Friday, February 17, 2017

Baru 5 tahun belajar

Saya dan suami tidak pernah menyangka bahwa kami akan menikah. Kami memang sudah saling mengenal 10 tahun sebelum kami menikah. Mengenyam pendidikan selama 4 tahun bersama. Jumlah mahasiswa yang tidak terlalu banyak, memungkinkan kami sering bertemu atau bahkan ada kelas2 yang kami ikuti bersama (menurut suami sih ada kelas bareng, tapi saya tidak ingat 😅). Tapi selama 4 tahun bertemu di kampus, seingat saya kami mengobrol hanya beberapa kali, bisa dihitung dengan jari. Itu pun tak pernah mengobrol berdua, tapi dalam forum panitia. Apalagi kami juga bukan teman sepermainan (beda gank gituh 😁). Intinya, sebelumnya saya mengenal suami hanya lewat teman-temannya dan hanya tau bahwa dia ada. 
Sampai sekitar 6 tahun kemudian, dia membantu saya menemukan alamat untuk interview freelance job, saya juga masih tidak menyangka kami akan memiliki hubungan selain pertemanan. Hingga 2,5 tahun setelah itu (8,5 tahun sejak kami kenal), kami dipertemukan lagi di acara pernikahan salah seorang teman. Kami yang kebetulan datang duluan dari yang lain, mengobrol banyak tentang banyak hal. 
Setelah itu, saya baru menyadari bahwa dia ada niat untuk lebih mengenal satu sama lain (dan memastikan saya belum ada yang lamar 😅). Tak sampai 2 bulan setelah itu, dia langsung bertanya pada saya apakah saya mau menjadi istrinya. Setelah saya menyetujuinya, 2 bulan kemudian dia melamar saya langsung ke papa saya. 2 bulan setelahnya dia membawa serta keluarganya untuk melamar saya secara resmi. Setelah itu, kami membutuhkan 8 bulan untuk mempersiapkan segala sesuatu berkaitan dengan akad nikah dan resepsi. Kalau diingat-ingat, kami hanya memiliki waktu 1 tahun (minus kesibukan mempersiapkan pernikahan) sebelum menikah untuk saling mengenal. Waktu yang kurang sih menurut saya. Oleh karena itu, setelah menikah, kami tak berhenti untuk belajar memahami satu sama lain. Belajar menjadi suami dan istri yang saling membawa kebaikan. Belajar menjadi orang tua yang baik untuk anak kami. Sudah 5 tahun kami belajar. Banyak suka dan duka yang kami lewati. Dan kami belum akan berhenti belajar, sampai maut memisahkan (jika Allah SWT mengijinkan).
Btw, teman-teman yang mengenyam pendidikan bersama, (hampir) semua tidak menyangka saat kami mengirimkan undangan pernikahan. Kata mereka "Kok bisa? Kapan PDKTnya?". Hehehe.. Kami saja tidak menyangka kok. Kalau Allah SWT sudah berkehendak, Dia bisa mendekatkan yang jauh, khan? 😊

Happy anniversary, yank. 😘

Wednesday, September 7, 2016

Juli 1996 - Juli 2016

Baru sadar tahun ini sudah 20 tahun saya (masih) belajar menutup aurat. Dengan perjalanan yang bagi saya pun tak mudah, menutup aurat di negara yang walaupun mayoritas Islam, namun (dulu) masih sedikit yang menutup aurat.
Pertama kali saya belajar menutup aurat memang dalam kondisi yang masih disuruh karena saya menjalani pendidikan tingkat tsanawiyah di pesantren putri yang mengharuskan semua santrinya menutup aurat. colek teman-teman se-asrama dan se-pesantren (yang gak mungkin di tag semua). Jujur saat itu, saya menggunakan penutup kepala dan pakaian yang lebih panjang hanya sebatas mengikuti yang diperintahkan dan belum memaknai lebih mendalam.
Ketika lulus tsanawiyah dan smp kemudian melanjutkan ke sma negeri, dimana tidak semua siswi menutup aurat, saya mulai mempertanyakan diri saya sendiri, apakah saya siap dengan keadaan yang berbeda dengan kebanyakan siswi lain. Hati kecil saya yang paling dalam meyakinkan diri saya untuk meneruskan apa yang sudah saya mulai. Insya Allah semua akan mudah. Tentu, banyak hal-hal yang mengharuskan saya menyesuaikan diri. Dimana sebelumnya teman-teman saya sekelas, 1 sekolah bahkan 1 pesantren adalah perempuan semua, kini saya bersekolah dengan lawan jenis juga. Saya ingat pernah sangat terkejut saat teman saya (laki-laki) memanggil untuk meminjam alat tulis. @siti aminah mungkin juga masih ingat ini. Pernah juga seorang teman (laki-laki) bertanya kepada saya dan teman sebangku saya (@feybi) yang juga berjilbab, apa alasan kami memakai jilbab. Itulah pertama kalinya ada yang mempertanyakan alasan saya memakai jilbab. Saat itu saya terus terang tidak dapat menjawab pertanyaan itu. Namun, setelah itu saya lalu mencari jawabannya di dalam diri saya. Perlu waktu hingga 2 tahun sampai saya meyakini alasan saya menutup aurat, karena itu salah satu yang diperintahkan agama yang saya yakini kepada wanita (baligh) yang harus saya ikuti. Pernah juga beberapa orang yang mempertanyakan kenapa wanita berjilbab ada memiliki kelakuan tidak baik. Buat saya jilbab memang sebagai salah satu hal yang bisa menjaga saya dari perbuatan tidak baik. Misal karena saya berjilbab, saya akan lebih malu untuk merokok / minum minuman beralkohol / 'dugem' atau tindakan lainnya. Namun jika masih ada wanita berjilbab yang melakukan itu, bukan jilbabnya yang salah, wanita tersebut yang mungkin belum paham esensi menutup aurat. Sama hal-nya dengan sholat yang bertujuan untuk mencegah perbuatan keji dan munkar. Kalau ada orang rajin sholat namun tetap membunuh atau melakukan tindak kriminal lainnya, bukan berarti orang itu tidak boleh sholat. Sholat itu wajib untuk semua umat Islam. Sama seperti menutup aurat untuk wanita Islam (baligh). Jadi jangan bilang "gpp gw gak berjilbab yang penting rajin sholat". Untuk perempuan (baligh) beragama Islam, menutup aurat dan sholat tidak bisa diperbandingkan. Sama-sama wajib.

