Sunday, February 3, 2013

3 bulan. Cuti sudah habis. Hiks

Satu bulan terakhir sungguh tak terasa. Terlebih karena situasi kejar-kejar-an stock ASIP dengan waktu. ASIP di freezer sudah mencapai 60 botol @ 10 - 60 ml. Alhamdulillah. Persiapan untuk pompa ASI di kantor pun sudah lengkap. Bismillah, semoga lancarr jaya.

Perlengkapan pompa ASI saya terdiri dari :
1. 1 set Pompa ASI manual (hasil lungsuran temannya kakak)
2. 1 buah mini cooler box
3. 1 buah ice cooler
4. 2 buah blue ice gel
5. Beberapa botol dengan penutup karet untuk menyimpan ASI.

Selama 3 bulan cuti, saya sudah mengkondisikan Afiqah dengan keadaaan saya yang nantinya harus kembali bekerja dan menitipkan Afiqah di rumah mama. Jadi setiap jam 7 pagi, setelah Ibas berangkat kerja, saya  membawa Afiqah ke rumah mama dan memandikannya di sana. Setelah mandi, disusukan selama 30-60 menit. Jika setelahnya ia tidak rewel atau malah tertidur lagi, maka saya kembali pulang ke rumah untuk beres-beres rumah. Mama akan mengambil alih menjaga Afiqah hingga ia bangun dan meminta ASI kembali. Ritual ini saya lakukan sepanjang hari (pagi - sore) setiap hari Senin-Jumat. Ketika hari Sabtu dan Minggu saya akan lebih banyak menghabiskan waktu bersama Afiqah di rumah sendiri.

Hal yang membuat saya agak cemas tentang jam pumping ASI di kantor. Alhamdulillah, kantor saya menyediakan ruangan meeting yang cukup nyaman untuk pegawainya memompa ASI selama di kantor. Menurut pegawai yang pernah melakukan pompa ASI, dia bisa 2-3 kali memompa ASI selama di kantor, selama ruangan meeting tidak digunakan untuk rapat atau seleksi pegawai. Namun, mengingat pekerjaan saya sebagai programmer yang membutuhkan perhatian dan waktu yang tidak sedikit, saya jadi ragu dapat meluangkan waktu 3 kali untuk pompa. Semoga Allah memudahkan. Aamiin. Bismillah.

^_^

Friday, January 4, 2013

Sudah 2 bulan, ya nak?

Tidak terasa sudah 2 bulan. Banyak kejadian yang terjadi, dari peristiwa kebakaran di sekitar rumah 2 hari sebelum Afiqah lahir, sampai kepergian Mbah Nur tersayang.

Selama 2 bulan ini, siklus tidur saya luar biasa menantang. Saya memilih untuk tidak memakaikan Afiqah diapers karena masih terlalu kecil dan kasihan dengan kulitnya yang masih sangat sensitif pastinya. Jadi otomatis, saya terbangun tiap kali Afiqah menangis karena popok kainnya basah. Belum lagi kalau ia terbangun karena haus, saya juga harus bangun untuk menyusuinya. Saya sudah dapat mengenal siklus tidur, pipis / pup, dan nenen nya Afiqah. Dalam sehari, ia pipis 7 - 10 kali, pup 3-5 kali, tidur pada siang hari biasanya sebelum jam 12 siang (1-2 kali, @ 20 - 60 menit), dan nenen pada waktu tak berbatas (alias sangat sering sekali).

Selain siklus tidur / istirahat saya yang luar biasa menantang, usaha saya untuk mengumpulkan stock ASIP (ASI Perahan) juga butuh perjuangan yang luar biasa. Bagaimana tidak, Afiqah minum ASI langsung (nenen) sangat sering sekali. Tiap kali nenen, dia bisa menghabiskan waktu hampir 1 jam pada PD (payudara) kanan dan kiri. Sehingga saat saya mau merah ASI, sudah hampir tidak ada sisa. Ditambah saya yang saat ini belum jago merah ASI menggunakan alat bantu. Saya sudah coba ganti alat bantu dari yang manual ke elektrik. Sudah coba juga metode marmet alias perah langsung tanpa alat bantu. Keduanya tidak banyak membantu.

