Showing posts with label pernikahan. Show all posts
Showing posts with label pernikahan. Show all posts

Saturday, April 7, 2012

Trimester Pertama

Minggu ke 1 - 4
Blm berasa hamil beneran sih.. Hehehe.. Baru ketauan hamil khan pas minggu ke - 5. Hitung minggu ke - 1 itu dari hari pertama haid terakhir. Itu berarti minggu ketika saya menikah. :D

Minggu ke 5 - 8
Masuk minggu ke 5 sebenarnya belum ada tanda-tanda hamil yang umumnya terlihat, seperti mual mual, tidak enak badan, dan lain sebagainya. Saya tau kalo sedang hamil juga karena melalukan test menggunakan test pack. Nah, mulai masuk minggu ke 7, rasa mual mulai muncul. Tapi Alhamdulillah, mual hanya muncul di kondisi tertentu saja. Misal saat mencium bau / wangi yang menyengat, seperti masakan tyang baru matang, bau kamar mandi (yang padahal bersih), ruangan lembab.

Minggu ke 9 - 12
Rasa mual itu masih terasa sampai minggu ke 10. Selama masa mual itu, saya jadi tidak bisa lagi memasak. Saat mau masuk rumah, selalu butuh waktu agar bau ruangannya menguap. Begitu juga saat mau masuk kamar mandi, saya harus mencium wangi2an yang saya suka seperti sabun / parfum terlebih dahulu.
Memasuki bulan ke tiga, terdeteksi adanya miom di dalam rahim saya. Saat itu diagnosa dokter, miom yang berada di rahim saya tidak berbahaya, baik untuk saya dan janin yang sedang saya kandung. Tidak ada pantangan makanan untuk miom itu

Saturday, March 17, 2012

Positif

Memiliki anak sudah tentu menjadi salah satu keinginan kami setelah menikah. Tapi sungguh saya tidak menyangka dapat hamil secepat ini. Kami memang mengikuti saran-saran agar saya dapat langsung hamil. Kebetulan, saat hari pernikahan merupakan hari keempat periode menstruasi pada bulan itu, yang berarti, saat kami berbulan madu adalah saat masa subur saya. :) Saya dan Ibas memang sepakat untuk tidak menunda memiliki anak setelah menikah, karena kami tidak memiliki alasan untuk itu.

Setelah sebulan kami menikah, pembicaraan tentang anak memang mulai muncul di antara saya dan Ibas. Apalagi setelah saya telat menstruasi 2 hari dari jadwal yang seharusnya. Ibas segera meminta saya untuk test menggunakan test pack, namun hasilnya negatif. Setelah 1 minggu telat haid, saya kembali mencoba test dan hasilnya positif :)

Malamnya kami langsung ke Rumah Bersalin dekat rumah untuk memastikan kehamilan saya. Dokter melakukan transvaginal USG karena usia kehamilan yang baru 5 minggu. Sebelum pulang, saya dibekali vitamin-vitamin untuk memperkuat janin yang ada di kandungan saya.

Alhamdulillah atas Karunia Mu ya ALLAH SWT. Semoga kehamilan ini sehat selalu.. Bismillah...


Wednesday, February 22, 2012

Bali Day Three

Tak terasa, ini hari terakhir honeymoon kami di Bali. Hari ketiga kami merencanakan untuk berjalan-jalan ke tempat wisata yang jauh dari Kuta. Untuk itulah kami memesan mobil beserta supir yang dapat sekaligus menjadi guide.

Setelah sholat subuh, kami langsung beres-beres barang-barang dan memasukkan ke dalam koper. Seharusnya sih kami lakukan malam sebelumnya, tapi apa daya badan tepar karena seharian berkeliling. Hehehe... Barang sudah rapih, kami langsung sarapan di hotel. Saat sedang sarapan, supir yang kami sewa menelpon dan mengabarkan bahwa dia sudah siap menunggu di halaman depan hotel. Kami langsung bersiap-siap, checkout dari hotel dan mengembalikan motor yang kami sewa.

Begitu mobil meluncur meninggalkan hotel, saya langsung bertanya agenda jalan-jalan kami kepada supir sekaligus guide kami. Dia menyarankan untuk ke tanjung benoa karena di sana banyak aktifitas air seru yang bisa dilakukan. Ehm, tentu saja kami terpaksa menolak usul tersebut, karena kami (baca : suami saya) tidak cocok di air. Hehehe.. Akhirnya tujuan pun diarahkan menuju Gunung Kintamani.

Sebelum sampai di Gunung Kintamani, kami mampir ke beberapa tempat. Tempat pertama adalah tempat pentas Tari Barong. Di tempat ini ada sedikit perbedaan dengan pementasan Tari Barong yang kami tonton di GWK. Di tempat ini pementasannya lebih lama durasinya, lebih banyak. Hal yang paling membuatku tertarik adalah di tempat ini, penonton dibagikan kertas berisi cerita yang dipentaskan, dan ditulis dalam berbagai macam bahasa di dunia.

Mammoth Art Galery - Perak adalah tujuan kami selanjutnya. Tempat ini terdiri dari 2 bangunan yang tak terlalu besar. Bangunan pertama merupakan workshop dan bangunan lainnya berisi banyak etalase untuk display. Harganya memang cukup mahal, namun mengingat barang-barang dari perak tersebut dibuat langsung oleh tangan, maka harganya memang sesuai dengan kualitas barangnya. Barang-barang yang dijual di sini tidak hanya perhiasan.

Tempat yang paling membuatku senang adalah tujuan kami selanjutnya. Kenapa? Karena kami mendapatkan banyak minuman gratis. Hehehe.. Sebenarnya Satria adalah salah satu tempat yang terkenal dengan Kopi Luwak nya. Kata pengurus tempat ini, kopi yang dibuat merupakan kopi yang langsung diambil dari luwaknya. Memang sih, di depan gerbangnya ada beberapa luwak yang sedang bersantai di kandangnya. Namun, tak hanya luwak yang diproduksi di sini. Namun banyak juga olahan teh, coklat, dan jahe.

Akhirnya kami sampai di puncak tujuan kami, yaitu kaki gunung Kintamani. Hawanya sangat sejuk dan menenangkan. Karena belum makan siang, maka kami makan siang di salah satu restaurant rekomendasi dari tour guide kami.

Sebelum kami turun, kami diajak mampir ke Tirta Empul Temple. Temple ini merupakan tempat yang terkenal menghasilkan air suci. Air yang dipercaya dapat memberikan banyak manfaat bila diminum atau dipakai untuk mandi. Bahkan konon katanya bila kita membasuh wajah dengan air ini, bisa membuat kita tampak awet muda. Ehm. :P Temple ini terletak tak jauh dari istana Tampak Siring.

Karena hari sudah beranjak sore, maka kami mulai turun menuju ke kota. Kami diajak untuk membeli oleh-oleh di Hawaii, salah satu tempat menjual oleh-oleh khas Bali selain Khrisna. Niat kami selanjutnya sebenarnya adalah membeli pie susu yang terkenal itu. Tapi sayang tokonya sudah tutup. Menurut info yang kami dapat dari guide, untuk dapat membeli pie susu tersebut, kami harus memesan lewat telp. Bahkan  karena banyaknya permintaan, kabarnya ada yang memesan 3 hari sebelumnya. Wuiih..

Sebelum ke airport, kami meminta untuk mampir ke tempat makan. Makan malam dipilihkan Ayam Betutu khas Bali. Warungnya terletak tak jauh dari Bandara. Sambal matahnya luar biasa pedas, terutama untuk saya yang tidak kuat dengan pedas. Hehehe.. Selesai makan, kami berencana langsung ke bandara. Naasnya, mobil yang kami sewa tiba-tiba mogok. Untungnya ada mobil pengganti yang segera datang dari tempat penyewaan. Setelah memindahkan koper dan barang-barang lainnya, kami segera menuju ke airport.