Dalam menutup aurat, saya juga jadi melihat lagi ke belakang bagaimana proses belajar saya. Dulu yang saya tau cukup menutup badan dan kepala dengan pakaian agar rambut, leher, tangan, dan kaki yang dulu sering terbuka menjadi tertutup. Lalu kemudian saya belajar bahwa pakaian pun dipilih yang tidak pas di badan alias longgar. Juga saya belajar bahwa penutup kepala dipilih yang juga menutup bagian dada. Tentu sampai saat ini saya masih terus belajar untuk semakin baik dan sesuai syari'ah. Alhamdulillah dapat pendamping yang juga mendukung hal ini. colek @basuki Saya ingat pernah dia tegur karena memakai dress hingga lutut lalu dipadukan dengan celana legging yang ketat untuk menutup betis ketika akan pergi menghadiri undangan.

Jadi kalau kamu ngaku wanita yang beragama Islam, jangan takut untuk menutup aurat. Yuk, sama-sama belajar. :)

Thursday, November 12, 2015

Kapan mau punya anak lagi?

Belakangan ini saya mengalami yang biasa seorang ibu beranak 1 alami. 
Orang-orang di sekeliling mulai bertanya : 
"Afiqah umurnya berapa?" 
"Wah, mau 3 tahun ya?"
"Afiqah belum punya adik?"
"Afiqah udah cocok tuh buat punya Adik." 
"Kenapa nunda-nunda, sih?"
"Umur kamu jalan terus, loh. Emang mau punya anak di usia lanjut?"
dst.. dst...

Sudah siapkah punya anak lagi? Justru pertanyaan itu yang saya tanyakan pada diri saya, bahkan sebelum ada pertanyaan-pertanyaan di atas dari orang lain. Saya dan Ibas selalu sepakat soal jumlah dan kapan mau punya anak, alhamdulillah. Dulu menjelang menikah, kami sepakat tidak berusaha menunda punya anak. Alhamdulillah, Allah SWT langsung mempercayakan sebulan setelah kami menikah dan Afiqah lahir 38 minggu kemudian. :) Kehamilan pertama saya alhamdulillah tidak banyak drama, selain adanya miom jinak. Rasa mual saya rasakan hanya sebulan saat masuk minggu ke 8 - 12. Sempat khawatir ketika pada minggu ke 13, dokter menemukan adanya miom di dalam rahim saya. Kekhawatiran bertambah ketika bulan berikut miom membesar dengan cukup cepat. Namun, setelah mendapat dokter yang tepat (karena diagnosa dan saran-sarannya yang menenangkan), kehamilan pertama saya sangat menyenangkan. Kelahiran Afiqah pun tidak banyak drama. Karena adanya miom yang sangat besar (diameter 11 cm, berat 3 kg), keputusan caesar memang sudah kami persiapkan. Kelahiran Afiqah membawa kebahagiaan yang tak terkira buat saya dan Ibas. Intinya adalah saya tidak trauma untuk hamil dan melahirkan lagi, kalau tidak mengingat mahalnya biaya kedua operasi (bayi dan miom) saat itu. :P

"Semua anak khan punya rezeki masing-masing."

Betul sekali. Kami juga sangat percaya hal itu. Mana mungkin kami berani tidak percaya akan rezeki Allah SWT. Tapi kami juga percaya bahwa "tidak akan berubah suatu kaum sebelum mereka merubah diri mereka sendiri". Artinya kami juga cukup tahu diri untuk mengukur kemampuan kami. Buat kami seorang atau berapa orang anak, amanah yang luar biasa besar tanggung jawabnya. Kami tidak mau memberi rezeki seadanya bahkan kurang pada anak (-anak) kami. Rasanya kami akan sangat berdosa kalau membuat mereka kekurangan. Seorang anak tidak dapat memilih orang tua seperti apa, namun kami bisa memilih mau menjadi orang tua seperti apa untuk anak kami.