Saya mencari info di milis khusus ASI. Saran yang akhirnya cukup membantu adalah saya lebih sering memerah ASI. Sebelumnya saya memerah hanya 3 kali, setelahnya saya jadwalkan minimal 5 kali. Saya usahakan dapat memerah 3 - 4 kali pada waktu pagi hingga sore, dan sekali sekitar jam 8-9 malam (saat Afiqah baru saja tidur), dan sekali jam 11 malam (biasanya Afiqah baru bangun sekitar jam 1 pagi). Hasilnya saya berhasil mengumpulkan 30 botol @ 10-50 ml. Buat saya, itu adalah pencapaian yang luar biasa.
Setelah saya lebih sering memerah, alhamdulillah hasil tiap kali perah makin banyak.

Semangat!!

^_^

Tuesday, November 20, 2012

Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Roji'un. Selamat jalan, mbah Nur.

Semua yang lahir pasti akan meninggal. Ada yang datang dan ada yang pergi.

Kelahiran Syafiqah Rahmah di bulan November ini ternyata diikuti dengan kepergian Mbah Nur tercinta.
Kemarin mbah Nur (ibunya papa saya) telah dipanggil Allah SWT dalam usia 80 tahun lebih. Beliau meninggal dalam kondisi sakit yang cukup parah karena kanker payudara yang dideritanya selama 1 tahun lebih. Beberapa tahun sebelumnya, mbah pernah terkena stroke 2 kali. Bahkan stroke yang terakhir menyebabkan beliau susah menggerakkan bibir untuk bicara dan kaki untuk berjalan.

Buat keluarga kami, mbah Nur menempati tempat yang sangat istimewa. Bagaimana tidak? Papa adalah anak satu-satunya Mbah Nur. Sehingga semua kasih sayang mbah Nur dicurahkan kepada kami, anak-anak papa. Mbah Nur dan mbah Karim lama tinggal di Pekalongan, bahkan mbah Karim meninggal di kota kelahiran papa itu. Sejak kecil, hampir setiap lebaran Idul Fitri kami melakukan tradisi mudik ke Wonopringgo, sebuah kota kecil di Pekalongan.

Sejak kecil kami terbiasa dengan kasih sayang Mbah Nur yang selalu tak habis-habisnya. Terlebih lagi bila kami mudik ke rumah beliau. Setiap pagi kami pasti selalu dibelikan Nasi Megono seharga Rp. 1,000 per bungkus. Nasi Megono ini terdiri dari nasi hangat + Urap nangka gurih manis khas Pekalongan + Tempe goreng tepung. Kami tidak pernah bosan makan nasi megono tiap pagi selama kami di sana. Hehehe..


Friday, November 16, 2012

Sekali lagi, ulang tahun penuh kebahagiaan.. Alhamdulillah..

Alhamdulillah.. Sudah 28 tahun.. ^_^

Coba saya ingat-ingat dulu pencapaian sampai saat ini :
1. Sudah lulus sekolah sampai jenjang S1;
2. Sudah bekerja di bidang yang sesuai dengan background kuliah;
3. Sudah memiliki penghasilan sendiri dan cukup layak sesuai dengan jenjang pendidikan dan skill;
4. Sudah memiliki suami yang insya Allah terbaik;
5. Sudah memiliki Syafiqah Rahmah;
6. Sudah bisa membahagiakan orang tua dengan mewujudkan keinginan mereka terhadap saya, sedikit demi sedikit;
7. Sudah dan masih memiliki banyak teman dan sahabat yang menyayangi saya;
8. Terpenting : masih hidup, sehat, dan insya Allah bermanfaat untuk sesama.

Hmm... yang saat ini masih diperjuangkan :
1. Mendampingi Ibas membiayai adik-adiknya hingga lulus kuliah;
2. Ingin menaikkan kemampuan diri dalam hal programming, bisa lewat sekolah lagi, workshop, course, dsb -> ingin Ibas juga seperti ini;
3. Ingin memiliki rumah sendiri yang sesuai dengan impian saya dan Ibas ( saya akan bahas disini );
4. Memiliki usaha yang saya impikan, berhubungan dengan IT, buku, wanita, keluarga;
5. Ingin meningkatkan kemampuan diri sendiri sebagai muslimah, termasuk memantapkan ibadah sehari-hari dan ibadah haji;
6. Ingin bisa masak setiap hari untuk anak dan suami -> Ibas pernah protes saya jadi jarang masak buat dia semenjak punya anak :P ;

Saat ini beberapa item di atas yang baru terpikirkan. Mungkin tahun depan bisa berubah atau nambah listnya. Hehehehe..
Catatan : penomoran di atas itu bukan berarti yang disebut belakang tidak lebih penting dari pada yang disebut duluan. Semua item di atas sama berartinya untuk saya. :)


