Showing posts with label liburan. Show all posts
Showing posts with label liburan. Show all posts

Wednesday, February 22, 2012

Bali Day Three

Tak terasa, ini hari terakhir honeymoon kami di Bali. Hari ketiga kami merencanakan untuk berjalan-jalan ke tempat wisata yang jauh dari Kuta. Untuk itulah kami memesan mobil beserta supir yang dapat sekaligus menjadi guide.

Setelah sholat subuh, kami langsung beres-beres barang-barang dan memasukkan ke dalam koper. Seharusnya sih kami lakukan malam sebelumnya, tapi apa daya badan tepar karena seharian berkeliling. Hehehe... Barang sudah rapih, kami langsung sarapan di hotel. Saat sedang sarapan, supir yang kami sewa menelpon dan mengabarkan bahwa dia sudah siap menunggu di halaman depan hotel. Kami langsung bersiap-siap, checkout dari hotel dan mengembalikan motor yang kami sewa.

Begitu mobil meluncur meninggalkan hotel, saya langsung bertanya agenda jalan-jalan kami kepada supir sekaligus guide kami. Dia menyarankan untuk ke tanjung benoa karena di sana banyak aktifitas air seru yang bisa dilakukan. Ehm, tentu saja kami terpaksa menolak usul tersebut, karena kami (baca : suami saya) tidak cocok di air. Hehehe.. Akhirnya tujuan pun diarahkan menuju Gunung Kintamani.

Sebelum sampai di Gunung Kintamani, kami mampir ke beberapa tempat. Tempat pertama adalah tempat pentas Tari Barong. Di tempat ini ada sedikit perbedaan dengan pementasan Tari Barong yang kami tonton di GWK. Di tempat ini pementasannya lebih lama durasinya, lebih banyak. Hal yang paling membuatku tertarik adalah di tempat ini, penonton dibagikan kertas berisi cerita yang dipentaskan, dan ditulis dalam berbagai macam bahasa di dunia.

Mammoth Art Galery - Perak adalah tujuan kami selanjutnya. Tempat ini terdiri dari 2 bangunan yang tak terlalu besar. Bangunan pertama merupakan workshop dan bangunan lainnya berisi banyak etalase untuk display. Harganya memang cukup mahal, namun mengingat barang-barang dari perak tersebut dibuat langsung oleh tangan, maka harganya memang sesuai dengan kualitas barangnya. Barang-barang yang dijual di sini tidak hanya perhiasan.

Tempat yang paling membuatku senang adalah tujuan kami selanjutnya. Kenapa? Karena kami mendapatkan banyak minuman gratis. Hehehe.. Sebenarnya Satria adalah salah satu tempat yang terkenal dengan Kopi Luwak nya. Kata pengurus tempat ini, kopi yang dibuat merupakan kopi yang langsung diambil dari luwaknya. Memang sih, di depan gerbangnya ada beberapa luwak yang sedang bersantai di kandangnya. Namun, tak hanya luwak yang diproduksi di sini. Namun banyak juga olahan teh, coklat, dan jahe.

Akhirnya kami sampai di puncak tujuan kami, yaitu kaki gunung Kintamani. Hawanya sangat sejuk dan menenangkan. Karena belum makan siang, maka kami makan siang di salah satu restaurant rekomendasi dari tour guide kami.

Sebelum kami turun, kami diajak mampir ke Tirta Empul Temple. Temple ini merupakan tempat yang terkenal menghasilkan air suci. Air yang dipercaya dapat memberikan banyak manfaat bila diminum atau dipakai untuk mandi. Bahkan konon katanya bila kita membasuh wajah dengan air ini, bisa membuat kita tampak awet muda. Ehm. :P Temple ini terletak tak jauh dari istana Tampak Siring.

Karena hari sudah beranjak sore, maka kami mulai turun menuju ke kota. Kami diajak untuk membeli oleh-oleh di Hawaii, salah satu tempat menjual oleh-oleh khas Bali selain Khrisna. Niat kami selanjutnya sebenarnya adalah membeli pie susu yang terkenal itu. Tapi sayang tokonya sudah tutup. Menurut info yang kami dapat dari guide, untuk dapat membeli pie susu tersebut, kami harus memesan lewat telp. Bahkan  karena banyaknya permintaan, kabarnya ada yang memesan 3 hari sebelumnya. Wuiih..

Sebelum ke airport, kami meminta untuk mampir ke tempat makan. Makan malam dipilihkan Ayam Betutu khas Bali. Warungnya terletak tak jauh dari Bandara. Sambal matahnya luar biasa pedas, terutama untuk saya yang tidak kuat dengan pedas. Hehehe.. Selesai makan, kami berencana langsung ke bandara. Naasnya, mobil yang kami sewa tiba-tiba mogok. Untungnya ada mobil pengganti yang segera datang dari tempat penyewaan. Setelah memindahkan koper dan barang-barang lainnya, kami segera menuju ke airport.

Akhir waktu penyewaan mobil kami adalah jam 9 malam, sedangkan flight kami jam 11 malam. Kami memang mengambil flight terakhir untuk kembali ke Jakarta. Kami memutuskan untuk menunggu di airport hingga waktu boarding tiba. Bye-bye Bali, welcome Jakarta!

Monday, February 20, 2012

Bali Day Two

Hmm... Pagi kedua di Bali.. Kami sangat bersemangat sekali hari ini, karena berencana mengejar matahari terbit di pantai, mumpung pantai hanya tinggal beberapa jingkring dari hotel. :P Tapi sayangnya, kami tidak mencari info yang akurat. Ternyata, posisi pantai Kuta itu tidak tepat untuk melihat matahari terbit, tapi lebih pas untuk melihat matahari terbenam. Jadi, sampai 1 jam kami menunggu, matahari terbit itu tak kunjung terlihat. Hehehe... Akhirnya kami memutuskan kembali ke hotel untuk sarapan dan mandi. 

Hari kedua, itenari lebih padat daripada hari pertama. Kami berencana untuk berkeliling Bali hingga malam. Tujuan pertama adalah Garuda Wisnu Kencana (GWK). Saya tidak menyangka bahwa letak GWK sangat jauh dari hotel tempat kami menginap. Ibas sangat jago membaca peta, sehingga kami dapat sampai tujuan tanpa nyasar. :-* Tiket masuk GWK adalah Rp. 30,000 untuk wisatawan lokal, Rp. 25,000 untuk anak-anak, dan Rp. 60,000 untuk wisatawan asing. GWK ternyata cukup luas, banyak tempat di sana yang dapat digunakan sebagai background untuk berfoto. Kami menyempatkan berfoto di depan patung Garuda dan Wisnu. Di sana juga ada pertunjukan yang dapat dinikmati.