"Afiqah sudah 3 tahun, sudah cocok lah buat punya adik."

Alhamdulillah umur Afiqah sudah 3 tahun. Pada umumnya memang sudah cukup jarak usianya jika adiknya direncanakan lahir tahun depan. Namun, kami (khususnya saya) merasa belum cukup waktu saya menimang-nimang Afiqah. Waktu saya sehari-hari yang dipotong untuk bekerja di luar rumah, rasanya belum cukup banyak untuk Afiqah. Walaupun ketika weekend dan hari libur tiba, semua waktu saya untuk Afiqah dan keluarga. Saya merasa masih perlu waktu lebih banyak lagi untuk dapat lebih lengket dengan Afiqah, sebelum adiknya lahir. Karena saya juga paham bahwa ketika adiknya lahir, perhatian saya harus terbagi. Saya percaya kasih sayang seorang ibu akan sama rata untuk semua anak-anaknya. Namun, saya juga realistis, tentunya waktu akan lebih banyak ke anak yang lebih kecil karena belum mampu melakukan apapun sendiri. Harapan saya ketika Afiqah sudah cukup siap mental saat punya adik, dia akan lebih pengertian, atau bahkan mungkin sudah dapat membantu saya. Sehingga saya tidak terlalu lelah jasmani dan rohani yang dapat membuat saya khilaf berkata dengan nada tinggi ke Afiqah. Sekali lagi, saya menyadari kemampuan saya. Rasanya tidak sanggup bila nanti saya sedang mengurus adiknya, lalu Afiqah merengek minta diperhatikan juga. Tidak sanggup hati melihat Afiqah seolah merasa 'disingkirkan' dan saya akan merasa dilema.

"Umur kamu jalan terus, loh. Emang mau pas umur 40 tahun masih kejar-kejar anak balita?"

Kami (terutama saya) sangat paham tentang keadaan ini. Secara biologis, hamil dan melahirkan pada saat usia di atas 40 tahun memang lebih beresiko. Allah SWT Maha Penyayang. Saya yakin, umur berapa-pun nantinya saya memiliki anak, Allah pasti akan menjaga saya. Rencana kami memang akan kembali memiliki anak sebelum usia 40 tahun, semoga rencana Allah sama dengan kami. Amiin.

"Tambah anak sekarang saja. Mumpung kamu masih kuat cari duitnya dan mama kamu masih cukup kuat untuk jaga anak kamu".

Subhanallah memang kalau mendengar komentar yang ini. Seolah-olah saya sengaja meminta mama saya khusus untuk menjaga Afiqah. Demi Allah, itu tidak benar. Saat ini kalau boleh jujur, saya terpaksa meminta bantuan mama menjaga Afiqah. Kami sekeluarga sepakat untuk tidak mempercayakan Afiqah 100% kepada baby sitter.

Jadi, tanpa kalian tanya pun, saya sudah bertanya kok kepada diri saya kapan siap punya anak lagi.
Allah yang Maha Tahu apa yang baik untuk umatnya. Saya yakin. Bismillaahiraahmanirrahiim.

^_^

Sunday, October 5, 2014

Selamat Hari Raya Idul Adha untuk semua muslimin di dunia

Buat yang blm berqurban dengan alasan gak punya duit. Coba lihat lagi deh.

Punya HP? Harganya brp?

Punya laptop / PC? Harganya brp?

Punya motor? Harganya brp?

Punya mobil? Harganya brp?


"Semua itu khan dibeli dengan dicicil".


Qurban juga bisa dicicil kok. Qurban itu khan HANYA setahun 1 kali.

Kalau sebulan nabung 200rb. Setahun dapat Rp. 2.4jt. Insya allah sudah bisa qurban ( 1ekor kambing atau 1/7 Sapi)

Gak bisa?

Kalau sebulan nabung Rp. 100rb, berarti dalam 2 tahun insya Allah bisa qurban.

Masih gak bisa juga?

Kalau sebulan nabung Rp. 50rb, berarti dalam 4 tahun insya Allah bisa qurban.

Masih ngerasa gak bisa karena pendapatan pas pas an buat makan dan transport?

Coba deh puasa sunnah. Kalau ongkos makan Rp. 15.000/ 1 kali makan. Berarti cukup puasa sunnah 1 kali seminggu, dalam sebulan udah bisa nabung Rp. 60rb. Pahalanya insya Allah jadi double.

Kalau ngerasa gak bisa nabung selama itu, krn uangnya kepake terus, coba deh Tabungan Rencana. Tabungan yang di autodebet pas setelah gajian, jadi "dipaksa" nabung. Masa bisa nabung buat beli keperluan dunia, tapi gak bisa nabung untuk keperluan akhirat. Hehehehe..

Bener2 gak bisa nabung segitu? Atau pengen berqurban lebih cepat dari kemampuan? Coba ajak keluarga untuk patungan. Suami, anak, orangtua, kakak, adik, ipar, mertua. Mungkin yang akan diajukan hanya nama 1 orang ke panitia Qurban, tapi Allah SWT khan Maha Tau siapa aja yang berniat qurban itu. Gpp namanya gak diketahui manusia sebagai pengurban, yang penting khan Allah tau. Ya, gak? :D

Bismillah, niatkan berqurban. Tetapkan hati berusaha menabung untuk qurban. Sisanya jadi mudah, karena dimudahkan oleh Allah SWT. Percaya, deh.