Akhir waktu penyewaan mobil kami adalah jam 9 malam, sedangkan flight kami jam 11 malam. Kami memang mengambil flight terakhir untuk kembali ke Jakarta. Kami memutuskan untuk menunggu di airport hingga waktu boarding tiba. Bye-bye Bali, welcome Jakarta!

Monday, February 20, 2012

Bali Day Two

Hmm... Pagi kedua di Bali.. Kami sangat bersemangat sekali hari ini, karena berencana mengejar matahari terbit di pantai, mumpung pantai hanya tinggal beberapa jingkring dari hotel. :P Tapi sayangnya, kami tidak mencari info yang akurat. Ternyata, posisi pantai Kuta itu tidak tepat untuk melihat matahari terbit, tapi lebih pas untuk melihat matahari terbenam. Jadi, sampai 1 jam kami menunggu, matahari terbit itu tak kunjung terlihat. Hehehe... Akhirnya kami memutuskan kembali ke hotel untuk sarapan dan mandi. 

Hari kedua, itenari lebih padat daripada hari pertama. Kami berencana untuk berkeliling Bali hingga malam. Tujuan pertama adalah Garuda Wisnu Kencana (GWK). Saya tidak menyangka bahwa letak GWK sangat jauh dari hotel tempat kami menginap. Ibas sangat jago membaca peta, sehingga kami dapat sampai tujuan tanpa nyasar. :-* Tiket masuk GWK adalah Rp. 30,000 untuk wisatawan lokal, Rp. 25,000 untuk anak-anak, dan Rp. 60,000 untuk wisatawan asing. GWK ternyata cukup luas, banyak tempat di sana yang dapat digunakan sebagai background untuk berfoto. Kami menyempatkan berfoto di depan patung Garuda dan Wisnu. Di sana juga ada pertunjukan yang dapat dinikmati.

Selesai berkeliling plus berfoto di GWK, kami menyempatkan untuk makan siang di pantai Jimbaran, yang lokasinya tak terlalu jauh dari GWK. Karena kami datang ke pantai tersebut pada saat jam makan siang, maka hawa di sana sangatlah panas. :P Seperti restoran di pantai pada umumnya, restoran-restoran yang ada menyajikan berbagai macam makanan laut. Kami memesan nasi putih, ikan bakar, kangkung balacan, disajikan dengan 3 macam sambal. 

Perut kenyang, saatnya kembali ke tengah kota. Kami memutuskan untuk kembali ke Joger, membeli kaos untuk oleh-oleh dan untuk kami berdua. Ukuran kaos di Joger cukup besar, mungkin standar ukurannya mengikuti standar orang luar Indonesia, mengingat banyak wisatawan asing yang datang ke Bali. Ukuran yang pas untuk kami berdua adalah SS, yang artinya sangat kecil. :P Acara beli oleh-oleh dilanjutkan ke Khrisna. Di sini, kami membeli beberapa cemilan untuk keluarga dan kerabat, serta body butter untuk panitia  yang telah membantu pernikahan kami.Dari Khrisna, kami menuju ke Jalan Legian, tak jauh dari hotel, untuk membeli pesanan mba iin dan uus, yaitu kaos lukis. Toko kaos lukis ini bisa dibilang cukup kecil, letaknya di pojok perempatan Jalan Legian, hampir tak terlihat jika tak melihat dengan seksama. 

Selesai membeli kaos lukis, perut sudah keroncongan karena memang sudah waktunya makan malam. Kami mencoba menu di warung pasta tak jauh dari kaos lukis. Kami memesan spaghetti, hanya berbeda sausnya. Porsinya cukup membuat kami kenyang. Setelah itu, kami kembali ke hotel untuk beristirahat. :)

Saturday, February 18, 2012

Bali - Day One

Woohooo...

Saya pernah pergi ke Bali ketika masih kecil bersama keluarga. Tapi, tak banyak hal-hal yang dapat saya ingat mengenai Bali belasan tahun yang lalu. Kebetulan, Ibas belum pernah ke Bali. Sehingga, impian kami adalah pergi honeymoon ke Bali. Jujur kami agak ragu bahwa mimpi tersebut akan terwujud, mengingat kami berencana untuk menanggung seluruh biaya pernikahan. Namun, niat dan ikhtiar kami diijabah oleh Allah dengan cara yang tak kami duga sebelumnya. Bahkan kami mendapatkan voucher gratis untuk menginap 2 malam di sebuah hotel di Bali dan seat murah di budget airline yang dapat kami gunakan untuk honeymoon. Alhamdulillah. :)

Berhubung saat rencana honeymoon ini dibuat Ibas hanya mendapat cuti selama 3 hari, maka kami harus menyusun itenari sepadat mungkin selama 3 hari setelah hari pernikahan. Sehingga, kami mengambil penerbangan pertama saat berangkat dan penerbangan terakhir saat pulang. Kami berangkat jam 6 pagi dari bandara Soekarno-Hatta dan sampai di Bandara Ngurah Rai sekitar pukul 9 pagi kemudian langsung mencari taksi Blue Bird. Namun, karena tak kunjung dapat, akhirnya kami memesan taksi lokal dengan sistem pembayaran di awal. Jadi kami mengantri di loket dan mengatakan tujuan, mereka menentukan biayanya, kami membayar lalu supirnya akan mengantar kami ke armadanya. 

Sesampai di Hotel Best Western Hotel Kuta Seaview, kami langsung melakukan registrasi atas voucher yang kami dapat dari tukar dan undi poin di Pesta Poin Simpati Telkomsel. Kami baru dapat melakukan check-in jam 2 siang dan saat itu baru sekitar jam 10 pagi. Jadi setelah melakukan registrasi, kami menitipkan koper untuk berjalan di sekitar hotel. O iya, hotel kami ada di sebuah Jalan (lebih tepatnya gang) Benesari, Kuta; berjarak hanya sekitar 50 meter dari pantai kuta. Jadi, kami memutuskan untuk jalan-jalan sekitar kuta sekaligus survey apa saja yang ada di sekitar hotel kami. 

Setelah keluar dari gang, ternyata banyak resto dan hotel berbintang di sekitarnya. Kami sempatkan untuk berfoto di Hard Rock Cafe Kuta Bali dan pintu serta di dalam pantai Kuta. Karena hari kerja, pantai kuta sangat sepi saat itu. Saya saat itu ingin duduk di kursi pantai, tapi ternyata harus bayar alias sewa. Hehehe... Kami melanjutkan berjalanan kaki menuju komplek pertokoan di sekitar pantai Kuta. Saya meminta Ibas untuk mampir ke KFC Kuta, karena perut mulai keroncongan :P sekaligus internet browsing tentang tempat istimewa untuk menyusun itenari kami selama di Bali. 

Perut sudah kenyang, kami kembali berjalan kaki dan sampai di Jalan Legian. Di sepanjang jalan ini penuh dengan toko-toko berukuran kecil, hotel, hostel, dan resto yang ukurannya tidak terlalu besar. Di tengah   bangunan-bangunan itu terdapat Monumen Bom Bali, yang dibangun untuk memperingati para korban Bom Bali. Tak lupa kami berfoto di monumen tersebut. Berhubung kami hanya berdua dan tak membawa tripod, jadi kami harus bergantian berfoto di monumen ini. Saat itu ada sepasang muda mudi yang juga sedang berfoto di monumen tersebut. Mereka menawari untuk mengambil foto kami berdua dengan syarat kami mengambil foto mereka berdua. :)

Kami sudah lelah berkeliling, jadi kami memutuskan untuk kembali ke hotel. Ketika sampai di hotel, masih ada waktu 1 jam lebih sebelum waktu check in, sehingga kami memutuskan untuk menggunakan fasilitas pc + internet gratis yang disediakan di lobi hotel untuk kembali browsing. Kali ini Ibas menggunakan aplikasi Google maps untuk menemukan rute yang terdekat untuk mencapai lokasi wisata yang ingin kami datangi. Tepat pukul 2 siang, kami check in dan menempati kamar yang kami dapatkan. Jujur, saya agak kecewa ketika melihat ukuran kamar yang cukup kecil. Pada voucher yang kami dapatkan memang tertera Standard Room, namun dapat dilakukan upgrade menjadi Superior Room. Tentu saja, kami menggunakan fasilitas upgrade tersebut. Ketika melihat ukuran kamar yang menurut saya cukup kecil untuk ukuran superior, saya sampai menelpon bagian resepsionis untuk memastikan bahwa tidak ada kesalahan penempatan pemberian kamar. Ternyata memang untuk hotel tersebut, kamar itulah yang termasuk superior room.