Selesai berkeliling plus berfoto di GWK, kami menyempatkan untuk makan siang di pantai Jimbaran, yang lokasinya tak terlalu jauh dari GWK. Karena kami datang ke pantai tersebut pada saat jam makan siang, maka hawa di sana sangatlah panas. :P Seperti restoran di pantai pada umumnya, restoran-restoran yang ada menyajikan berbagai macam makanan laut. Kami memesan nasi putih, ikan bakar, kangkung balacan, disajikan dengan 3 macam sambal. 

Perut kenyang, saatnya kembali ke tengah kota. Kami memutuskan untuk kembali ke Joger, membeli kaos untuk oleh-oleh dan untuk kami berdua. Ukuran kaos di Joger cukup besar, mungkin standar ukurannya mengikuti standar orang luar Indonesia, mengingat banyak wisatawan asing yang datang ke Bali. Ukuran yang pas untuk kami berdua adalah SS, yang artinya sangat kecil. :P Acara beli oleh-oleh dilanjutkan ke Khrisna. Di sini, kami membeli beberapa cemilan untuk keluarga dan kerabat, serta body butter untuk panitia  yang telah membantu pernikahan kami.Dari Khrisna, kami menuju ke Jalan Legian, tak jauh dari hotel, untuk membeli pesanan mba iin dan uus, yaitu kaos lukis. Toko kaos lukis ini bisa dibilang cukup kecil, letaknya di pojok perempatan Jalan Legian, hampir tak terlihat jika tak melihat dengan seksama. 

Selesai membeli kaos lukis, perut sudah keroncongan karena memang sudah waktunya makan malam. Kami mencoba menu di warung pasta tak jauh dari kaos lukis. Kami memesan spaghetti, hanya berbeda sausnya. Porsinya cukup membuat kami kenyang. Setelah itu, kami kembali ke hotel untuk beristirahat. :)

Saturday, February 18, 2012

Bali - Day One

Woohooo...

Saya pernah pergi ke Bali ketika masih kecil bersama keluarga. Tapi, tak banyak hal-hal yang dapat saya ingat mengenai Bali belasan tahun yang lalu. Kebetulan, Ibas belum pernah ke Bali. Sehingga, impian kami adalah pergi honeymoon ke Bali. Jujur kami agak ragu bahwa mimpi tersebut akan terwujud, mengingat kami berencana untuk menanggung seluruh biaya pernikahan. Namun, niat dan ikhtiar kami diijabah oleh Allah dengan cara yang tak kami duga sebelumnya. Bahkan kami mendapatkan voucher gratis untuk menginap 2 malam di sebuah hotel di Bali dan seat murah di budget airline yang dapat kami gunakan untuk honeymoon. Alhamdulillah. :)

Berhubung saat rencana honeymoon ini dibuat Ibas hanya mendapat cuti selama 3 hari, maka kami harus menyusun itenari sepadat mungkin selama 3 hari setelah hari pernikahan. Sehingga, kami mengambil penerbangan pertama saat berangkat dan penerbangan terakhir saat pulang. Kami berangkat jam 6 pagi dari bandara Soekarno-Hatta dan sampai di Bandara Ngurah Rai sekitar pukul 9 pagi kemudian langsung mencari taksi Blue Bird. Namun, karena tak kunjung dapat, akhirnya kami memesan taksi lokal dengan sistem pembayaran di awal. Jadi kami mengantri di loket dan mengatakan tujuan, mereka menentukan biayanya, kami membayar lalu supirnya akan mengantar kami ke armadanya. 

Sesampai di Hotel Best Western Hotel Kuta Seaview, kami langsung melakukan registrasi atas voucher yang kami dapat dari tukar dan undi poin di Pesta Poin Simpati Telkomsel. Kami baru dapat melakukan check-in jam 2 siang dan saat itu baru sekitar jam 10 pagi. Jadi setelah melakukan registrasi, kami menitipkan koper untuk berjalan di sekitar hotel. O iya, hotel kami ada di sebuah Jalan (lebih tepatnya gang) Benesari, Kuta; berjarak hanya sekitar 50 meter dari pantai kuta. Jadi, kami memutuskan untuk jalan-jalan sekitar kuta sekaligus survey apa saja yang ada di sekitar hotel kami. 

Setelah keluar dari gang, ternyata banyak resto dan hotel berbintang di sekitarnya. Kami sempatkan untuk berfoto di Hard Rock Cafe Kuta Bali dan pintu serta di dalam pantai Kuta. Karena hari kerja, pantai kuta sangat sepi saat itu. Saya saat itu ingin duduk di kursi pantai, tapi ternyata harus bayar alias sewa. Hehehe... Kami melanjutkan berjalanan kaki menuju komplek pertokoan di sekitar pantai Kuta. Saya meminta Ibas untuk mampir ke KFC Kuta, karena perut mulai keroncongan :P sekaligus internet browsing tentang tempat istimewa untuk menyusun itenari kami selama di Bali. 

Perut sudah kenyang, kami kembali berjalan kaki dan sampai di Jalan Legian. Di sepanjang jalan ini penuh dengan toko-toko berukuran kecil, hotel, hostel, dan resto yang ukurannya tidak terlalu besar. Di tengah   bangunan-bangunan itu terdapat Monumen Bom Bali, yang dibangun untuk memperingati para korban Bom Bali. Tak lupa kami berfoto di monumen tersebut. Berhubung kami hanya berdua dan tak membawa tripod, jadi kami harus bergantian berfoto di monumen ini. Saat itu ada sepasang muda mudi yang juga sedang berfoto di monumen tersebut. Mereka menawari untuk mengambil foto kami berdua dengan syarat kami mengambil foto mereka berdua. :)

Kami sudah lelah berkeliling, jadi kami memutuskan untuk kembali ke hotel. Ketika sampai di hotel, masih ada waktu 1 jam lebih sebelum waktu check in, sehingga kami memutuskan untuk menggunakan fasilitas pc + internet gratis yang disediakan di lobi hotel untuk kembali browsing. Kali ini Ibas menggunakan aplikasi Google maps untuk menemukan rute yang terdekat untuk mencapai lokasi wisata yang ingin kami datangi. Tepat pukul 2 siang, kami check in dan menempati kamar yang kami dapatkan. Jujur, saya agak kecewa ketika melihat ukuran kamar yang cukup kecil. Pada voucher yang kami dapatkan memang tertera Standard Room, namun dapat dilakukan upgrade menjadi Superior Room. Tentu saja, kami menggunakan fasilitas upgrade tersebut. Ketika melihat ukuran kamar yang menurut saya cukup kecil untuk ukuran superior, saya sampai menelpon bagian resepsionis untuk memastikan bahwa tidak ada kesalahan penempatan pemberian kamar. Ternyata memang untuk hotel tersebut, kamar itulah yang termasuk superior room.