Cobain deh sekali aja berqurban, rasanya luar biasa menakjubkan.


^_^

Saturday, July 5, 2014

Ceriwis

Please meet si ceriwis Afiqah.. Hehehehe..

Rasanya mulutnya tak berhenti bicara kecuali saat dia tidur. Memang awalnya saya yang memancing Afiqah menjadi ceriwis. Pasalnya saya menganut paham : ajaklah bayimu berbicara agar tercipta bonding dan meminimalisir kemungkinan dia terlambat memiliki kemampuan berbicara. Tapi sepertinya saya yang terlampau semangat mengajak ngobrol Afiqah sejak ia belum genap 1 tahun. Hehehe.. Untuk ukuran seusia dia, kemampuan bicaranya melebihi rata-rata. Tentu saja itu penilaian dari mamanya yang bisa jadi sangat subjective. Hihihihi.. Intinya, alhamdulillah dia sudah sangat lancar melafalkan semua kata yang ia pelajari. Walaupun tentu masih ada huruf yang terdengar cadel. Misal dia belum bisa melafalkan huruf F dan Q. Jadi dia menamai dirinya Pipa dari kata Fiqa. Hehehee..
Ah, berapapun bertambahnya kemampuanmu nak tetap membuatku bangga menjadi mamamu.

Love u

😘😬

Saturday, April 5, 2014

Libur Nasional 2015

Saya sudah merencanakan Family Travelling tahun depan. Berhubung saya adalah orang yang bekerja di kantor, hari libur nasional di weekday merupakan hal yang sangat saya perhatikan ketika merencanakan travelling. :)
Jadi, saya mau berbagi info hari libur tahun 2015 kepada kalian. Semoga bermanfaat. Dan semoga info dari saya ini cukup valid. Hehehe..

Libur Nasional :

1. 1 Januari (Kamis) - Tahun Baru 2015

2. 3 Januari (Sabtu) - Maulid Nabi Muhammad SAW

3. 19 Februari (Kamis) - Tahun Baru Imlek 2566

4. 21 Maret (Sabtu) - Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1937

5. 3 April (Jumat) - Wafat Yesus Kristus

6. 1 Mei (Jumat) - Hari Buruh Internasional

7. 14 Mei (Kamis) - Kenaikan Yesus Kristus

8. 16 Mei (Sabtu) - Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW

9. 2 Juni (Selasa) - Hari Raya Waisak 2559

10. 17-18 Juli (Jumat-Sabtu) - Hari Raya Idul Fitri 1436 Hijriah

11. 17 Agustus (Senin) - Hari Kemerdekaan RI

12. 24 September (Kamis) - Hari Raya Idul Adha 1436 Hijriah

13. 14 Oktober (Rabu) - Tahun Baru Islam 1437 Hijriah

14. 25 Desember (Jumat) - Hari Raya Natal


Cuti Bersama:

1. 16, 20, dan 21 Juli (Kamis, Senin, Selasa) - Cuti Bersama Hari Raya Idul Fitri 1436 Hijriah

2. 24 Desember (Kamis) - Cuti Bersama Hari Raya Natal

Sunday, November 3, 2013

She is not a baby anymore



Alhamdulillah, She is not a baby anymore. Happy Birthday my little Afiqah :)

Sunday, July 21, 2013

Untuk memiliki rumah itu banyak pertimbangannya, ya?

Bermula dari melihat status salah satu teman yang menawarkan untuk membeli rumah melalui salah satu developer, saya jadi teringat akan keinginan saya (yang kini menjadi keinginan bersama Ibas) untuk memiliki paling tidak sebuah rumah sendiri. Rumah sendiri yang saya maksudkan di sini adalah rumah yang layak, bukan hanya sekedar bangunan dari bahan seadanya, memiliki kekuatan hukum yang kuat, dan atas nama saya. Saat ini memang kami sudah tinggal terpisah dari orang tua kami, namun masih mengontrak rumah orang lain. Karena hal itu adalah pilihan terbaik kami saat ini. Namun, secara realistis ternyata untuk dapat memiliki rumah yang diinginkan tidak semudah yang saya fikirkan. Berikut beberapa pertimbangan yang menurut saya lumayan (kalau tidak dapat dibilang sangat) mempengaruhi realisasi keinginan tersebut.


1. Harga tanah (dan rumah) dan kemampuan finansial 
Harga tanah dan rumah semakin hari akan semakin naik. Mengapa begitu? Kalau menurut analisa saya sebagai orang awam, itu karena semakin banyaknya permintaan rumah sebanding lurus dengan pertambahan jumlah penduduk di Jakarta ini. Namun keinginan memiliki rumah akan sangat sulit direalisasikan jika kemampuan finansial tidak memadai. Kemampuan finansial didapat dari pemasukan hasil wirausaha maupun gaji sebagai pegawai yang HARUS lebih besar daripada pengeluaran. Kemampuan finansial ini seolah berkejar-kejaran dengan harga rumah itu sendiri. Jika kita tidak berlari lebih kencang, atau meminta bantuan lain untuk mengejar, maka kita tidak akan dapat menangkap harga rumah yang kita inginkan. 