Setelah check in, kami merapihkan barang dan membersihkan diri. Setelah beristirahat sebentar, kami memutuskan untuk menyewa motor di tempat penyewaan motor Bali Tese Car & Bike Rental, yang terletak di depan hotel. Motor yang kami pilih adalah Honda Scoopy matic, agar tak terlalu lelah mengendarainya hingga jarak jauh sekalipun. Harga sewanya Rp. 50.000 / 24 jam dan free 2 helm + bensin premium 1 liter. Di sana juga tersedia bensin premium yag dijual Rp. 5.000 / liter.

Karena waktu sudah sore, kami memutuskan untuk tidak berkeliling terlalu jauh, agar tidak terlalu lelah dan malam kembali ke hotel. Tujuan pertama kami adalah Toko kaos Joger, untuk melihat-lihat koleksi kaos yang tersedia sekaligus survey harga. Setelah puas melihat-lihat, kami langsung makan siang di Nasi Pedas Ibu Andhika yang terkenal, yang ternyata terletak persis di seberang Toko Joger. Harganya pun tidak mahal. Saya pesan nasi putih + telur mata sapi + sayur labu + tahu kuah + sambal pedas, sedangkan Ibas pesan nasi putih + teri goreng + sayur tauge + tahu kuah + sambal pedas. Keduanya seharga Rp. 11.000. Sambal pedasnya luar biasa pedas, apalagi untuk saya yang tidak kuat dengan pedas. Cuma cocol saja, saya perlu menghabiskan 2 teh botol untuk menghilangkan rasa pedas di mulut. :P

Perut sudah kenyang, kami berkeliling di sekitar Denpasar untuk mencari lokasi toko oleh-oleh di Khrisna terdekat. Kami menyempatkan untuk membeli beberapa oleh-oleh untuk keluarga dan kerabat di Jakarta. Saat kami keluar toko setelah selesai berbelanja, langit mulai gelap, sehingga kami memutuskan untuk kembali ke hotel. 

Friday, February 17, 2012

Resepsi - Drama dimulai di sini


Setelah kami berdua sarapan lontong sayur dengan topping ayam, kami langsung diminta perias untuk kembali ke ruang rias. Kami harus mengganti baju akad nikah dengan pakaian adat minang untuk resepsi. Riasan pun di-touch up kembali dan disesuaikan dengan pakaian minang yang meriah. Akhirnya saya merasakan memakai sunting 9 tingkat itu loh. Namun, sungguh aneh saya tidak merasakan beban berat di atas kepala saya, periasnya jago!

Namun kemudian terjadilah drama. Papa saya yang memang kurang tidur tiba-tiba merasakan sakit kepala yang cukup berat dan harus meminum obat pribadinya. Sedangkan obat itu tertinggal di rumah dan hanya dia yang tahu tempat menaruhnya, sehingga dia harus kembali ke rumah. Pemilik sanggar baju dan rias adat minang yang saya sewa tak henti-hentinya mengganggu saya dan mengomel karena acara foto studio tak kunjung dilakukan. Terlebih lagi karena studio foto diletakkan di luar ruang rias yang menyebabkan terlihat oleh tamu, yang menurutnya itu tidak bagus. Please deh! 

Drama berulang ketika prosesi resepsi akan dimulai. Prosesi resepsi diawali dengan iring-iringan kedua pengantin dan diikuti oleh barisan keluarga kedua mempelai memasuki gedung resepsi. Kebetulan ruang rias pengantin berada di luar pintu utama dan terdapat tangga yang cukup tinggi dari halaman untuk mencapai pintu utama gedung. Panitia saya menyarankan agar khusus untuk saya dan suami tidak perlu turun tangga agar saya tidak kelelahan turun tangga dengan menanggung beban sunting 9 tingkat itu, jadi cukup barisan keluarga saja yang berbaris menurun ke bawah. Namun, ibu pemilik sanggar secara langsung dan ketus membentak panitia saya "Harus turun! Anak kemaren sore mau coba-coba mengatur saya!". 

Saya saat itu mencoba untuk berfikir positif bahwa mungkin ibu pemilik sanggar itu tersinggung karena merasa diatur padahal beliau lebih lama dan senior berkecimpung di dunia bisnis pernikahan terutama dalam adat Minang. Namun, sangat disayangkan bahwa di sisi lain, perilaku beliau dapat dilihat sebagai bentuk keengganan untuk berkoordinasi dengan pendukung acara lainnya. Padahal panitia pernikahan saya adalah para crew profesional dalam bidang Event termasuk Wedding Event. 

Kembali ke acara pernikahan kami. Iring-iringan keluarga pun masuk menyusuri karpet merah hingga pintu masuk pelaminan. Di depan pintu pelaminan, kami disambut oleh tarian Galombang Pasambahan dan dilanjutkan dengan tari piring. Inilah atraksi yang sangat saya dan suami (ehm, sekarang sudah suami :P) sukai dari pernikahan adat Minang. Selain ibu pemilik sanggar, secara umum acara pernikahan saya hari itu dapat dikatakan berjalan cukup lancar. Sebagian besar undangan dapat hadir, makanan enak dan berlimpah (menurut pengakuan sebagian besar orang yang hadir), pakaian dan riasan oke punya, acara berjalan sesuai dengan rencana, souvenir tidak kurang bahkan berlebih.

Alhamdulillah, it was wrap!

Thursday, February 16, 2012

The DAY - Akad Nikah

Saya benar-benar tak menyangka bahwa saya akan mengalami hari itu. Hari dimana sah menjadi istri dari seseorang pilihan hati saya. Sebentar.. Saya sedang mencoba mengingat semua detail yang terjadi pada hari itu, agar tak ada yang tertinggal untuk dicatat di blog ini.

Malam sebelumnya saya agak telat tidur, mungkin efek grogi. Hehehe.. Tapi alhamdulillah, cukup nyenyak dan bangun cukup pagi, bahkan paling pagi di antara orang-orang di rumah. Ada 2 keluarga dari saudara papa yang menginap di rumah. Jadi, pagi itu kami semua mengantri untuk mandi. Saya sungguh tak nafsu sarapan, sebagian karena grogi dan sebagian lagi karena saat itu saya kram perut akibat menstruasi. Namun, mama tetap memaksa saya untuk makan walaupun sedikit, karena khawatir saya tidak fit untuk menjalankan akad nikah. Mami (adiknya mama) mengantar aku dan kakakku ke tempat acara pagi itu, karena kami berdua harus berada paling pagi di tempat acara. Saya, karena harus menjalani ritual rias yang panjang itu; kakak saya, karena dia adalah ketua panitia. Sampai di tempat acara pukul 6.00, ternyata penata rias dan pemasang sunting aku sudah sampai dari jam 05.30. :P Tak menunggu lama, saya langsung dirias, dipasang sunting 2 tingkat, dan baju pengantin untuk akad nikah. Saya sangat puas dengan riasan pagi itu, simple dan manis. :)

Tepat pukul 07.30, saya sudah siap dengan baju kebaya putih dan riasan lengkap serta sunting. Rombongan keluarga besar Ibas pun sudah datang dan berbaris untuk memasuki gedung. Namun, sangat disayangkan justru Bapak Penghulu yang belum datang. Padahal dia yang meminta agar akad diadakan pukul 8 tepat dan meminta semua untuk hadir sebelum pukul 8. Penghulu datang pada pukul 8 lewat, dan prosesi akad segera dimulai. Diawali dengan penyerahan seserahan dari keluarga besar Ibas kepada keluarga besar saya yang oleh perwakilan masing-masing, yaitu mamangnya Ibas dan guru mengaji saya. Kemudian, penyerahan Ibas secara simbolik dari kedua orang tuanya kepada kedua orang tua saya. setelah itu, rombongan masuk ke dalam gedung dan menduduki kursi masing untuk melakukan ijab qobul. Sebelum ijab qobul, dibacakan ayat-ayat suci Al-Qur'an oleh sahabatnya Ibas. Ijab qobul dibacakan dalam bahasa Arab sesuai kesepakatan papa saya dan Ibas.