Setelah check in, kami merapihkan barang dan membersihkan diri. Setelah beristirahat sebentar, kami memutuskan untuk menyewa motor di tempat penyewaan motor Bali Tese Car & Bike Rental, yang terletak di depan hotel. Motor yang kami pilih adalah Honda Scoopy matic, agar tak terlalu lelah mengendarainya hingga jarak jauh sekalipun. Harga sewanya Rp. 50.000 / 24 jam dan free 2 helm + bensin premium 1 liter. Di sana juga tersedia bensin premium yag dijual Rp. 5.000 / liter.

Karena waktu sudah sore, kami memutuskan untuk tidak berkeliling terlalu jauh, agar tidak terlalu lelah dan malam kembali ke hotel. Tujuan pertama kami adalah Toko kaos Joger, untuk melihat-lihat koleksi kaos yang tersedia sekaligus survey harga. Setelah puas melihat-lihat, kami langsung makan siang di Nasi Pedas Ibu Andhika yang terkenal, yang ternyata terletak persis di seberang Toko Joger. Harganya pun tidak mahal. Saya pesan nasi putih + telur mata sapi + sayur labu + tahu kuah + sambal pedas, sedangkan Ibas pesan nasi putih + teri goreng + sayur tauge + tahu kuah + sambal pedas. Keduanya seharga Rp. 11.000. Sambal pedasnya luar biasa pedas, apalagi untuk saya yang tidak kuat dengan pedas. Cuma cocol saja, saya perlu menghabiskan 2 teh botol untuk menghilangkan rasa pedas di mulut. :P

Perut sudah kenyang, kami berkeliling di sekitar Denpasar untuk mencari lokasi toko oleh-oleh di Khrisna terdekat. Kami menyempatkan untuk membeli beberapa oleh-oleh untuk keluarga dan kerabat di Jakarta. Saat kami keluar toko setelah selesai berbelanja, langit mulai gelap, sehingga kami memutuskan untuk kembali ke hotel. 

Sunday, October 30, 2011

Day Three at Jogjakarta

lanjutan dari Day Two at Jogjakarta

Hari ke 3 - Minggu, 13 Februari 2011
Hari ini waktunya kami pulang ke Jakarta. Kami memutuskan untuk menikmati fasilitas hotel dan berkeliling hotel, kegiatan yang belum sempat kami lakukan sejak check in. Lagipula, hotel yang kami tempati letaknya cukup jauh dari stasiun Tugu yang berada di pusat kota. Jadi agar tidak bolak balik, lebih baik kami keluar hotel sekalian untuk check out. Salah satu fasilitas yang kami dapatkan secara gratis adalah berenang. Jadi kami tak melewatkan bermain air dan berjemur di pinggir kolam renang. Setelah puas bermain air, kami kembali ke kamar untuk mandi dan packing. Pesanan delivery bakpia kami pun datang tepat waktu. ^_^

Waktu di tiket pulang pukul 19.30, sedangkan waktu check out hotel pukul 13:00. Jadi, kami putuskan untuk berkeliling di tengah kota sambil menunggu jam pulang. Awalnya kami agak khawatir harus membawa tas pakaian selama berkeliling, namun ternyata ada tempat penitipan tas di dekat pintu stasiun. Saya tidak menyarankan untuk menitipkan barang berharga, jadi yang dititipkan adalah pakaian dan oleh-oleh. Bapak Gatot, pramudi mobil shuttle berbaik hati mengantarkan kami ke stasiun Tugu untuk menitipkan tas dan melanjutkan ke malioboro.

Siang itu kami terkejut dengan padatnya lalu lintas sepanjang malioboro. Saat kami tanya kepada pedagang sekitar, hari itu akan ada festival kebudayaan di sepanjang malioboro, sehingga jalur menuju malioboro dialihkan.Saat itu yang terjadi bukan hanya macet kendaraan, tapi juga macet manusia! Tapi hal itu membuat kami tidak mati gaya sambil menunggu jam keberangkatan kereta kami hingga malam. Kami memutuskan hanya berkeliling di sekitar malioboro, untuk menghindari ketinggalan kereta. Tujuan pertama adalah toko khusus batik Mirota yang berada di ujung jalan malioboro persis di seberang Pasar Bringhardjo. Pramudi mobil shuttle hotel tempat kami menginap menyarankan untuk "survey" harga di Mirota, agar dapat menawar harga yang bagus ketika belanja di pasar Beringharjo dan di sepanjang jalan Malioboro.

Di sela-sela hunting barang-barang khas Jogja, kami menyempatkan untuk makan pecel di depan Pasar Beringharjo. Pecel dapat dilengkapi sate dan daging burung dara, tergantung selera. Sambil makan pecel, kami menikmati pawai kebudayaan yang melintas di sepanjang jalan Malioboro, walau tidak banyak yang dapat kami lihat karena tertutup oleh banyaknya orang yang menonton. Tak terasa malam mulai menjelang, dan kami bergegas menuju Stasiun Tugu dengan berjalan kaki. Sebelum itu, kami membeli nasi kucing sebagai bekal di perjalanan dan mengambil barang titipan kami di tempat penitipan di Stasiun Tugu.

Ada hal unik yang baru diketahui Rani dalam perjalanan ini. Dia baru tahu kalo ada penumpang yang boleh tidur di sepanjang lorong gerbong kereta api. Mereka membeli tiket sehingga tidak diusir ketika petugas memeriksa tiket. hehehehe..