^_^

Wednesday, November 7, 2012

Please welcome Syafiqah Rahmah

Jum'at, 2 November 2013

Sesuai dengan jadwal, saya dan Ibas berangkat ke RSIA Tambak ba'da maghrib. Sampai di RSIA Tambak, kami makan malam dulu sebelum akhirnya mendaftarkan saya untuk rawat inap. Alhamdulillah saya mendapatkan kamar kelas utama sesuai keinginan kami. Kenapa kelas utama? Karena di RSIA Tambak, kelas 1 dan kelas utama tidak terlalu jauh baik harga maupun luas kamarnya. Yang berbeda adalah pada kamar kelas 1 terdapat sofa, sedangkan pada kamar utama terdapat sofa bed. Sofa bed lebih luas dan lebih nyaman untuk tidur dari pada sofa biasa. Hal ini diperuntukkan untuk keluarga yang akan menjaga saya selama dirawat di RSIA Tambak. 

Selesai proses pendaftaran dan pembayaran deposit awal, saya langsung diminta untuk datang ke ruang kala. Ruang kala ini merupakan ruang tunggu bagi bumil (ibu hamil) yang akan melahirkan. Saat itu ada 3 bumil yang sedang menunggu pembukaan lengkap. Karena saya adalah pasien operasi caesar, maka saya melakukan persiapan sebelum operasi. Kemudian suster mencukur rambut vagina saya dan melakukan rekam jantung bayi dalam kandungan saya. Proses rekam jantung bayi seharusnya hanya membutuhkan waktu tak lebih dari 30 menit. Namun, karena posisi bayi yang melintang dan bergerak-gerak, suster agak kesulitan untuk melakukan rekam jantung bayi hingga menghabiskan waktu 2 jam lebih.