Kemudian, Master of Ceremony, kakak kelas saya di kampus, meminta Ibas untuk menjemput saya di ruang rias dan membawa ke meja tempat ijab qobul dilakukan. Hal ini sesuai dengan syari'at Islam, bahwa kedua mempelai baru boleh disandingkan berdua setelah ijab qobul dinyatakan sah. Saat itu saya merasa lega karena proses paling penting pada hari itu berjalan lancar. Setelah menandatangani berkas-berkas dari pak penghulu, kami mendapatkan buku nikah kami masing-masing. Pak penghulu pamit karena harus mengurus administrasi di pernikahan lain. Saya sangat menyayangkan bahwa pak penghulu sangat terburu-buru dalam menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan pencatatan administrasi pernikahan kami.

Acara akad nikah dilanjutkan dengan penyerahan mahar dan pemakaian cincin kawin. Mahar yang kami sepakati adalah 10.6 gram emas dan uang tunai 122 Ringgit Malaysia. Emas terdiri dari 4.6 gr cincin kawin saya, 4 gr kalung + liontin, dan 2 gr emas murni. Nominal 122 sengaja kami ambil untuk mengingat tanggal pernikahan kami, sedangkan Ringgit Malaysia kami pilih untuk menghormati teman kami, sepasang suami istri dari Malaysia yang berperan dalam mendekatkan kami berdua. :) Kemudian acara dilanjutkan dengan berfoto bersama keluarga dan tamu menyalami kami berdua.


Wednesday, January 25, 2012

Vendor ooh.. Vendor


Menentukan Vendor untuk pernikahan kita itu gampang-gampang susah. Biasanya drama persiapan pernikahan dimulai dari ini. hehehe.. Karena hal-hal lain selain Gedung, sangat penting antara satu dan yang lainnya. Pada saat menentukan pilihan-pilihan dari sekian banyak vendor yang ada lah, yang biasanya menyebabkan perselisihan antara kedua pengantin bahkan juga bisa kedua keluarga besar.

Secara garis besar, ada 2 pilihan dalam memilih vendor, yaitu menggunakan vendor mandiri (vendor-vendor yang terpisah) atau menggunakan paket (memilih 1 vendor, lalu menggunakan vendor lain yang rekanan). Terdapat kelebihan dan kekurangan pada kedua pilihan tersebut, namun saya sarankan pilih sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan.

Memilih vendor-vendor secara terpisah
Kelebihan :
  1. Memungkinkan kita untuk mendapatkan vendor yang terbaik di bidangnya masing-masing.
  2. Biasanya terdapat banyak bonus yang diberikan dari vendor.
  3. Biasanya kita dapat meminta hal-hal secara mendetail sesuai dengan keinginan kita.
  4. Biasanya mereka memiliki konsultan yang dapat memberikan saran jika kita masih bingung atau mengarahkan ide kita agar hasilnya lebih baik.
Kekurangan :
  1. Biasanya harus mengeluarkan dana yang lebih banyak dibandingkan memilih vendor secara paket.
  2. Biasanya kita membutuhkan waktu dan tenaga lebih banyak untuk mengatur semua vendor sendiri.

Memilih paket dari vendor (dan rekanannya)
Kelebihan :
  1. Bisa menghemat waktu dan tenaga, karena kita hanya perlu mengontrol kemajuan persiapan kesemua vendor hanya melalui salah satunya.
  2. Biasanya kita mendapatkan harga yang lebih murah daripada memilih vendor yang terpisah, karena antar vendor telah memiliki kesepakatan mengenai harga.
Kekurangan :
  1. Terkadang ada salah 1 vendor rekanan yang belum kita kenal baik hasil pekerjaannya. 
  2. Tak banyak vendor yang memperbolehkan kita merubah paket yang mereka tawarkan. Biasanya mereka sudah memiliki item-item yang termasuk di dalam paket. Kita hanya bisa memilih salah satu dari beberapa paket yang telah mereka sediakan. Sebaiknya, pastikan dulu kepada vendor sejauh mana kita dapat menambah / mengurangi / merubah isi paket yang mereka tawarkan.



Sunday, January 22, 2012

Tanggal VS Gedung VS Vendors

Jika sebagian besar calon pengantin harus menyerahkan penentuan tanggal kepada keputusan kedua keluarga besar, tidak demikian dengan kami. Alhamdulillah, kedua orang tua kami dan para sesepuh di atasnya tidak memaksakan sebuah tanggal yang biasanya mereka dapat dengan menghitung-hitung tanggal baik dari tanggal lahir kami berdua. Kedua orang tua kami sepakat bahwa insya Allah semua tanggal baik. Syarat yang mereka minta juga tak sulit, yaitu : hari Minggu. Sesuai dengan ajaran Islam, pada dasarnya mereka meminta sebaiknya pernikahan diadakan tak jauh setelah proses lamaran. Akan lebih baik jika diadakan tak jauh setelah hari Raya Idul Fitri. Namun, apa daya, selain karena uang tabungan kami berdua belum cukup :P, gedung di sekitar rumah saya pun sudah habis di-booked oleh calon pengantin yang lain.

Jika calon pengantin memutuskan untuk mengadakan acara pernikahan, akad dan resepsi, dengan menyewa tempat/gedung di luar rumah, maka perlu diingat bahwa gedung tersebut milik umum yang tentu saja ada peminat selain anda. Terlebih lagi, biasanya gedung tersebut hanya dapat disewakan pada akhir minggu, yang sering tidak match dengan "tanggal baik" yang biasanya jatuh pada hari kerja. Sehingga, adat "tanggal baik" cukup (baca : sangat) sulit diterapkan. Sebagian calon pengantin masa kini menyiasatinya dengan mengadakan akad dan resepsi di tempat yang terpisah. Akad diadakan di rumah pada "tanggal baik", kemudian mengadakan  resepsi di Gedung pada tanggal yang tersedia. Namun, perlu diperhatikan juga biaya yang akan dikeluarkan jika mengadakan 2 acara di 2 tempat dan waktu yang berbeda.Saya dan Ibas sepakat untuk mengadakan akad nikah dan resepsi di tempat dan hari yang sama dengan menyewa gedung karena beberapa pertimbangan. Alhamdulillah, keluarga mendukung keputusan kami.

Pencarian tanggal juga berbanding lurus dengan gedung dan para vendor. Mengapa demikian? Hubungan antara gedung dan tanggal telah saya jelaskan di atas. Beberapa gedung biasanya telah memiliki rekanan para pengisi acaranya, bahkan ada beberapa yang mewajibkan untuk menggunakan rekanan mereka. Ada juga beberapa gedung yang membebaskan calon pengantin menggunakan jasa rekanan mereka (tanpa charge tambahan) atau memilih vendor lain (dengan charge tambahan). Jadi hal ini perlu ditanyakan dulu kepada pihak gedung.