Friday, August 19, 2011

Day Two At Jogjakarta

lanjutan dari Day One at Jogjakarta

Hari ke 2 - Sabtu, 12 Februari 2011
Kami memutuskan untuk mengunjungi tempat wisata di sekitar pusat kota dan menghabiskan waktu seharian penuh. Pilihan pertama kami jatuh kepada Keraton Kesultanan, tempat Sultan Hamengkubuwono tinggal dan bekerja. Keraton merupakan simbol Kerajaan, sistem pemerintahan yang membedakan Jogjakarta dengan Provinsi lainnya. Ternyata pilihan kami tak salah. Disana, kami berkenalan dengan 2 orang gadis manis semi backpacker seperti kami, Wulan dan Siska. Harga Tiket masuk Keraton Jogja Rp. 5,000 per orang ditambah Rp. 1,000 per kamera. Tiket bisa dibeli di dekat pintu masuk Keraton, tempatnya seperti semacam teras rumah jawa kuno. Setelah membeli tiket, kami langsung mendapatkan tour guide.

Bagi saya yang lemah menghafal sejarah, penjelasan dari tour guide terlalu terburu-buru. Namun saya maklum, mengingat banyak sekali turis lokal dan asing yang datang pada hari Sabtu itu. Kami diperkenalkan kepada tempat Sultan biasa mengadakan pertemuan dengan tamu penting, kantor tempat kerja, rumah tempat kediaman, dan tempat pentas seni tradisional. Seni yang saat itu dipentaskan adalah wayang kulit. Terakhir, kami dibawa masuk ke museum Keraton yang berisi barang-barang kuno yang dipergunakan oleh Sultan Hamengkubuwono I hingga sekarang. Namun, ada bagian museum yang tidak diperbolehkan untuk dipotret, berisi antara lain kain batik asli Jogja yang dibuat dengan tangan. Di Keraton kami juga dapat melihat para abdi dalem yang sedang bertugas di tempatnya masing-masing. Sangat menarik!

Selesai berkeliling Keraton, kami sangat lapar. Kebetulan saya dan Rani memang belum sarapan. Jadi tujuan selanjutnya mencari brunch (breakfast lunch), karena saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 10. Wulan dan Siska pun sepakat. :) Berhubung perut sudah tak mau menunggu, akhirnya kami berempat mencari makanan khas Jogja di sekitar Keraton. Kami menemukan banyak penjual Nasi Gurih di Alun-alun, tak begitu jauh dari Keraton. Nasi gurih terdiri dari : nasi kuning, tempe orek, kacang kedelai, kol, daun kemangi, timun, dan kerupuk kulit. Seporsi dikenai harga Rp. 5,000. Setelah perut kenyang kami memutuskan untuk pergi ke tempat wisata selanjutnya yaitu : Candi Prambanan. Dari Alun-alun, kami naik becak dengan harga sewa Rp. 5,000 sampai ke Halte Trans Jogja terdekat, yaitu di depan kantor pos Alun-alun.

Candi Prambanan letaknya cukup jauh dari alun-alun kota, karena berada di ujung kota dekat dengan airport Adisutjipto, namun dapat dicapai dengan bis Trans Jogja. Kami menempuh kira-kira 20 menit perjalanan dari halte di depan kantor pos hingga halte Prambanan. Di depan halte Prambanan terdapat beberapa delman yang berjejer dan siap mengantar kita menuju pintu masuk Candi Prambanan. Sebenarnya Halte Prambanan itu letaknya persis di seberang kawasan Candi Prambanan. Tapi, cukup jauh untuk mencapai loketnya dengan berjalan kaki. Untuk menghemat tenaga dan juga merasakan aura Jogja yang kental, kami berempat memutuskan untuk menyewa delman hingga depan loket tiket Candi Prambanan. Sekali lagi, berbekal bahasa Jawa semaksimal mungkin saya menawar harga sewa delman hingga Rp. 10,000. Sampai di depan loket, saya dikejutkan dengan poster yang di tempel di depan loket. Ada paket hemat Candi Prambanan dan Candi Ratu Boko. Bukan paket hemat yang buat saya terkejut, tapi karena saya belum pernah dengar nama Candi Ratu Boko sebelumnya. As I mentioned, nilai mata pelajaran Sejarah saya memang kurang bagus. :D

Berikut Harga Tiket Masuk Wisatawan Nusantara (last updated 12 Februari 2011) :
Senin-Jumat
 Umum           Rp. 20,000
 Anak 3-6 thn Rp. 10,000
Sabtu, Minggu dan Libur Nasional
 Umum           Rp. 23,000
 Anak 3-6 thn Rp. 11,000
Paket Prambanan - Ratu Boko : Rp. 30,000

Sebagai backpacker, tentu kami tidak melewatkan paket hemat. :P Harga tiket paket termasuk tiket masuk ke kedua tempat wisata tersebut dan shuttle Prambanan-Ratu Boko-Prambanan yang diparkir tak jauh dari loket. Ketika kami sampai di Prambanan, kebetulan shuttle sudah akan berangkat ke Ratu Boko, jadi kami pun ikut. Jarak Prambanan-Ratu Boko ternyata tidak terlalu dekat dan jalurnya cukup sulit dijangkau jika menggunakan angkutan umum. Mungkin itu sebabnya diadakan paket hemat Prambanan-Ratu Boko dengan shuttle, agar Ratu Boko lebih dikenal oleh wisatawan. Waktu tempuh Prambanan-Ratu Boko dengan shuttle bus kurang lebih 20-25 menit. Sampai di depan loket situs Candi Ratu Boko, ternyata kami harus membayar karena membawa kamera, sebesar Rp. 5,000. Menurut saya, yang menarik dari situs Candi ini adalah jalur dari loket sampai ke ujung kawasan situs ini adalah jalurnya agak menanjak, jadi seperti tracking line. Tak berapa jauh dari loket, saya melihat ada beberapa kijang yang sedang merumput. Saya mencoba naik setinggi mungkin hingga berhasil hingga ke wilayah Candi yang paling atas. Ada bagian dari situs ini yang bisa melihat kawasan Candi Prambanan dari jauh. Semakin kami berusaha menjelajahi kawasan ini, semakin kami menyadari bahwa kawasan Candi ini sangat luas. Namun, penjelajahan kami harus terhenti karena gerimis mulai turun dan semakin deras hingga kami harus berlari kencang hingga ke tempat parkir.