2. Jarak antara rumah dengan tempat kerja 
Untuk para pegawai (seperti yang saya jalani saat ini) yang bekerja di Jakarta, pertimbangan ini cukup penting. Mengapa? Waktu kerja umumnya menghabiskan waktu 9 jam sehari, yaitu dari pukul 8 pagi sampai dengan pukul 17 sore. Waktu tempuh dari rumah ke kantor dan dari kantor ke rumah yang wajar menurut saya tidak lebih dari 1 jam. Sehingga, kita harus berangkat paling tidak jam 7 pagi dari rumah dan akan sampai rumah jam 18 sore. Untuk mencapai suatu tempat di jakarta dari jarak yang dekat saja dapat menghabiskan waktu yang banyak karena macetnya, maka dapat dibayangkan jika jarak rumah cukup jauh dari kantor. Sangat mungkin terjadi kita harus berangkat dari pukul 5 pagi dan akan sampai di rumah pukul 20 malam. Jadi jam berapa kita harus bangun dan pergi tidur? Hanya berapa jam yang dapat kita nikmati untuk tidur ketika hari kerja? Hanya berapa jam yang dapat kita nikmati untuk bercengkerama dengan orang yang kita sayang ketika hari kerja? 

3. Jarak antara rumah dengan rumah orang tua 
Bagi kita yang tinggal 1 kota dengan orang tua, pertimbangan ini seringkali muncul ketika menentukan akan tinggal dimana, baik yang masih single maupun yang sudah berkeluarga. Buat saya yang belum lama berkeluarga, jujur ini penting ketika masih memiliki anak yang berusia di bawah 5 tahun. Setelah berkeluarga dan memiliki anak, saya masih ingin bekerja. Bukan karena saya ambisius terhadap karir. Namun, dengan bekerja saya dapat membantu Ibas untuk menambah pemasukan keluarga dan mewujudkan mimpi-mimpi kami kepada keluarga kami. Bekerja merupakan pilihan yang saya ambil saat ini, dan tentu ada konsekuensinya. Anak saya yang masih kecil tentu tidak dapat ditinggal di rumah sendirian, apalagi dibawa ke tempat saya bekerja. Saya juga termasuk yang kurang dapat percaya 100% kepada pengasuh, sekalipun ia tenaga profesional. Saya ingin menitipkan anak saya kepada orang yang dapat mencintainya paling tidak sebesar saya mencintainya, bukan hanya sekedar menjaga dan mengasuhnya. Maka pilihan saya jatuh kepada orang tua saya. Sungguh, bukan maksud saya untuk menyusahkan dan merepotkan kedua orang tua saya yang sudah tidak muda lagi. Tapi, saya sungguh hanya ingin mencari solusi terbaik bagi semuanya. Semoga pilihan saya diridhoi Allah SWT. Alhamdulillah, kedua orang tua saya setuju untuk membantu saya menjaga Afiqah.

4. Keamanan dan kenyamanan 
Keamanan rumah mungkin menjadi salah satu hal terpenting bagi semua orang. Baik memiliki rumah yang besar dan mewah, maupun yang yang memiliki rumah yang kecil dan sederhana. Kenyamanan juga pasti diinginkan semua orang. Seperti yang banyak orang katakan, "Home sweet home", atau "Rumahku adalah Istanaku". Kenyamanan yang didefinisikan oleh masing-masing orang memang dapat berbeda. Dalam definisi saya, kenyamanan dapat diartikan adanya kehangatan yang dirasakan semua orang yang tinggal bersama, dapat menjadi diri sendiri, tidak malu untuk memberikan kebaikan kepada satu sama lain. :) 

5. Jarak antara rumah dengan tempat-tempat fungsional (rumah sakit, pasar, sekolah anak) 
Selain poin nomor 2, poin ini juga merupakan salah satu pertimbangan yang banyak difikirkan oleh kebanyakan orang-orang yang sudah berkeluarga. Keluarga yang memang cukup sering memasak tentunya akan sangat senang jika rumahnya tak jauh dari pasar. Untuk membeli beberapa barang kebutuhan rumah tangga mungkin memang dapat dibeli sekali seminggu ataupun sekali sebulan di supermarket yang agak jauh dari rumah. Namun, untuk membeli bahan makanan fresh, seperti ayam, ikan, daging, buah, dan sayur, tentunya lebih enak jika dibeli tak lama sebelum akan diolah, yaitu setiap pagi. Untuk orang-orang yang sudah memiliki anak, jarak antara rumah dan sekolah anak juga penting. Para orang tua tentu tidak ingin anak mereka terlambat sampai di sekolah. Mereka juga mungkin tidak tega untuk membangunkan anak mereka sangat pagi hanya karena sekolahnya jauh dari rumah. 