Kami memilih tanggal 12 Februari 2012, sebagai tanggal akad nikah dan resepsi kami. Banyak yang mengira kami ingin tanggal cantik (12022012), namun bukan itu alasan utama kami. Kebetulan, gedung yang kami inginkan kosong pada tanggal tersebut. Kami menjatuhkan pilihan kepada Gedung Sasana Amal Bakti milik Kementrian Agama Republik Indonesia yang berada di Jl. Lapangan Banteng, Jakarta Pusat. Alasannya sederhana : lokasi tak jauh dari rumah saya, tanggal kosong yang tersedia tak jauh dari rencana kami, dan pastinya harga terjangkau dengan budget kami. :) Mengapa memilih lokasi yang tak jauh dari rumah saya? Pada saat akad nikah, pastinya calon mempelai wanita yang membutuhkan banyak waktu untuk dirias. Setelah saya bertanya kepada beberapa sumber, dibutuhkan tak kurang dari 3 jam untuk merias calon mempelai wanita hingga selesai. Bisa dibayangkan, jika akad nikah dilakukan pada jam 8 atau 9 pagi, berarti jam 5 atau 6, saya sudah harus tiba di lokasi. Jika lokasinya jauh dari rumah saya, masa saya harus menginap di lokasi? Hehehehe...

Friday, January 20, 2012

KUA atau Rumah atau Gedung?

Lokasi acara memang salah satu hal terpenting saat memutuskan untuk menikah, selain tanggal tentunya. Sebelum menentukan atau mencari lokasi, kita harus menentukan dulu apakah hanya mengadakan akad nikah atau dilanjutkan dengan resepsi.

KUA
Kantor Urusan Agama dapat menjadi pilihan lokasi untuk akad. Ada beberapa alasan untuk memilih KUA sebagai tempat berlangsungnya akad nikah :
- Harga administrasi pernikahan dan honor penghulu lebih murah daripada akad nikah dilakukan di luar KUA (di rumah atau gedung)
- Calon Pengantin tidak perlu menyediakan ruangan, meja, kursi, microfon, sound, dan lain sebagainya, karena di KUA sudah disediakan. Kita tinggal datang berpakaian rapih dan membawa keperluan pernikahan (mempelai pria, mempelai wanita, wali nikah, saksi nikah, mahar)
- Calon Pengantin juga dapat membawa beberapa orang keluarga dan kerabat, karena KUA akan menyediakan ruangan Serbaguna untuk akad nikah beserta beberapa kursi. Tapi sepanjang pengetahuan saya, kursi yang disediakan oleh KUA biasanya tak lebih untuk 50 orang.

Rumah
Biasanya calon pengantin mengadakan akad nikah dan resepsi di rumah, karena beberapa alasan berikut :
- Calon pengantin mengadakan akad nikah di rumah, lalu mengadakan resepsi di rumah, biasanya karena terbentur "tanggal baik", yaitu tanggal yang biasanya adalah hasil perhitungan sesepuh keluarga dari hari lahir kedua calon pengantin. "Tanggal baik" ini biasanya jatuh pada hari kerja (Senin - Jum'at), sedangkan teman-teman calon pengantin sulit hadir. Sehingga biasanya pada saat akad nikah, hanya mengundang keluarga dekat. Pada saat resepsi yang diadakan pada akhir minggu, baru mengundang kerabat dan teman-teman.
- Acara pernikahan (biasanya resepsi) yang diadakan di rumah, biasanya diadakan sepanjang hari, dari pagi hingga malam. Hal ini agar semua undangan dapat hadir pada waktu yang sesuai dengan kesediaan waktu mereka.

- Calon pengantin yang memutuskan mengadakan acara akad nikah di rumah, lalu resepsi di luar rumah, biasanya selain karena alasan poin pertama ("Tanggal baik"), juga karena rumahnya kurang terjangkau. Bisa karena ukuran rumah terlalu kecil, berada di gang kecil, atau jalan menuju rumah sulit terjangkau.

Gedung
Calon pengantin yang memutuskan untuk mengadakan akad nikah dan resepsi di luar rumah, biasanya karena alasan-alasan berikut :
- Ukuran rumah terlalu kecil untuk menampung tamu yang biasanya berjumlah ratusan.
- Rumah berada di kawasan padat penduduk dan atau di gang kecil
- Jalanan menuju rumah sulit terjangkau, bisa karena jauh dari jalan utama, tidak ada angkutan umum, atau kondisi jalan yang rusak.
- Mencari lokasi yang lebih dekat dengan sebagian besar rumah para tamu
- Mencari lokasi yang berada di antara rumah kedua calon pengantin
- Agar acara tidak berlangsung seharian, karena keterbatasan waktu dan tenaga.

Saya dan Ibas sepakat untuk mengadakan akad nikah dan resepsi di tempat dan hari yang sama di luar rumah. Berikut beberapa alasannya :
1. Kedua rumah orang tua kami masing berada di gang kecil dengan luas rumah yang tidak terlalu besar.
Kami ingin membuat para tamu dapat berada di tempat pernikahan kami selama acara berlangsung tanpa takut tidak mendapatkan space.
2. Keterbatasan waktu dan tenaga. Sebenarnya ini keinginan pribadi kami. Rasanya kami tak sanggup harus berpakaian adat selama seharian penuh, sekalipun jika acara di rumah biasanya 2 hingga 3 kali ganti baju. Terutama saya, yang berencana memakai sunting adat minang itu.
3. Sebenarnya ada usulan dari kedua orang tua kami untuk memisahkan acara akad nikah dan resepsi. Hal ini agar dapat memecah tamu menjadi 2 bagian. Namun kami menolak dengan alasan, memisahkan tempat dan waktu akad nikah dan resepsi akan memakan waktu, tenaga, dan biaya yang lebih besar. :)

Sebenarnya, memutuskan dimana tempat diadakannya acara pernikahan, dapat diputuskan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan. Hohoho.. It is getting closer, sodara-sodara.. ^_^

Wednesday, January 18, 2012

Check List


Setelah kami sepakat untuk menikah, kami mulai googling hal-hal yang perlu dipersiapkan. Berikut adalah hal-hal yang harus dipersiapkan secara garis besar :

1. Gedung Akad dan Resepsi
2. Catering Akad dan Resepsi
3. Tata rias dan busana Akad dan Resepsi
4. Pelaminan dan dekorasi Resepsi
5. Foto dan Video Akad dan Resepsi
6. MC Akad dan Resepsi
7. Hiburan dan Tari-tarian Resepsi
8. Undangan
9. Souvenir
10. Administrasi RT, RW, Kelurahan, KUA
11. Penghulu
12. Seserahan
13. Mahar / Mas Kawin (wajib)
14. Transportasi ketika hari H
15. Baju seragam keluarga (optional)

Let's hunting.. ^_^

Sunday, January 15, 2012

Lamar Melamar

Sebenarnya Ibas sudah melamar secara personal ketika awal kami dekat dan sudah meminta kepada orang tua saya. Jadi proses lamaran ini adalah sebagai perkenalan kedua keluarga yang baru pertama kali bertemu, sekaligus permintaan secara resmi dari keluarga Ibas untuk menjadikan saya mantu. :D Biasanya sih dalam lamaran ini dibicarakan hal-hal yang berhubungan dengan pernikahan, seperti tanggal, tempat, dan biaya. Tapi berhubung kedua pihak keluarga mempercayakan segala keputusan kepada kami berdua, jadi hari itu lebih banyak diisi dengan perkenalan antara kedua keluarga.

Berikut susunan acara lamaran itu :
1. Pembukaan acara oleh pembawa acara, yang saat itu adalah kakak saya.
2. Pihak keluarga pria mengutarakan maksud dan tujuan kedatangan rombongan keluarga pria yang diwakilkan oleh utusan yang sudah ditunjuk. Saat itu yang mewakilkan adalah adik laki-laki bapaknya Ibas.
3. Kemudian dari pihak keluarga wanita akan memberikan sambutan penerimaan sebagai tanda bahwa pihak keluarga menyambut baik rencana lamaran dari pihak pria. Saat itu yang mewakilkan adalah adik laki-laki tertua mama saya.
4. Perkenalan keluarga masing-masing, yang biasanya diawali oleh keluarga pihak pria baru kemudian keluarga pihak wanita.
5. Penyerahan hantaran oleh pihak pria secara simbolis.
6. Penyerahan balasan hantaran oleh pihak wanita secara simbolis.
7. Ibu dari calon mempelai pria memakaikan cincin kepada calon mempelai wanita
8. Penutupan oleh pembawa acara yang diteruskan dengan doa bersama, bertujuan agar segala sesuatu yang telah direncanakan dapat berjalan dengan lancar.
9 Acara ramah-tamah yang diisi dengan makan siang bersama yang sebelumnya telah disiapkan.