Ketika mobil shuttle sampai di Candi Prambanan, hujan masih turun. Kami menunggu hingga agak reda dan memutuskan untuk mulai berkeliling Candi Prambanan dengan berbekal payung sewaan. Candi Prambanan merupakan kawasan yang terdiri dari beberapa buah bangunan candi. Setelah puas berfoto di tiap candi, kami bergerak menuju pintu keluar. Ternyata ada band yang sedang memainkan lagu-lagu lama. Hampir sampai pintu keluar ada semacam pasar kaget. Di sana menjual beberapa makanan dan jajanan kaki lima. Lalu kira-kira 1 meter di depannya menjual berbagai barang khas Jogja, barang-barang bernuansa batik. Di sini kami kembali hunting barang untuk oleh-oleh. Seperti pasar pada umumnya, kita harus pandai menawar untuk mendapatkan harga yang bagus :). Sepertinya kami terlalu lama menawar, sehingga mendung yang sudah terlihat sejak kami beranjak keluar, tiba-tiba menurunkan hujan yang cukup lebat. Kami menawar dengan cepat becak yang berada di pintu keluar, untuk mengantarkan kami ke halte Trans Jogja Prambanan. Sampai halte, ternyata sudah penuh dengan orang yang menunggu bus, sehingga kami berteduh di pinggir halte. Untungnya kami tidak perlu menunggu bus terlalu lama. Kami ternyata 1 bus dengan serombongan peserta tour, yang seolah menguasai pembicaraan di bus, sehingga penumpang bus yang lain hanya menonton mereka berbincang.

Kami berempat turun di halte Malioboro dan sepakat untuk mencari makan siang yang terlambat :P. Kami lalu memilih bakso seharga Rp. 10,000 per porsi dan lumpia goreng seharga Rp. 1,500 per buah. Setelah perut kenyang, kami berpisah. Wulan dan Siska kembali ke hotel mereka yang memang berlokasi di sekitar Malioboro, sedangkan aku dan Rani meneruskan perjalanan ke pasar malam Sekaten di Alun-Alun untuk menyambut Maulid Nabi Muhammad SAW. Terus terang, pasar malamnya jauh berbeda dari ekspektasi kamu. Pasar malam yang kami datangi tak ubahnya kumpulan pedagang yang hanya berpindah tempat. Harga yang ditawarkan pun cukup mahal dan tak ada jajanan maupun mainan khas pasar malam.

Karena tidak mendapatkan apa yang kami inginkan, maka kami berjalan ke arah Monumen Serangan Umum 1 Maret. Kami duduk di bangku sekitar monumen tersebut untuk beristirahat dan memikirkan tujuan selanjutnya. Rani tak melewatkan untuk mencoba wedang ronde yang sedang dijajakan. Nah saat itulah kami melihat sekotak bakpia milik sepasang muda mudi yang duduk di sebelah kami. Kami pun bertanya kepada mereka dimana dapat membeli bakpia itu. Mereka menyarankan untuk minta diantarkan tukang becak ke bakpia 25. Mereka mengingatkan untuk minta diantarkan ke pabriknya jangan ke tokonya, karena produk di pabrik fresh from the oven. Tanpa pikir panjang, kami berdua mencari becak terdekat.

Bakpia 25 yang saya datangi merupakan pusat produksi disertai toko kecil di depannya. Ternyata di bakpia 25 tidak hanya menjual bakpia, tapi juga beberapa jajanan khas Jogja lainnya. Namun, karena tujuan ke sana adalah bakpia, tentu saja aku memborong bakpia untuk oleh-oleh. Ada 2 ukuran kotak yang ditawarkan, isi 15 buah seharga Rp. 18.000 dan 20 buah seharga Rp. 22.000. Isinya pun beragam, ada kacang hijau, kacang hitam, cokelat, dan keju. Di sini juga memiliki layanan delivery dengan minimal order 10 kotak. Kontaknya adalah :
Bakpia Pathok 25
oleh-oleh khas Jogja
Jl. Sanggarahan Pathuk NG I / 504
Phone (0274) 513904, 566122.
Kami memutuskan untuk menggunakan layanan tersebut dengan alasan agar bakpia yang kami bawa pulang adalah bakpia terbaru. Setelah memesan beberapa kotak bakpia untuk diantar besok siang ke hotel, kami memutuskan kembali ke malioboro, tempat tunggu mobil shuttle hotel.

Dalam perjalanan menuju malioboro, abang becak menawarkan kami ke daerah alun-alun karena ada festival sepeda hias. Namun, karena jadwal wisata hari ini sangat padat sehingga tubuh sangat lelah, kami terpaksa menolak tawaran yang menggiurkan itu. Tempat temu kami adalah Dinas Pariwisata dan Kebudayaan kota Yogyakarta UPT pengelolaan Kawasan Malioboro. Beruntungnya kami, karena saat itu ada Atraksi Kesenian Wisata Budaya tahun 2011 di sana. Sambil menunggu pesanan bebek goreng untuk makan malam kami di hotel, kami sempat menonton sedikit Atraksi Kesenian dari barisan bangku paling belakang. Pengemudi mobil shuttle hotel sungguh baik hati, mau menunggu kami membeli bebek goreng, meskipun waktu sudah melebihi jadwal shuttle. Sisa waktu malam itu kami habiskan dengan makan malam bebek goreng, bersih-bersih diri, dan langsung tergolek tidur.

Monday, June 6, 2011

Day One at Jogjakarta

Hari Ke 1 - Jum'at, 11 Februari 2011
Jadwal di tiket seharusnya sudah sampai di Yogyakarta pada pukul 4.30 pagi. Namun, kereta sempat beberapa kali berhenti, sehingga kami sampai di Stasiun Tugu Yogyakarta pada pukul 5.30 pagi. Karena masih cukup pagi dan kami berdua sedang libur sholat (baca : haid), maka yang pertama ada di otak kami adalah sarapan. :P Sebelumnya kami menyempatkan untuk bersih-bersih (a.k.a buang air kecil dan cuci muka) di toilet Stasiun. Toilet dan airnya bersih, serta GRATIS. ;)

Berbekal sedikit googling sebelum berangkat, kami memutuskan untuk mencari sarapan di sekitar pasar Beringharjo yang "katanya" tak jauh dari Stasiun Tugu. Sesuai dengan arahan petugas stasiun, kami keluar dari pintu Selatan dan belok kiri. Di depan gerbang stasiun, kami langsung ditawari becak Rp. 5.000,- sampai malioboro. Karena kami fikir tak jauh, maka kami memutuskan untuk jalan kaki hingga bertemu lampu merah pertama, lalu belok kanan. Disitulah jalan malioboro dimulai sepanjang kira-kira 1 km. Tak jauh dari belokan, kami melihat ada jajanan gudeg. Tanpa fikir panjang, kami memesan nasi gudeg dengan ayam (maklum lapar sekali). Gudeg yang kami pesan seharga Rp. 10.000 karena pake ayam. Saya lihat ada abang becak pesan nasi gudeg dengan tahu seharga Rp. 4.000.