6. Jarak antara rumah dengan akses angkutan umum 
Tidak semua orang punya dan mampu punya kendaraan pribadi (materi baru nih :P). Sehingga angkutan umum adalah pilihan terbaik untuk membantu aktifitasnya. Apalagi saya, yang termasuk malas dan "agak" penakut untuk mengendarai kendaraan sendiri (apapun kendaraannya), lebih memilih naik angkutan umum. Kenapa? Karena naik angkutan umum itu dijamin tidak nyasar (asal tahu trayeknya saja), lebih enak untuk mengamati keadaan di sepanjang jalan (ini sih kebiasaan saya saja suka mengamati sesuatu hal atau bahkan sekedar membaca tulisan-tulisan yang terlihat). Nah, akses untuk mendapatkan angkutan umum dari rumahnya tentu adalah hal yang patut dipertimbangkan. Saya pernah ke rumah salah seorang kenalan yang berada di komplek mewah. Rumah dia itu terletak di ujung komplek tersebut. Oke, saya maklum jika mungkin tidak ada angkutan umum di dalam komplek rumahnya. Tapi ini lebih parah dari itu, tidak angkutan umum yang lewat di depan gerbang komplek rumahnya. Sejak saat itu, saya kapok main ke rumahnya, kecuali jika naik taxi atau diantar jemput ke tempat yang ada akses angkutan umumnya. :P 

7. Luas tanah dengan jumlah orang yang akan menempati 
Poin ini sebenarnya untuk mendukung poin kenyamanan yang ada di poin 4. Jika luas tanah / bangunan tidak mencukupi untuk orang-orang yang akan tinggal tentu tidak nyaman. Sebaliknya jika luas tanah / bangunan jauh melebihi kecukupan untuk jumlah orang yang akan menempati rumah tersebut, menurut saya akan mengurangi kehangatan keluarga yang saya bahas di poin 4. Beberapa orang bilang bahwa poin ini dapat "diakalin". Maksudnya adalah jika tanah / bangunannya kecil, sedangkan orang yang akan menempatinya lebih banyak, maka dapat dibangun bertingkat ke atas atau ke bawah menyesuaikan kebutuhan. Namun, ini akan memunculkan masalah baru. Untuk naik turun rumah bertingkat banyak tentu akan mengurangi kenyamanan tinggal di rumah tersebut. Hehehe... 

8. Apakah rawan bencana (kebakaran, banjir, gempa)? 
Setelah hidup selama lebih dari 20 tahun (jumlah aslinya rahasia, ya? :P), saya mengalami atau melihat banyak bencana yang terjadi di berbagai belahan dunia ini. Bencana memang bukan hal yang dapat disangka-sangka kapan waktunya dan terjadi di mana. Namun, kita sebagai manusia dapat melihat adanya potensi-potensi dari sebuah tempat mengalami sebuah bencana. Misalnya saja kebakaran. Suatu perumahan padat penduduk dengan ilmu wawasan dan kesadaran yang rendah dapat menyebabkan sering terjadinya kebakaran. Seringkali kebakaran terjadi hanya karena hal-hal yang dianggap sepele, seperti membuang puntung rokok (yang masih menyala, walau sedikit) sembarangan, menggunakan karburator gas yang kendor, selang gas yang bocor (halus), menaruh lilin sembarangan, membiarkan anak kecil bermain api tanpa penjagaan, dan lain sebagainya. Banjir pun demikian. Tak dapat dipungkiri, banjir yang sering terjadi di Indonesia (terutama Jakarta) sebagian besar alasannya adalah karena menumpuknya sampah di pembuangan air. 

9. Jalan menuju rumah dapat dilewati kendaraan (roda 2 dan roda 4) 
Pertimbangan yang satu ini sebenarnya tidak hanya difikirkan oleh orang-orang yang memiliki kendaraan pribadi, namun juga bagi yang tidak memiliki kendaraan pribadi. Mengapa? Alasan pertama adalah, tentunya akan lebih nyaman jika kita tidak harus berjalan di gang yang sempit untuk dapat pulang dan pergi ke dan dari rumah kita. Alasan selanjutnya, agar adanya akses untuk angkutan umum melewati jalur rumah kita seperti yang saya inginkan di poin 6. Dan mungkin akan banyak alasan lainnya. 

10.Tanah yang ada dapat membangun garasi untuk kendaraan yang dimiliki (roda 2 dan roda 4) 
Hal ini penting bagi orang yang memiliki kendaraan pribadi agar keamanan kendaraannya lebih terjaga. Jika poin ini terpenuhi, maka juga akan membawa kenyamanan bagi orang yang tinggal di sekitar rumah kita maupun yang melewati rumah kita. Sering saya temui banyak sekali kendaraan (roda 2 ataupun roda 4) yang diparkir di depan sebuah rumah. Hal itu membuat jalan / gang rumah tersebut menjadi sulit dilalui. 


Pertimbangan-pertimbangan saya di atas sebenarnya sudah tertulis di FB saya. Cukup banyak respon yang ditulis oleh beberapa teman. Ada yang sagalau saya dalam keinginannya memiliki rumah. Ada yang menyarankan untuk nekat membeli dengan modal dan pertimbangan seadanya. Ada yang memberikan beberapa solusi agar dapat memiliki rumah yang cukup layak dan dapat memenuhi sebagian besar (jika tidak dapat semua) pertimbangan-pertimbangan di atas. Doain saya, ya. Agar dapat memiliki rumah sendiri yang memenuhi pertimbangan-pertimbangan di atas. Aamiin.