Sabtu, 3 November 2012

Terus terang, saya tidak dapat tidur nyenyak semalaman itu. Saya diminta untuk bangun pada jam 4. Kemudian bersih-bersih di kamar mandi dan diminta untuk mengganti baju dengan baju operasi. Perasaan saya campur aduk pagi itu, bahkan saya tidak dapat mengingat pasti apa saya rasakan. Hehehe. Ibas dan mba iin membantu saya mempersiapkan diri, karena mereka berdua menginap sejak malam sebelumnya. Ketika suster dan bidan menjemput saya, ternyata ada bapak dan ibu mertua saya yang sudah datang diantar oleh adiknya Ibas. Memasuki kawasan ruang operasi, saya tidak dapat berfikir lagi, hanya mengikuti alur adegan yang ada. Hehehe.. Ibas diminta untuk menandatangi beberapa dokumen persetujuan operasi caesar. Setelah itu saya diajak masuk ke ruang pemulihan operasi sambil menunggu dokter-dokter yang akan membantu persalinan saya. Tak lebih dari 10 menit kemudian (tapi rasanya lama banget :P), para dokter mulai berdatangan. Sesuai yang tertera di papan jadwal yang tertempel di dinding ruangan itu, ada 4 dokter yang akan membantu persalinan saya, yaitu dr Reino (dokter kandungan saya), 1 dokter kandungan sebagai asisten dr. Reino, 1 dokter anastesi, dan 1 dokter anak.
Saat itu saya duduk dan menyaksikan para dokter dan suster berganti baju operasi. Rasanya tidak dapat dijelaskan deh. Tak lama kemudian saya diajak masuk ke ruang operasi. Suhu ruangan itu dingiiin sekali, mungkin seperti freezer dagiing beku yang sering saya liat di restaurantnya Tuan Crab. Hehehe. Saya berjalan menuju meja operasi tanpa alas kaki, saya merasakan kaki seperti kebas. Suster membantu saya untuk naik ke tempat tidur operasi dan meminta saya duduk agak membungkuk, untuk disuntikkan obat bius di tulang belakang saya. Saking dingin ruangannya, saya hampir tidak merasakan rasa sakit suntikannya. Setelah itu saya diminta untuk berbaring terlentang. Suntikan itu bersifat lokal dan hanya membius bagian tubuh saya mulai dari pinggang sampai ujung kaki.
Kemudian para suster mempersiapkan segala sesuatunya termasuk memasang semacam penutup di bawah dada saya. Tak lama kemudian dr. Reino datang dan menyapa saya dengan sapaan hangat seperti biasanya. Dia meminta sama-sama mengucap bismillah sebelum memulai operasi. Saya masih ingat dokter anastesi saya duduk di sebelah kiri belakang tempat tidur operasi. Saya tidak dapat melihat pasti, namun sepertinya dokter anastesi berlaku semacam notulen yang mencatat apa yang terjadi di ruang operasi. Beliau juga yang menceritakan kepada saya apa yang sedang terjadi. Hehehe.. Saya sendiri masih dapat mendengar suara kucuran yang saya duga adalah kucuran darah yang keluar ketika dokter membelah perut saya. :D Tak lama kemudian terdengar suara tangisan pertama anak saya. Alhamdulillah.
Dr. reino kemudian memberikan selamat kepada saya bahwa putri saya lahir dengan selamat, sehat, dan lengkap semua anggota tubuhnya. Alhamdulillah.. Kemudian dokter anak dan suster asistennya membersihkan darah putri saya seadanya untuk kemudian meletakkan di atas dada saya untuk IMD (Inisiasai Menyusui Dini). Sungguh tidak dapat dijelaskan rasanya saat itu, melihat anak saya seperti merangkak dengan mejilat-jilat dada saya sampai akhirnya menemukan puting payudara saya dan mengemutnya. Subhanallah. :)
Kemudian saya teringat untuk menanyakan masalah miom kepada dr. reino, apakah dapat diangkat saat itu juga. dr. Reino menjawab bahwa "Nanti saya lihat, kita bereskan dulu bekas operasi bayinya, ya". Saya tidak menyadari bahwa saat itu, pihak dokter sedang meminta persetujuan Ibas untuk mengangkat miomnya. Saya berfikir saat itu dokter tidak memberitahukan saya agar saya tidak panik karena masih dalam kondisi stress pasca operasi pengangkatan bayi. Saya baru mengetahui tentang miom saya beberapa puluh menit kemudian.dr Reino menawarkan untuk melihat miom saya, dan saya bersedia. Alhamdulillah miomnya dapat diangkat sekalian.
Setelah itu dokter menjahit bekas operasinya, bahkan saya dapat melihat jarum dan benang yang digunakan, karena tangan dokternya diangkat terlalu ke atas ketika menarik benang jahitannya sehingga kelihatan di atas kain penutup. Setelah semua rapih, para dokter berpamitan. Dokter anak menjelaskan tentang kondisi anak saya yang alhamdulillah sehat, namun masih harus diobservasi, sehingga harus dibawa ke ruang bayi dulu. Setelah para dokter keluar dari ruang operasi, para suster membereskan peralatan operasi dan juga memindahkan saya ke ruang pemulihan.
Sampai di ruang pemulihan saya diselimuti dengan selimut berbahan seperti alumunium foil yang hangat. Selimutnya seperti selimut yang digunakan untuk sauna / pengecilan berat badan. Mungkin tujuan selimut itu untuk mengembalikan suhu tubuh saya ke suhu normal karena baru keluar dari ruang operasi yang sangat dingin itu. Tak lama kemudian saya merasa sangat ngantuk sekali. Saya baru terbangun ketika suster datang untuk mengecek tekanan darah dan mengganti pembalut nifas saya. Saya bertanya kepada suster jam berapa saat itu dan saya kaget ketika suster mengatakan sudah jam 9 lewat. Ternyata saya sudah tidur cukup lama. Hehehe.
Sekitar 20-30 menit kemudian saya dipersiapkan untuk dipindahkan ke kamar perawatan. Ternyata beberapa keluarga sudah datang ketika saya sudah di dalam ruang operasi. Karena lamanya saya di ruang pemulihan, mereka sudah pulang karena masih ada keperluan lain. Mereka berjanji untuk kembali menjenguk di lain hari. Ketika saya kembali ke ruang perawatan, masih cukup banyak keluarga yang masih menunggu. :)

And this is.. Please welcome Syafiqah Rahmah, putri cantik buah hati saya dan Ibas. Lahir hari Sabtu, 3 November 2012 pukul 5.22, dengan BB 3.14 kg dan panjang 49 cm di RSIA Tambak. Terima kasih atas support dan do'anya. Iis - Basuki.

Sunday, October 14, 2012

Trimester Ketiga

Minggu ke 25 - 28
Alhamdulillah.. Baby berkembang dengan baik dan sehat. Organ tubuhnya sudah lengkap, tapi ukurannya masih kecil-kecil. Hehehe.. Ukuran kepala normal, yang artinya tidak kecil ataupun terlalu besar (hydrosefalus). Begitu juga lingkar perutnya.