Setelah perut kenyang, kami baru bisa berfikir jernih. hehehe.. Kami memutuskan untuk mencari Halte TransYogya terdekat, karena menurut hasil googling bis tersebut melewati beberapa tempat pariwisata. Bis TransYogya mirip seperti bis TransJakarta, bedanya ukuran bis dan haltenya lebih kecil dari TransJakarta. Harga tiketnya pun lebih murah, yaitu Rp. 3.000.

Kami pun me-"wawancara"i mba petugas tiket tentang tujuan wisata yang dilewati bis tersebut. Karena jadwal check-in hotel jam 2 siang, yang artinya masih lama sekali, kami memutuskan Candi Borobudur sebagai tujuan wisata pertama. Dari halte Malioboro, kami transit di halte K.H. Ahmad Dahlan, berganti bis menuju halte Jombor. Halte bis TransYogya Jombor berada di dalam terminal bis AntarKota Jombor. Kami keluar halte bis TransYogya untuk mencari bis menuju Borobudur - Magelang. Bis ekonomi Antarkota Yogya - Borobudur mengantarkan kami ke Borobudur sekitar 45 menit kemudian dengan ongkos Rp. 10.000 per orang. Kami beruntung karena jalur menuju Magelang sudah dibuka sejak ada lumpur dingin dan musibah meletusnya gunung Merapi, sehingga lalu lintas cukup lancar. Menurut supir bis, sebelumnya jalur di sekitar lumpur dingin diberlakukan konsep buka-tutup jalan, sehingga bisa menghabiskan 2 jam untuk trayek Yogya - Borobudur. Aku fikir bis tersebut akan langsung mengantarkan kami di depan gerbang tempat wisata Candi Borobudur, tapi ternyata tidak. Bis sempat transit di Terminal Drs. Prajitno - Mutilan, Magelang, dan tujuan akhir bis tersebut adalah Terminal Borobudur di Magelang.

Dari terminal tersebut, banyak becak yang berebut menawarkan jasanya. Di Magelang terdapat 3 candi, yaitu Candi Borobudur, Candi Mendut, Candi Pawon. Jasa becak untuk ke masing-masing Candi adalah Rp. 20.000 PP (Terminal - Candi - Terminal). Perlu diketahui, bis antarkota yang kami tumpangi melewati Candi Mendut sebelum berhenti di terminal Magelang. Saat di perjalanan menuju Candi Borobudur, abang becak "merayu" kami untuk sekalian ke 2 candi lainnya. Namun, karena kami telah melihat Candi Mendut, sepakat untuk melihat Candi Pawon dan Candi Borobudur. Dengan berbekal bahasa Jawa sebisanya, saya mencoba menawar jasa becak dari yang seharusnya Rp. 40.000 / 2 Candi menjadi Rp. 35.000 dan tiket Candi Pawon kami berdua dibiayai oleh abang becak.

Setiba di Candi Pawon, kami cukup terkejut karena hanya terdapat 1 buat candi kecil dan lokasinya berada di tengah-tengah perumahan penduduk. Tiket masuk Candi Pawon seharga Rp. 3.000/orang. Setelah puas berfoto, yang ditonton oleh penduduk lokal, kami melanjutkan perjalanan ke Candi Borobudur. Tiket Candi Borobudur untuk Senin-Jumat Rp. 20.000/orang, sedangkan untuk Sabtu dan Minggu Rp. 23.000/orang. Berhubung belum sempat ke Hotel, kami masih membawa tas pakaian. Tas dan barang bawaan kami titipkan di tempat penitipan barang di dekat loket tiket masuk. Beruntung, abang becak kami mengetahui spot2 bagus untuk berfoto bahkan ia cukup jago menggunakan digital  camera, sehingga aku dan Rani bisa sering foto berdua. :)

Terakhir aku mengunjungi Candi Borobudur adalah ketika aku masih kecil, mungkin usia SD. Sehingga satu2nya ingatan tentang tempat wisata ini hanyalah Candi yang besar dan bertingkat. :P Abang becak yang menemani kami sungguh mirip seperti tour guide, dia yang memberitahu bahwa ada wisata lain selain Candi di tempat itu, antara lain Museum Kapal Perang dan tempat pelatihan Gajah. Saya merasa Harga Tiket Masuk seharga Rp. 20.000 sungguh tidak sia-sia.

Sesuai kesepakatan, abang becak mengantarkan kami kembali ke Terminal. Sebelum naik bis, kami sempatkan makan siang di Terminal. Perjalanan pulang ke Jogjakarta terasa lebih lama karena kami sudah sangat lelah. Sampai di terminal Jombor, kami langsung bertanya kepada petugas, angkutan menuju hotel Hyatt. Katanya, naik bis TransYogya sampai halte Monali, lalu ada angkutan umum warna hijau yang menuju ke sana. Cukup lama kami menunggu angkutan umum warna hijau itu Monali, akhirnya kami memutuskan untuk menyetop taxi dan menawar Rp.10.000 sampai Hotel Hyatt. Proses check in mudah dan cepat, sehingga kami bisa segera beristirahat. Sampai di kamar, kami bergantian mandi lalu tidur pulas sampai ashar. :)

Kami mencari makan malam di sekitar hotel, dan pilihan kami jatuh Mie Jawa Pak Kumis. Seporsi mie dikenai harga Rp. 7.000 saja, tidak jauh berbeda dengan harga di Jakarta memang. Namun alhamdulillah, nikmat dan kenyang. Pulang dari warung Pak Kumis, kami sempat mampir membeli martabak. Saat abangnya difoto, dia minta di tag di Facebook. Sungguh penjual yang gaol. :P Martabaknya cukup enak, namun sayang belum sedahsyat martabak langganan saya di Jakarta. Kami menikmati martabak keju di kamar hotel sambil mengobrol dan menonton tv. Tak lama kemudian, kami terlelap. G sabar nunggu hari esok.. ^_^

UnPlanned Travelling

Saya ini seorang planner, seperti yang udah pernah dijelaskan di sini. Jadi, selalu melakukan sesuatu itu dengan perencanaan. Paling takut kalau harus bepergian tanpa rencana. Apalagi kalau ke luar kota, minimal rencananya dari 1 bln sebelumnya. Hehehe.. Tapi liburan Rani yang cuma sebentar di Indonesia merubahnya.