Jadi, apa pertimbangan kalian dalam mewujudkan keinginan memiliki rumah sendiri?

Saturday, May 25, 2013

Yeay.. Belajar Makan..

Saya sudah mengumpulkan berbagai resep MPASI untuk persiapan Afiqah belajar makan padat pertamanya. Saat Afiqah berusia 6 bulan, kami memang sedang melakukan perjalanan Jakarta - Kuala Lumpur - Kota Kinabalu. Jadi, kami memutuskan untuk memundurkan waktu belajar makan-nya Afiqah. Karena kami fikir saat itu kami memprioritaskan penyesuaian Afiqah terhadap trip itu sendiri (trip akan diceritakan terpisah).
Pilihan pertama saya jatuh pada biskuit Farley. Menurut rekomendasi beberapa teman, biskuit ini teksturnya lebih lembut dibanding biskuit lainnya. Saya campurkan biskuit Farley dengan susu Formula-nya. Alhamdulillah lahap makannya. Semoga dengan mulainya makan makanan padat, Afiqah akan berkurang ketergantungan pada susu formulanya.

^_^

Saturday, April 6, 2013

She is 5 months old now!

Akhirnya saya merelakan untuk Afiqah minum susu formula. Ini keputusan yang amat sangat sulit buat saya. Butuh waktu sebulan observasi Afiqah dan mempersiapkan mental. Alhamdulillah ASI saya masih keluar, jadi saya ASI saya masih cukup untuk menyusui Afiqah secara langsung. Namun hasil pompa ASIP tidak sebanding dengan kebutuhan Afiqah selama saya di kantor. Kenapa akhirnya saya memutuskan untuk mencampur asupan Afiqah antara ASI dan Susu Formula?

1. Selama 1 bulan sejak saya kembali aktif di kantor, semua stock ASIP yang saya kumpulkan selama saya cuti melahirkan (3 bulan) habis tak bersisa. Sehingga, sejak Afiqah berumur 4 bulan, yang saya pompa di kantor pada hari ini untuk diminum Afiqah esoknya.

2. Total ASIP yang bisa saya hasilkan dengan memompa selama tidak disusui oleh Afiqah secara langsung adalah = 580 ml - 650 ml, dengan perincian sebagai berikut :
 a. Jam 2 pagi = 50 ml
 b. Jam 5 pagi = 50 ml
 c. Jam 8 pagi = 60 ml
 d. Jam 1 siang = 150 ml
 e. Jam 4 sore = 150 ml
 f. Jam 8 malam = 70 ml
 g. Jam 10 malem = 50 ml

3. Jumlah kebutuhan Afiqah selama saya tinggal ke kantor adalah 7 x 100 ml = 700 ml, maksimal 7 x 120 ml = 840 ml

4. Metode pemberian ASIP pada Afiqah biasanya adalah 1 botol @50ml setiap kali minum. Menurut orang tua saya, setelah 1 botol habis, Afiqah masih suka menangis. Sudah dicoba diganti popok dan bajunya, sudah coba dinyalakan pendingin ruangan, masih menangis. Namun, jika diberikan ASIP 1 botol @50ml lagi, baru dia diam.

5. Tidak mungkin saya tega mengetahui anak saya kekurangan asupan, hanya karena saya egois menerapkan keinginan saya untuk ASIX.

6. Saya sudah mencoba memakan semua makanan dan minuman yang dianjurkan oleh orang tua, dokter, artikel internet, ibu-ibu di milis ASI. Bahkan saya juga sudah 2 kali ke konselor laktasi. Hasilnya adalah memang ASI saya lancar, namun payudara saya menghasilkan ASI yang banyak tapi tidak melimpah. Terlebih melihat kemampuan menyusu Afiqah yang cukup banyak. Itulah mengapa hasil pompa saya selama di rumah tidak dapat banyak, karena sisanya memang sedikit setelah disusu langsung oleh Afiqah.

Apapun itu, alhamdulillah Afiqah tetap sehat dan ceria. Sekarang Afiqah sudah mulai lancar merangkak, walau masih kadang tangannya terjatuh. Semangat sayangnya papa mama! 

^_^

Saturday, March 23, 2013

Sudah 4 bulan.. Dan stock ASIP pun habis.. :'(

Sebulan kerja setelah selesai cuti melahirkan sungguh luar biasa. Penyesuaian kembali terhadap coding dan logsheet setelah 3 bulan tidak menyentuhnya. Alhamdulillah punya rekan-rekan kerja yang luar biasa membantu mengembalikan otak dan konsentrasi ke pekerjaan. Namun, tentu ritme penyesuaian yang saya alami harus disertai dengan berlari mengejar ketertinggalan yang cukup banyak. Hal baru yang saya temui di kantor adalah adanya seorang programmer baru yang direkrut ketika saya masih dalam masa cuti melahirkan.