Minggu ke 29 - 32
Pada minggu-minggu ini air ketuban mulai dicek. Jumlahnya cukup dan warnanya normal, tidak berwarna kehijauan yang berarti keracunan. Jumlah jari kedua tangan dan kedua kakinya normal. Ada betis dan paha yang artinya, insya allah tidak kuntet. Berat badan bayinya normal. Hingga minggu ke 32, dr. Reino masih optimis bahwa saya masih bisa lahir dengan proses spontan. Walau ukuran miom cukup besar, selama posisi kepala bayi bisa turun dan masuk ke dalam panggul.

Minggu ke 33 - 36
Mulai minggu ke 32, saya disarankan untuk ikut senam hamil. Agar diarahkan gerakan-gerakan yang dapat membuat kepala bayiku turun dan memasuki panggul. Berat badanku hingga minggu ke 36, total kenaikan hanya 6 kg. Menurut dokter kandunganku, dan juga suster serta bidan instruktur senam hamil, kenaikan berat badan ibu hamil tidak harus terlalu dipermasalahkan. Yang terpenting adalah berat badan bayinya normal, dan keadaannya sehat. Begitu juga keadaan ibunya harus sehat.

Sunday, August 26, 2012

Kalau Joni Bisa Ngomong

Apa kalian tahu film "Janji Joni"? Film yang dibintangi oleh Nicholas Saputra sebagai Joni, bercerita tentang pekerjaan seorang pengantar film di bioskop. Inti cerita dalam film ini sih tentang bagaimana perjuangan seorang pengantar film untuk dapat mengantar film ke berbagai bioskop dengan tepat waktu demi dapat berkenalan dengan seorang wanita cantik.

Namun, bukan itu yang ingin saya bahas di sini. Dalam film Janji Joni disebutkan beberapa jenis penonton bioskop. Karena saya (dan Ibas) suka sekali nonton film di bioskop, maka saya akan sebutkan jenis penonton (yang mengganggu) versi saya.

1. Penonton telat.
Penonton jenis ini datang setelah lampu bioskop dimatikan. Yang lebih bikin sebal adalah jika penonton itu duduknya di pojok, sehingga dia mengganggu penononton di sepanjang barisan tersebut

2. Penonton ngobrol.
Penonton ini biasanya tidak menonton sendiri. Dia ngobrol dengan orang yang bersamanya. Please deh, kalau mau ngobrol mah di luar saja.

3. Penonton kring-kring.
Ini penonton paling menyebalkan. Dia lupa atau memang sengaja tidak mematikan dering handphoe. Sehingga ketika ada yang menghubunginya, handphonenya berbunyi. lebih menyebalkan lagi jika ia dengan santainya mengangkat telp tersebut dan berbicara seolah-olah tidak mengganggu.

4. Penonton komentar.
Penonton jenis ini merupakan yang paling menyebalkan kedua setelah penonton kring-kring. Dia selalu komentar semua adegan film yang sedang berlangsung. Bisa dia komentar dengan temannya atau kadang ngomong sendiri.

5. Penonton handphone.
Penonton yang satu ini mungkin sudah meng-silent-kan handphonenya. tapi ia tetap memakai handphonenya untuk sekedar melihat jam, sms an, bbm an, FB an, atau kegiatan lainnya. Kegiatannya tersebut menyebabkan backlight handphonenya menyala. Suasana bioskop yang gelap akan membuat sinar sekecil apapun menyolok mata penonton yang lainnya.

6. Penonton tidak bisa diam.
Penonton ini tidak berisik karena suaranya, tapi karena gerak-geriknya. Jika sesekali membetulkan letak duduk sih masih normal ya. tapi jika hampir tiap menit ia bergerak, dari membetulkan letak duduk, mengambil / menaruh sesuatu di tasnya, dan lain sebagainya. Bahkan tak jarang ada yang menggoyangkan / menggerakkan kakinya seperti sedang menjahit. Gerakan seperti itu membuat lantai dan kursi penonton di sebelahnya ikut goyang.

7. Penonton bolak balik.
Biasanya penonton yang termasuk jenis ini adalah penonton yang (sok) sibuk atau penonton beser. Tiap ada telp masuk, dia keluar bioskop untuk menerima panggilan itu. Namun yang membuat mengganggu adalah panggilan telp bisa beberapa kali dalam pada saat film sedang diputar. Penonton beser juga mengganggu, karena biasanya dia bisa beberapa kali bolak-balik ke toilet. Yang lebih parahnya lagi jika ia duduk di kursi barisan atas. Saat sedang kebelet, seseorang bisa saja lari-lari agar tidak pipis di celana. Dan gerakannya itu yang mengganggu penonton yang lain, terutama yang duduk di barisan yang sama.