Rencana liburan Rani memang sudah disounding beberapa bulan sebelumnya. Berhubung dia liburan hanya 2 minggu di Indonesia, jadi saya sudah booking jadwal untuk jalan bareng. Kayak mau meet & greet artis. LOL. Ketika tanggal pulang sudah ditetapkan, Rani info jadwal liburan selama di Indonesia ke semua temannya, termasuk saya. Sebelumnya saya booking jadwal dia selama di Jakarta. Tapi saya ditawarkan untuk menemani dia ke Jogja. Sempat ragu, karena saat itu saya masih berstatus kontrak di kantor dan belum dapat hak cuti. Tapi ternyata eh ternyata, 2 minggu sebelum jadwal ke Jogja, SK saya turun. Yippie..

Beberapa hari sebelum hari H, saya pesan tiket kereta di stasiun Senen. Rencananya kita berangkat hari Jumat tanggal 11 Februari malam dan pulang hari Minggu tanggal 13 Februari, tapi ternyata tiket tanggal 11 Februari penuh. Selidik punya selidik karena hari Selasa tanggal 15 Februari hari libur. Oalah, saya lupa kalau itu long weekend (hari Senin adalah Hari Kejepit Nasional) :P Akhirnya, saya pesan tiket kereta Senja Utama jurusan Stasiun Senen - Stasiun Tugu Jogja, berangkat hari Kamis tanggal 10 Februari 2011 jam 19.30 dan estimasi sampai tujuan jam 04.30 keesokan harinya. Tiket seharga Rp. 130.000,- per orang. Agar aman, aku juga sekaligus membeli tiket pulangnya untuk hari Minggu tanggal 13 Februari 2011 dengan harga yang sama. Aku memilih kereta kelas bisnis, karena cukup nyaman untuk perjalanan dan juga nyaman di kantong. :P


Kamis, 10 Februari 2011
Sepulang dari kantor, saya menyempatkan untuk makan malam dengan sayangkuw di mall dekat kantor, sambil menunggu Rani. Kebetulan kantor saya dekat dengan Stasiun Senen dan Rani setuju untuk janjian di mall dekat kantor. Rani datang setelah saya selesai makan malam dan meminta untuk ditemani membeli paket take home HokBen untuk dimakan di kereta, sekalian membeli beberapa perlengkapan mandi di supermarket mall tersebut. Waktu menunjukkan pukul 19.00 WIB, sehingga kami pun bergegas menuju stasiun Senen, menggunakan bajai. Perjalanan menggetarkan itu memakan waktu tidak sampai 15 menit. Sampai di stasiun, kami masih harus menunggu sekitar 15-20 menit hingga kereta datang. Tak sulit untuk menemukan gerbong dan kursi yang sesuai dengan tiket kami. Selama di kereta, kami menyusun jadwal kami selama di Jogja nanti. Sempat menelpon beberapa Tour guide, namun harga yang mereka tawarkan kurang cocok dengan anggaran kami, sehingga kami memutuskan untuk nekat dan memikirkan jadwal tour on the spot saja. :) Tak lama kemudian, kami bergantian untuk tidur dan menjaga barang bawaan kami.

And the story goes.. (to be continued)

Thursday, October 2, 2008

Mudik....

Hmm..Now i'm at my father's hometown,Pekalongan. I've been here since Sunday night. I wanna share my experience on my way here. I went at 00.30 am on Sunday n arrived at 11 pm on Sunday. Can u imagine I had been on road for almost 24 hours, with traffic, unfriendly weather, n uncomfortable seat. That was a sacrifice for being here at Lebaran.
I always feel sleepy n bored here. That's why I don't feel comfortable here for long time. But fortunately, there are modern stuffs available at my grandma house now. So, I can enjoy my time here.
First day at eid day, we did my ied pray at mosque infront of my grandma house at the morning. Then just stayed at home till afternoon. After took ashar pray,we went to mamak house. Mamak Syarif is one of greatest Kyai at Pekalongan, esp. Mudinan Wonopringo. We were there until almost magrib.
On second day, it's mean today, many neighbor came into my grandma house for silaturahmi in the morning. My father's big family gathered at my uncle home at lunch time. Then we 'sowun' to few 'sesepuh' house arround my uncle's home. Those 'sesepuh' are people who took care my older sister when she was a kid. My father and my older sister have many stories with them.
Now i am watching tv with the girls in the house. We plan back to Jakarta on Saturday. But according our experience at last trip, I suggest back to Jakarta on Friday night. I want to take a rest fully on Sunday, before get back work on Monday.

n_n

Saturday, September 6, 2008

Pertama kali


Hmm..Pertama kalinya nih nge-blog lwt hp :) memang yg pertama kali itu selalu unik.
Kemarin juga pertama kali buka puasa di luar rumah selama 5 hari pertama puasa.Pertama kalinya juga survey untuk acara buka puasa. Kemarin aku janjian sama cindy,salah 1 teman sd,untuk buka bersama di atrium senen,sekalian survey tempat untuk bukber teman2 sd.Itu jg pertama kaliny kami jalan bareng.
Tapi sampai pulang pun, kami belum bisa memutuskan tempat yang akan dipakai untuk acara bukber sd nanti.Hehehe..At least,kami sudah punya kandidatnya. O iy,sebenarny aku ajak arin utk gabung. Tapi dia berhalangan hadir.
Udah ah,aku mau baca untuk pertama kalinya novel dua kutub cinta karangan Mira W, yang pertama kalinya aku beli kemarin d gunung agung atrium. Novel itu juga novel Mira W yang pertama yang gambar sampulnya bukan gambar bunga, setahuku y..
Aku mau tidur,yang untuk pertama kalinya, tidak harus bangun buru2, because it's Saturday! Tapi nanti jam 8 atau 9an aku mau k R.S. Tarakan untuk pertama kalinya dan mau menjalani tes bebas narkoba untuk pertama kalinya untuk melengkapi syarat dokumen tes asdp besok. Ini tes BUMN pertama yang pernah aku ikuti yang diadain hari Minggu di gedung ppm Manajemen di Menteng, yang besok akan menjadi pertama kalinya aku masuk kesana.

n_n

Tuesday, July 1, 2008

Liburan...

