah atau Gedung?

Lokasi acara memang salah satu hal terpenting saat memutuskan untuk menikah, selain tanggal tentunya. Sebelum menentukan atau mencari lokasi, kita harus menentukan dulu apakah hanya mengadakan akad nikah atau dilanjutkan dengan resepsi.

KUA
Kantor Urusan Agama dapat menjadi pilihan lokasi untuk akad. Ada beberapa alasan untuk memilih KUA sebagai tempat berlangsungnya akad nikah :
- Harga administrasi pernikahan dan honor penghulu lebih murah daripada akad nikah dilakukan di luar KUA (di rumah atau gedung)
- Calon Pengantin tidak perlu menyediakan ruangan, meja, kursi, microfon, sound, dan lain sebagainya, karena di KUA sudah disediakan. Kita tinggal datang berpakaian rapih dan membawa keperluan pernikahan (mempelai pria, mempelai wanita, wali nikah, saksi nikah, mahar)
- Calon Pengantin juga dapat membawa beberapa orang keluarga dan kerabat, karena KUA akan menyediakan ruangan Serbaguna untuk akad nikah beserta beberapa kursi. Tapi sepanjang pengetahuan saya, kursi yang disediakan oleh KUA biasanya tak lebih untuk 50 orang.

Rumah
Biasanya calon pengantin mengadakan akad nikah dan resepsi di rumah, karena beberapa alasan berikut :
- Calon pengantin mengadakan akad nikah di rumah, lalu mengadakan resepsi di rumah, biasanya karena terbentur "tanggal baik", yaitu tanggal yang biasanya adalah hasil perhitungan sesepuh keluarga dari hari lahir kedua calon pengantin. "Tanggal baik" ini biasanya jatuh pada hari kerja (Senin - Jum'at), sedangkan teman-teman calon pengantin sulit hadir. Sehingga biasanya pada saat akad nikah, hanya mengundang keluarga dekat. Pada saat resepsi yang diadakan pada akhir minggu, baru mengundang kerabat dan teman-teman.
- Acara pernikahan (biasanya resepsi) yang diadakan di rumah, biasanya diadakan sepanjang hari, dari pagi hingga malam. Hal ini agar semua undangan dapat hadir pada waktu yang sesuai dengan kesediaan waktu mereka.

- Calon pengantin yang memutuskan mengadakan acara akad nikah di rumah, lalu resepsi di luar rumah, biasanya selain karena alasan poin pertama ("Tanggal baik"), juga karena rumahnya kurang terjangkau. Bisa karena ukuran rumah terlalu kecil, berada di gang kecil, atau jalan menuju rumah sulit terjangkau.

Gedung
Calon pengantin yang memutuskan untuk mengadakan akad nikah dan resepsi di luar rumah, biasanya karena alasan-alasan berikut :
- Ukuran rumah terlalu kecil untuk menampung tamu yang biasanya berjumlah ratusan.
- Rumah berada di kawasan padat penduduk dan atau di gang kecil
- Jalanan menuju rumah sulit terjangkau, bisa karena jauh dari jalan utama, tidak ada angkutan umum, atau kondisi jalan yang rusak.
- Mencari lokasi yang lebih dekat dengan sebagian besar rumah para tamu
- Mencari lokasi yang berada di antara rumah kedua calon pengantin
- Agar acara tidak berlangsung seharian, karena keterbatasan waktu dan tenaga.

Saya dan Ibas sepakat untuk mengadakan akad nikah dan resepsi di tempat dan hari yang sama di luar rumah. Berikut beberapa alasannya :
1. Kedua rumah orang tua kami masing berada di gang kecil dengan luas rumah yang tidak terlalu besar.
Kami ingin membuat para tamu dapat berada di tempat pernikahan kami selama acara berlangsung tanpa takut tidak mendapatkan space.
2. Keterbatasan waktu dan tenaga. Sebenarnya ini keinginan pribadi kami. Rasanya kami tak sanggup harus berpakaian adat selama seharian penuh, sekalipun jika acara di rumah biasanya 2 hingga 3 kali ganti baju. Terutama saya, yang berencana memakai sunting adat minang itu.
3. Sebenarnya ada usulan dari kedua orang tua kami untuk memisahkan acara akad nikah dan resepsi. Hal ini agar dapat memecah tamu menjadi 2 bagian. Namun kami menolak dengan alasan, memisahkan tempat dan waktu akad nikah dan resepsi akan memakan waktu, tenaga, dan biaya yang lebih besar. :)

Sebenarnya, memutuskan dimana tempat diadakannya acara pernikahan, dapat diputuskan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan. Hohoho.. It is getting closer, sodara-sodara.. ^_^