Hantaran
Sebenarnya saya tidak terlalu ingat detail hantaran lamaran yang dibawa oleh Ibas sekeluarga. Karena acara penyerahan hantaran dilakukan ketika saya masih 'disembunyikan' di dalam kamar. Ketika acara makan siang selesai pun, semua hantaran langsung dibagi menjadi beberapa bungkusan untuk dibagikan ke saudara dan tetangga. Hal yang saya ingat adalah semua hantaran itu merupakan makanan dan minuman, tidak ada barang pribadi. Nanti saya coba lihat di kumpulan foto pada saat acara lamaran ya, semoga adik saya memotret semua hantaran. :D

Percaya tau tidak, saya dan Ibas hampir tidak mengobrol selama acara berlangsung. Kami juga baru menyadari ketika acara sudah selesai bahwa kami terlalu fokus terhadap keberhasilan acara. Saya sendiri baru keluar dari kamar ketika acara hampir selesai, yaitu ketika ibunya Ibas akan memakaikan cincin. Pada saat makan bersama pun, Ibas menemani para bapak-bapak dari kedua keluarga dan saya menemani para ibu-ibu nya. Yang saya paling ingat adalah ketegangan kami berdua selama acara. Tangan saya mendadak dingin dan gemetar ketika akan dipakaikan cincin oleh Ibu nya Ibas. Ibas pun tak banyak bicara selama acara. hehehe.. Alhamdulillah, acara berlangsung lancar. Ready to the next step, go find vendors. B-)

Thursday, January 12, 2012

I am Getting Married

Kenapa Menikah Sekarang?
[X] usia sudah 'cukup'
[X] sudah bekerja
[X] sudah ada pasangan
[X] sudah disuruh orang tua

Ketika lulus kuliah, ditanya "Kapan kerja?". Sudah kerja, ditanya "Kapan nikah?". "Usia sudah cukup, pekerjaan sudah ada, pasangan sudah ada, nunggu apa lagi sih?". Orang tua saya, selayaknya orang tua lainnya, ingin anak-anaknya bahagia dengan pasangan hidupnya kelak. Mereka ingin kami, anak-anaknya, mendapatkan orang yang dapat meneruskan tanggung jawab mereka menjaga kami. Namun, mereka mempercayakan pilihan kepada kami.
Beberapa teman yang sudah mengenal saya sejak masih sekolah dan kuliah sering mempertanyakan kenapa saya agak "dingin" dengan beberapa lelaki yang mendekati saya. Bukan berarti orientasi biologis saya menolak lelaki. Ketika usia sudah mencapai seperempat abad, banyak yang bilang "Udah, jangan terlalu pemilih. Nanti malah g ada yang mau memilih.". Saya sungguh tidak bisa menjadi "jual murah" dengan tidak memilih. Saya ingin menikah sekali seumur hidup dengan orang yang bisa menjadi partner menjalani rumah tangga hingga maut memisahkan. Saya yakin banyak yang setuju dengan kalimat klise itu. Semua akan indah pada waktunya. Jadi, ketika saya beberapa kali menjalin hubungan dekat dengan lelaki, lalu kemudian berakhir, saya yakin memang sudah seharusnya begitu. Semua hal yang saya alami di kehidupan saya pasti membawa hikmah yang besar. 

Kenapa dengan dia?
Cinta karena Allah tidak selalu membutuhkan beragam kesamaan di antara kalian. Namun, yang terpenting adalah kesamaan prinsip dan tujuan, yaitu menggapai ridha Allah SWT.
Saya sendiri, bahkan juga dia, tidak menyangka bahwa kami akan menikah. Kami memang berteman sudah lama, tapi hanya sekedar kenal bahwa kami satu almamater, bahkan mungkin kuantitas obrolan kami dapat dihitung dengan jari. Ketika akhirnya kami memiliki kesempatan untuk dekat, sudah beberapa tahun setelah kami lulus. Saya selalu percaya bahwa jika hati ragu, maka jangan ambil keputusan itu. Saya selalu meminta agar Allah SWT yang menggerakkan hati saya untuk mengambil keputusan yang tepat dan terbaik untuk saya. Saat dia bilang ingin menjadikan saya istrinya, ada yang berbeda di hati saya. Saya yang selama ini takut dan penuh keraguan ketika ada lelaki yang melamar, mendadak yakin dan berani untuk mengangguk dan menjawab "Ya, aku bersedia". Padahal saat itu baru genap sebulan kedekatan kami. Teman-teman kami tidak ada yang percaya bahwa saya semudah itu 'ditaklukan'. :P Well, let's see about our difference. Saya wanita, dia pria. Saya kuning langsat, dia sawo matang. Saya cerewet, dia pendiam. Saya tipe yang banyak beraktifitas di pagi hari, sedangkan dia di malam hari. Saya planner, dia spontan. Saya tegas, dia pemaaf. Saya programmer, dia Network Engineer. Saya Scorpio, dia Leo. Dan masih banyak perbedaan lainnya. Bahkan ketika masih belajar di almamater yang sama, teman main kami pun berbeda. 

Lalu apa yang selanjutnya terjadi?
Kami sepakat hal pertama yang kami lakukan ketika berencana menikah adalah menabung. Hal itu kami lakukan bahkan sebelum mengatakan rencana ini kepada kedua orang tua masing-masing. Kami sadar, sesederhana apapun acara pernikahan kami kelak, pasti membutuhkan biaya. Jadi, seminggu setelah kami sepakat untuk menikah, kami membuka akun bank terpisah untuk menabung. Kenapa terpisah? Hanya untuk menjaga keharmonisan hubungan, mengingat kami belum menjadi suami istri. Jadi, jika ternyata rencana kami tidak sama dengan rencana Allah, tidak akan ada ganjalan di kemudian hari. Tapi tentunya kami berprasangka baik dan terus berdoa semoga rencana kami sejalan dengan rencana Allah SWT. Amin Ya Rabb.
Selama beberapa bulan selanjutnya kami mempersiapkan diri untuk mengatakan rencana kami terhadap kedua orang tua. Mengingat bahwa kami baru saja dekat, tentu orang tua juga perlu dipersiapkan untuk mendengar berita itu. :P Sekitar 4 bulan setelah jadian, kami berdua menghadap kedua orang tua untuk mengatakan rencana pernikahan ini. Deg-deg an nya jauh melebihi ketika akan menghadapi wawancara kerja. hehehe.. Tentunya banyak nasihat-nasihat yang diberikan oleh mereka, yang kami dengarkan dengan seksama. Intinya, mereka mempertanyakan kesiapan mental kami, menghadapi perbedaan di antara kami, menerima kelebihan dan kekurangan keluarga masing-masing. Dengan mengucapkan bismillah, kami berdua siap. B-)
Sebulan kemudian, terjadilah lamaran secara resmi. Hmm, maksudnya keluarga Ibas datang menemui keluarga saya melamar saya untuk anak mereka. Bagaimana kisahnya? Tunggu post selanjutnya. :)

You know what? Sampai sekarang, saya kadang masih kaget bahwa saya akan menikah. :D

Thursday, March 12, 2009

Di luar rencana seorang planner


Saya akui bahwa saya seorang planner dan ini saya sadari ketika beranjak remaja. Dari kecil dulu, semua yang saya lakukan sebagian besar sudah direncanakan sebelumnya. Mungkin juga sebagian karena didikan orang tua saya yang mengharuskan bangun pagi jam sekian agar tidak telat sekolah, jam sekian pulang sekolah, jam sekian makan siang, jam sekian tidur siang, jam sekian harus sudah bangun dan mandi sore karena ada sekolah madrasah malam harinya, dan seterusnya. Perencanaan itu mau g mau membekas dan jadi sebagian dari jati diri saya. Dari kecil saya dan kakak saya (waktu itu adik saya belum lahir) suka diajak bepergian oleh orang tua. Walaupun hanya keluar makan malam di malam minggu atau pergi ke ancol sebulan sekali. Bepergian itu juga kadang saya lakukan bersama teman sekolah. Setiap akan bepergian, saya selalu mencamkan rencana tersebut di otak saya dan akan melakukan persiapan beberapa hari sebelumnya. Padahal sih mama yang akan mempersiapkan segala sesuatunya seperti bekal makanan ataupun pakaian, karena saya masih kecil. Tapi biasanya saya juga harus mempersiapkan bawaan sendiri, karena masih kecil yah..yang dipersiapkan paling makanan kecil seperti chiki, wafer, dan lain sebagainya. ;)) Ketika beranjak remaja, saya mulai terbiasa mempersiapkan segala sesuatunya sendiri, terlebih ketika saya masuk smp islam dengan fasilitas asrama.