Akhirnya masuk kantor lagi, setelah kemarin ijin tidak masuk kantor :)
Selama 3 hari, aku sekeluarga pergi ke Bandung, dengan tujuan utama menghadiri pernikahan sepupuku (mba alin) dari keluarga papa. Sebenarnya aku sudah lama sekali tidak bertemu keluarga om ghafur, kalau tidak salah sudah lebih dari 15 tahun. Jadi tentu saja aku agak pangling begitu bertemu dengan ketiga sepupuku itu (mas angga, mba alin, adhis), terutama si kecil adhis, yang ternyata sudah kuliah ;)

Berangkat dari Jakarta menggunakan jasa travel Cipaganti, yang bertolak di Cikini. Semula ingin berangkat dari cempaka mas, karena lebih dekat dari rumah. Tapi karena ada masalah di reservasi, sehingga tidak bisa memesan tiket pp, jadi kami sekeluarga memutuskan untuk berangkat dari Cikini. Rencana semula berangkat hari Jumat malam (setelah jam kantor tentunya), harus berubah karena pada jam tersebut sudah full booked, bahkan semua jam di hari Jumat. Akhirnya kami memesan tiket untuk hari Sabtu jam 06.30 dan tiket untuk kembali hari Senin jam 16.30.

Sampai di Cipaganti mtc, kami dijemput om ghafur dan langsung diantarkan ke wisma untuk beristirahat dan sarapan. Sehabis dzuhur, karena lelah, aku tidur hingga hampir ashar, begitu juga mba iin dan mbah nur. Sehingga hanya papa, mama, dan uus saja yang mampir ke rumah om ghafur sehabis dzuhur. Malamnya kami sekeluarga makan di gerai fast food tak jauh dari wisma. Intinya, hari itu kami habiskan untuk melepas lelah.


Keesokannya kami dijemput jam 6 dari wisma, karena harus bersiap-siap untuk menghadiri akad nikahnya. Dan setelah hampir 20 tahun tidak pernah menggunakan kain, aku harus 'berjuang' melilitkan kain sebagai pelengkap pakaian seragam keluarga pengantin. Dan lucunya, ternyata 90 % dari keluarga calon pengantin (wanita) dan pendukung acara (pagar bagus, dll) juga kesulitan melilitkan kainnya yang memang bukan pakaian sehari-hari ;) Tapi alhamdulillah semua 'perjuangan' itu berakhir cukup sukses, dan akad nikah dapat diadakan lebih awal dari jadwal. Akad nikah berlangsung hikmat, namun setelah penghulu meninggalkan tempat dan acara akad nikah dipandu MC, suasana mulai mencair. Tak jarang MC melemparkan joke-joke yang cukup segar, dari menanyakan panggilan sayang kepada pengantin, hingga ledekan pada papaku yang mendadak didaulat untuk mengucapkan sepatah kata dari pihak pengantin wanita. Yang paling seru menurutku adalah tradisi nyawer, yang dalam tradisi sunda adalah melemparkan suatu barang yang ringan. Saat itu yang dilempar berupa permen, uang koin, dan uang kertas (Rp.1000-Rp.10000, kata MC nya). MC sempat menjelaskan arti tradisi tersebut, namun aku agak lupa. Yang kuingat adalah uang koin yang memiliki 2 sisi namun tidak dapat dipisahkan, begit juga suami dan istri. Permen yang berarti kemanisan dalam rumah tangga. Ketika orang tua dari kedua pengantin mulai menyawer, suasana mendadak riuh. Aku, uus, dan mba iin juga ikut menampung saweran yang datang ke dekat tempat duduk kami. Namun yang berhasil kami kumpulkan hanya Rp 4000 dan 20 buah permen, tapi seru sih...



Siangnya dilanjutkan dengan acara resepsi. Yang mengusik fikiran kami sekeluarga adalah adat yang dipergunakan dalam acara pernikahan sepupuku adalah adat sunda. Padahal sepupuku adalah keturunan Kalimantan dan Jawa Tengah. Sedangkan suaminya adalah keturunan Jawa Tengah. Kemungkinan besar hal tersebut karena resepsi diadakan di Bandung. Kembali ke acara respsi, ritual yang selalu dilakukan olehku dan uus adalah berkeliling untuk survey makanan :P hampir selalu di acara resepsi kami hanya makan makanan yang di 'gubuk-gubuk' yang memang lebih bervariatif. Saat itu, yang menjadi 'incaran' kami adalah chicken gordon blue dan zupa soup. Yang lainnya sate ayam, martabak telor, ice cream, salad, buah, dan coca cola. Tentu saja semua itu kami makan dalam porsi kecil, agar bisa masuk ke perut kami :) Karena mbah sudah lelah, kami pulang ke wisma sebelum acara selesai. Malamnya kami makan malam bersama di wisma, dan beristirahat.

Keesokan paginya, kami berencana untuk menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan ke kota sambil menunggu waktu kepulangan. Setelah puas berjalan-jalan di sekitar jalan dago, kami memutuskan untuk mengisi perut di restoran cabe rawit, atas rekomendasi temanku ienay. Agak susah bagi kami, yang bukan orang bandung, untuk menemukan lokasi cabe rawit yang memang agak terpencil. tapi akhirnya kami menemukannya di jalan Teuku Umar. Ternyata rekomendasi ienay tidak percuma. Porsi yang disajikan selalu dalam ukuran jumbo. Bahkan kami membatalkan memesan smoothies, karena tidak sanggup lagi memasukkannya ke perut kami :) Kami membungkuskan gurame saos mentega untuk dibawa pulang ke wisma. Menjelang sore kami pulang ke wisma, dan langsung membereskan barang2 untuk dibawa pulang ke Jakarta. Sekitar pukul 15.30, om ghafur dan mas angga menjemput. Kami sempat mempir ke rumah mereka untuk berpamitan dengan keluarga yang lain. Tepat pukul 16.15, kami sampai di Cipaganti MTC untuk check in. Sekitar jam 16.30an, kami sudah meluncur menuju Jakarta.

Sampai di Cipaganti Cikini sekitar jam 19.00an, kami memutuskan untuk sholat dan beristirahat sejenak. Satu setengah jam kemudian kami sudah berada di rumah tercinta.

n_n