Sunday, July 29, 2012

Trimester Kedua

Minggu ke 13 - 16
Mulai minggu ini saya lebih concern kepada miom yang ada di dalam rahim saya. Karena harus dipastikan bahwa miom tersebut tidak mengganggu janin yang sedang saya kandung. Hingga minggu ke 16, Alhamdulillah janin yang sedang saya kandung berkembang dengan baik.

Minggu ke 17 - 20
Pada bulan ini diketahui bahwa miom yang ada di dalam rahim saya mulai membesar. Menurut dokter tidak ada yang bisa dilakukan untuk menyetop perkembangan miom atau memperkecil ukurannya. Yang bisa dilakukan adalah hanya memonitor bahwa janin dalam keadaan baik dan berkembang dengan semestinya.
Saat itu saya sih belum merasakan apapun di perut saya. Bahkan ukuran perut saya hanya ada gundukan kecil, dan belum terlihat seperti orang hamil. Jadi saya dan Ibas masih sanggup untuk berjalan-jalan ke Jogja selama 3 hari. :)

Minggu ke 21 - 24
Ukuran perut saya mulai membuncit. Tapi karena saya hampir tidak pernah menggunakan pakaian / kaos yang melekat di badan, sehingga orang umum belum menyadari bahwa saya sedang hamil. Hehehe.
Namun pada minggu ke 23, tiba-tiba saya merasakan  nyeri yang sangat pada perut bagian bawah dekat vagina, seperti sakit sedang haid yang dulu sering saya alami. Naasnya, saat itu hampir semua dokter kandungan di Jakarta sedang di Bali untuk mengikuti konferensi dokter kandungan se-Indonesia, termasuk dokter di klinik bersalin yang biasa saya datangi.
Bahkan rumah sakit pemerintah sebesar RSCM pun tidak ada dokter spesialis kandungan yang praktek. Saya malah disuruh menginap ke UGD dulu sampai dokter kembali dari Bali. Tentu saja saya menolak. Hanya membuang waktu dan biaya, karena dokter jaga atau suster yang ada pun tidak dapat melakukan tindakan yang hanya dapat dilakukan dokter spesialis kandungan jika terjadi sesuatu terhadap saya dan kandungan saya.
Malam itu juga, saya dan suami browsing semua rumah sakit di Jakarta yang menyediakan praktek dokter kandungan. Dari 20 Rumah sakit yang kami tlp, 19 diantaranya mengatakan hal yang sama, yaitu dokter spesialis kandungan mereka sedang ke Bali, dan menyuruh saya untuk datang 3 hari kemudian saat dokter itu pulang. Damn, mana bisa saya menunggu selama itu. Memangnya mereka mau tanggung jawab kalau terjadi apa-apa dengan saya dan kandungan saya?
Alhamdulillah ada 1 Rumah Sakit yang menyediakan dokter praktek, yaitu RSIA Tambak. Ada 2 dokter yang praktek pada malam itu dan besoknya. Namun 1 dokter akan berangkat ke Bali malam itu juga setelah selesai praktek dan saya tidak mungkin sempat mengejar jadwal praktek dokter tersebut. Akhirnya saya membuat janji untuk menemui dokter yang satunya lagi, yaitu dr. Reino Rambay. Alhamdulillah. Dari hasil usg fetomaternal dan penjelasan dari dr. Reino, diketahui bahwa sakit yang saya derita itu bukan karena miomnya. Tapi, karena tali pusarnya menutupi jalan lahir, dan sering kesenggol oleh bayi yang saya kandung.
Allah SWT memang Maha Berkehendak. Saya sengaja dipertemukan oleh dr. Reino saat saya memang didiagnosa memiliki Miom di dalam rahim saya. Beliau menyarankan saya untuk berhenti mengkonsumsi kacang kedelai dan semua olahannya, agar pertumbuhan miomnya dapat dihentikan. saya memang sangat suka mengkonsumsi tempe dan tahu, dan selalu ada di menu makanan saya setiap hari. Terbukti, sebulan setelah saya berhenti mengkonsumsi tempe dan tahu, ukuran miom saya tidak bertambah besar. Selain olahan kedelai, tentu saja saya harus menghindari JunkFood, makanan mentah, dan selalu mengkonsumsi buah dan sayur.