Dalam benak saya jika semua sudah dipersiapkan dengan baik sebelumnya akan membuat semuanya berjalan dengan baik. Tapi ada akibat negatif dari sifat saya ini. Saya jadi cenderung perfeksionis. Saya jadi gusar (a.k.a. BT) kalau yang terjadi tidak seperti yang saya rencanakan. Saya juga jadi suka memaksa orang lain untuk mengikuti rencana yang saya buat dan kurang percaya untuk membagi tugas ke orang lain. Apalagi kalau ternyata rencana orang lain (yang tidak sama dengan rencana saya) tidak berjalan dengan baik, saya jadi cenderung menyalahkan si empunya rencana. Tapi pengalaman hidup benar-benar mengajarkan hal ini dan sedikit demi sedikit merubah saya ke arah yang lebih baik (amin).

Lulus SD saya sudah diterima di smp yang 99% temen sd saya diterima juga di sana. Tapi orang tua saya memiliki rencana lain dan memasukkan saya ke smp islam berasrama di daerah bekasi. Saat itu karena masih kecil saya nurut saja (karena belum bisa memilih). Tapi di smp islam itu saya belajar bagaimana berinteraksi dengan orang lain selama 24 jam. Saya dilatih untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan, peka dengan sekitar, mengalah, tidak egois, tidak pelit, bersikap empati, mengerjakan pekerjaan rumah tangga sendiri (mencuci dan menyetrika baju sendiri, mencuci piring sendiri, merapikan tempat tidur sendiri, dsb), cara bicara yang baik kepada orang yang telah mendzolimi kita, taat pada peraturan, dan belajar menutup aurat dengan baik.

Lulus smp saya mulai tahu apa yang saya inginkan, jadi saya ingin masuk sma dimana banyak teman-teman sd saya. Perbedaan standar nilai antara Bekasi dan Jakarta membuat saya gagal masuk ke sma tersebut. Tapi di sma itu, saya belajar untuk tidak memaksakan kehendak pada orang lain, tidak menyembunyikan sesuatu yang harusnya dibagi bersama teman, berinteraksi dengan lawan jenis yang sebaya (karena smp saya khusus perempuan) dengan baik, peka dengan keadaan teman, ikhlas melepaskan yang bukan untuk kita, berkompetisi dengan sehat, berbicara di depan publik dengan baik, debat publik, mengorganisasikan keuangan dengan baik, bersikap tegas, berteman dengan bermacam-macam sifat dan latar belakang, dan belajar memikirkan masa depan.

Lulus sma, saya sebenarnya belum bisa memastikan ingin jadi apa saya nantinya. Masuk fakultas kedokteran adalah keinginan orang tua saya yang kemudian menjadi keinginan saya juga. Saya menyanggupinya karena saya suka sekali pelajaran biologi dan sains lainnya (fisika dan matematika). Kalau keinginan hati sih sebenernya saya suka sekali masak, tapi niat untuk melanjutkan kuliah masak-masak kurang disetujui oleh keluarga. Menurut mereka masak itu bisa ditekuni di luar bangku kuliah, istilah kata kalau mau jadi tukang masak g usah kuliah tinggi-tinggi :P. Akhirnya saya ikut spmb dengan pilihan kedokteran. Saya pun mengikuti test masuk fakultas kedokteran di beberapa perguruan tinggi swasta di Jakarta. Tapi semua itu gagal, hanya 1 yang keterima di bangku cadangan, namun dapat dipastikan orang tua saya tidak mampu membayar biayanya (cadangan jauh lebih mahal dari non cadangan). Akhirnya saya sempat tidak semangat untuk kuliah, karena selama itu yang ada di otak saya hanya kedokteran. Tapi orang tua saya tidak membiarkannya. Dulu ketika masih sma, ada beberapa universitas promosi ke sekolah dengan mengadakan tes masuk gratis di sekolah. Waktu itu sih saya ikutan karena iseng aja. :) Dari beberapa ada 3 universitas yang berhasil saya masuki. Tapi yang dua diantaranya saat itu sudah lewat tanggal pendaftaran ulangnya. Satu-satunya pilihan adalah STT-PLN fakultas teknik jurusan teknik elektro.

Awalnya sih saya sempat ragu, karena jurusan yang berimage "keras" (95% mahasiswanya adalah laki-laki) dan tempatnya yang jauh (di daerah cengkareng jakarta barat). Tapi setelah saya menanyakan pada Allah SWT, saya pun memantapkan pilihan. Alhamdulillah diberikan kemudahan karena ternyata boleh pindah jurusan. Saya memilih jurusan Teknik Informatika karena sudah tertarik dengan "komputer" sejak sma tapi waktu itu tidak kepikiran untuk mendalaminya. Setelah menjalani kuliah di tahun pertama, saya menemukan hal yang membuat saya akan betah di jurusan itu, mata kuliah analisa pemrograman. :) Kesukaan saya terhadap matematika membuat saya bertahan bahkan mempermudah saya mendapatkan nilai yang cukup bagus di bangku kuliah, karena lebih dari 60% mata kuliahnya berhubungan dengan matematika.

Lulus dari bangku kuliah, saya sempat menjadi pengacara (a.k.a. pengangguran banyak acara :P). Saat itulah saya menyalurkan hasrat masak-masak untuk dijual di sekolah adik saya. Hasilnya lumayan untuk menambah uang jajan saya dan adik saya. Setelah beberapa bulan menganggur, alhamdulillah saya mendapatkan pekerjaan impian saya sejak bertemu dengan mata kuliah analisa pemrograman itu, seorang programmer.

Sejak sma saya belajar untuk memikirkan masa depan, mulai dari pendidikan selanjutnya, pekerjaan, maupun pasangan hidup. Tapi saya baru benar-benar memikirkan tentang pasangan hidup saya kelak ketika saya duduk di bangku kuliah. Entah kenapa, mungkin baru di usia segitu, pikiran saya baru terbuka bahwa saya juga ingin membuat keluarga sendiri lepas dari kedua orang tua. Saya yang memang tidak jago untuk urusan begini selalu mengandalkan hati yang akan digetarkan oleh Allah SWT jika bertemu dengan pilihanNYa. Beberapa kali rencana saya untuk hal ini pun gagal. :D Sampai sekarang pun (sepertinya) belum benar-benar terbuka jalan untuk itu, tapi saya tidak berhenti berusaha membuka jalan saya sendiri mencari orang yang telah disediakan oleh Allah. Siapapun dia, saya cuma bisa berdoa semoga saya bisa menerima dia apa adanya dan sebaliknya, dan dapat membahagiakan kedua orang tua kami. Kapanpun dia datang, semoga dia datang di waktu yang tepat. :)

Banyak kejadian dalam hidup saya yang melenceng atau malah sama sekali berbeda dari rencana saya. Tapi saya selalu menemukan hal baik setelahnya. Saya percaya Allah Maha Baik sama saya. Kegagalan-kegagalan rencana saya membuat saya belajar untuk :
1. Tidak berharap 100% pada rencana yang saya buat
2. Selalu memiliki rencana B,C, sampai Z :)
3. Ikhlas ketika yang terjadi tidak seperti yang saya inginkan
4. Selalu ada hal baik yang saya dapatkan setelah kegagalan itu
5. Tidak over perfeksionis
6. Lebih percaya terhadap orang lain
7. Melobby (bukan memaksa) orang lain terhadap rencana saya
8. Menerima masukan dari rencana orang lain
9. Mengendalikan emosi (marah,senang,sedih,kecewa)

Saya adalah manusia biasa yang tentu sedih ketika sesuatu terjadi tidak seperti yang saya inginkan. Saya juga manusia biasa yang memiliki rencana dalam hidup saya. Saya merasa lebih hidup dengan adanya rencana karena jadi tahu kenapa harus bangun pagi esok hari.

Rencana besar dalam hidup saya saat ini adalah :
1. pekerjaan yang hasilnya dapat membantu keuangan keluarga (sebagai orang gajian dan insya allah sebagai wirausahawati) dan buat tabungan masa depan saya pribadi..
2. melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, mudah-mudahan ini juga bisa jadi tabungan masa depan saya..
3. mencari pasangan hidup yang baik dan diridhoi Allah SWT, mudah-mudahan ini juga buat tabungan masa depan saya..
Sekali lagi ini baru rencana dan saya sedang berusaha mempersiapkan semuanya. Selebihnya saya cuma bisa berdoa semoga Allah membukakan jalan yang baik untuk saya dan rencana-rencana saya. Amin

Tuesday, July 1, 2008

Liburan...

Akhirnya masuk kantor lagi, setelah kemarin ijin tidak masuk kantor :)
Selama 3 hari, aku sekeluarga pergi ke Bandung, dengan tujuan utama menghadiri pernikahan sepupuku (mba alin) dari keluarga papa. Sebenarnya aku sudah lama sekali tidak bertemu keluarga om ghafur, kalau tidak salah sudah lebih dari 15 tahun. Jadi tentu saja aku agak pangling begitu bertemu dengan ketiga sepupuku itu (mas angga, mba alin, adhis), terutama si kecil adhis, yang ternyata sudah kuliah ;)

Berangkat dari Jakarta menggunakan jasa travel Cipaganti, yang bertolak di Cikini. Semula ingin berangkat dari cempaka mas, karena lebih dekat dari rumah. Tapi karena ada masalah di reservasi, sehingga tidak bisa memesan tiket pp, jadi kami sekeluarga memutuskan untuk berangkat dari Cikini. Rencana semula berangkat hari Jumat malam (setelah jam kantor tentunya), harus berubah karena pada jam tersebut sudah full booked, bahkan semua jam di hari Jumat. Akhirnya kami memesan tiket untuk hari Sabtu jam 06.30 dan tiket untuk kembali hari Senin jam 16.30.

Sampai di Cipaganti mtc, kami dijemput om ghafur dan langsung diantarkan ke wisma untuk beristirahat dan sarapan. Sehabis dzuhur, karena lelah, aku tidur hingga hampir ashar, begitu juga mba iin dan mbah nur. Sehingga hanya papa, mama, dan uus saja yang mampir ke rumah om ghafur sehabis dzuhur. Malamnya kami sekeluarga makan di gerai fast food tak jauh dari wisma. Intinya, hari itu kami habiskan untuk melepas lelah.


Keesokannya kami dijemput jam 6 dari wisma, karena harus bersiap-siap untuk menghadiri akad nikahnya. Dan setelah hampir 20 tahun tidak pernah menggunakan kain, aku harus 'berjuang' melilitkan kain sebagai pelengkap pakaian seragam keluarga pengantin. Dan lucunya, ternyata 90 % dari keluarga calon pengantin (wanita) dan pendukung acara (pagar bagus, dll) juga kesulitan melilitkan kainnya yang memang bukan pakaian sehari-hari ;) Tapi alhamdulillah semua 'perjuangan' itu berakhir cukup sukses, dan akad nikah dapat diadakan lebih awal dari jadwal. Akad nikah berlangsung hikmat, namun setelah penghulu meninggalkan tempat dan acara akad nikah dipandu MC, suasana mulai mencair. Tak jarang MC melemparkan joke-joke yang cukup segar, dari menanyakan panggilan sayang kepada pengantin, hingga ledekan pada papaku yang mendadak didaulat untuk mengucapkan sepatah kata dari pihak pengantin wanita. Yang paling seru menurutku adalah tradisi nyawer, yang dalam tradisi sunda adalah melemparkan suatu barang yang ringan. Saat itu yang dilempar berupa permen, uang koin, dan uang kertas (Rp.1000-Rp.10000, kata MC nya). MC sempat menjelaskan arti tradisi tersebut, namun aku agak lupa. Yang kuingat adalah uang koin yang memiliki 2 sisi namun tidak dapat dipisahkan, begit juga suami dan istri. Permen yang berarti kemanisan dalam rumah tangga. Ketika orang tua dari kedua pengantin mulai menyawer, suasana mendadak riuh. Aku, uus, dan mba iin juga ikut menampung saweran yang datang ke dekat tempat duduk kami. Namun yang berhasil kami kumpulkan hanya Rp 4000 dan 20 buah permen, tapi seru sih...



Siangnya dilanjutkan dengan acara resepsi. Yang mengusik fikiran kami sekeluarga adalah adat yang dipergunakan dalam acara pernikahan sepupuku adalah adat sunda. Padahal sepupuku adalah keturunan Kalimantan dan Jawa Tengah. Sedangkan suaminya adalah keturunan Jawa Tengah. Kemungkinan besar hal tersebut karena resepsi diadakan di Bandung. Kembali ke acara respsi, ritual yang selalu dilakukan olehku dan uus adalah berkeliling untuk survey makanan :P hampir selalu di acara resepsi kami hanya makan makanan yang di 'gubuk-gubuk' yang memang lebih bervariatif. Saat itu, yang menjadi 'incaran' kami adalah chicken gordon blue dan zupa soup. Yang lainnya sate ayam, martabak telor, ice cream, salad, buah, dan coca cola. Tentu saja semua itu kami makan dalam porsi kecil, agar bisa masuk ke perut kami :) Karena mbah sudah lelah, kami pulang ke wisma sebelum acara selesai. Malamnya kami makan malam bersama di wisma, dan beristirahat.

Keesokan paginya, kami berencana untuk menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan ke kota sambil menunggu waktu kepulangan. Setelah puas berjalan-jalan di sekitar jalan dago, kami memutuskan untuk mengisi perut di restoran cabe rawit, atas rekomendasi temanku ienay. Agak susah bagi kami, yang bukan orang bandung, untuk menemukan lokasi cabe rawit yang memang agak terpencil. tapi akhirnya kami menemukannya di jalan Teuku Umar. Ternyata rekomendasi ienay tidak percuma. Porsi yang disajikan selalu dalam ukuran jumbo. Bahkan kami membatalkan memesan smoothies, karena tidak sanggup lagi memasukkannya ke perut kami :) Kami membungkuskan gurame saos mentega untuk dibawa pulang ke wisma. Menjelang sore kami pulang ke wisma, dan langsung membereskan barang2 untuk dibawa pulang ke Jakarta. Sekitar pukul 15.30, om ghafur dan mas angga menjemput. Kami sempat mempir ke rumah mereka untuk berpamitan dengan keluarga yang lain. Tepat pukul 16.15, kami sampai di Cipaganti MTC untuk check in. Sekitar jam 16.30an, kami sudah meluncur menuju Jakarta.

Sampai di Cipaganti Cikini sekitar jam 19.00an, kami memutuskan untuk sholat dan beristirahat sejenak. Satu setengah jam kemudian kami sudah berada di rumah tercinta.

n_n