Penyesuaian lain adalah adanya aktifitas pompa ASI selama di kantor. Karena saya belum tahu bagaimana menyelipkan aktifitas ini di sela jam kerja, jadwal pompa ASI adalah pagi menjelang jam 8 pagi dan pada saat istirahat makan siang (setelah makan siang). Pompa di minggu pertama tidak terlalu banyak, mungkin karena tegang menghadapi saat pertama penyesuaian terhadap pekerjaan. Apalagi mendengar laporan dari uti dan akungnya Afiqah kalau Afiqah bisa menghabiskan 6-7 botol ASIP sehari. Alamaaak, lahap betul minumnya. Jadi kalau kata orang dulu anak perempuan minum ASI nya gak banyak, terbukti mitos yaaa.. :P

Minggu kedua lumayan meningkat, sehari bisa mompa total 2 botol @ 100ml. Dan di akhir bulan, ternyata stock ASIP di kulkas rumah dan rumah mama pun habis. Akhirnya merasakan juga apa yang pernah diobrolin di milis ASI, kejar tayang. Mompa hari ini untuk diminum besok. Semangaaat..

Sunday, February 3, 2013

3 bulan. Cuti sudah habis. Hiks

Satu bulan terakhir sungguh tak terasa. Terlebih karena situasi kejar-kejar-an stock ASIP dengan waktu. ASIP di freezer sudah mencapai 60 botol @ 10 - 60 ml. Alhamdulillah. Persiapan untuk pompa ASI di kantor pun sudah lengkap. Bismillah, semoga lancarr jaya.

Perlengkapan pompa ASI saya terdiri dari :
1. 1 set Pompa ASI manual (hasil lungsuran temannya kakak)
2. 1 buah mini cooler box
3. 1 buah ice cooler
4. 2 buah blue ice gel
5. Beberapa botol dengan penutup karet untuk menyimpan ASI.

Selama 3 bulan cuti, saya sudah mengkondisikan Afiqah dengan keadaaan saya yang nantinya harus kembali bekerja dan menitipkan Afiqah di rumah mama. Jadi setiap jam 7 pagi, setelah Ibas berangkat kerja, saya  membawa Afiqah ke rumah mama dan memandikannya di sana. Setelah mandi, disusukan selama 30-60 menit. Jika setelahnya ia tidak rewel atau malah tertidur lagi, maka saya kembali pulang ke rumah untuk beres-beres rumah. Mama akan mengambil alih menjaga Afiqah hingga ia bangun dan meminta ASI kembali. Ritual ini saya lakukan sepanjang hari (pagi - sore) setiap hari Senin-Jumat. Ketika hari Sabtu dan Minggu saya akan lebih banyak menghabiskan waktu bersama Afiqah di rumah sendiri.

Hal yang membuat saya agak cemas tentang jam pumping ASI di kantor. Alhamdulillah, kantor saya menyediakan ruangan meeting yang cukup nyaman untuk pegawainya memompa ASI selama di kantor. Menurut pegawai yang pernah melakukan pompa ASI, dia bisa 2-3 kali memompa ASI selama di kantor, selama ruangan meeting tidak digunakan untuk rapat atau seleksi pegawai. Namun, mengingat pekerjaan saya sebagai programmer yang membutuhkan perhatian dan waktu yang tidak sedikit, saya jadi ragu dapat meluangkan waktu 3 kali untuk pompa. Semoga Allah memudahkan. Aamiin. Bismillah.

^_^

Friday, January 4, 2013

Sudah 2 bulan, ya nak?

Tidak terasa sudah 2 bulan. Banyak kejadian yang terjadi, dari peristiwa kebakaran di sekitar rumah 2 hari sebelum Afiqah lahir, sampai kepergian Mbah Nur tersayang.

Selama 2 bulan ini, siklus tidur saya luar biasa menantang. Saya memilih untuk tidak memakaikan Afiqah diapers karena masih terlalu kecil dan kasihan dengan kulitnya yang masih sangat sensitif pastinya. Jadi otomatis, saya terbangun tiap kali Afiqah menangis karena popok kainnya basah. Belum lagi kalau ia terbangun karena haus, saya juga harus bangun untuk menyusuinya. Saya sudah dapat mengenal siklus tidur, pipis / pup, dan nenen nya Afiqah. Dalam sehari, ia pipis 7 - 10 kali, pup 3-5 kali, tidur pada siang hari biasanya sebelum jam 12 siang (1-2 kali, @ 20 - 60 menit), dan nenen pada waktu tak berbatas (alias sangat sering sekali).

Selain siklus tidur / istirahat saya yang luar biasa menantang, usaha saya untuk mengumpulkan stock ASIP (ASI Perahan) juga butuh perjuangan yang luar biasa. Bagaimana tidak, Afiqah minum ASI langsung (nenen) sangat sering sekali. Tiap kali nenen, dia bisa menghabiskan waktu hampir 1 jam pada PD (payudara) kanan dan kiri. Sehingga saat saya mau merah ASI, sudah hampir tidak ada sisa. Ditambah saya yang saat ini belum jago merah ASI menggunakan alat bantu. Saya sudah coba ganti alat bantu dari yang manual ke elektrik. Sudah coba juga metode marmet alias perah langsung tanpa alat bantu. Keduanya tidak banyak membantu.

Saya mencari info di milis khusus ASI. Saran yang akhirnya cukup membantu adalah saya lebih sering memerah ASI. Sebelumnya saya memerah hanya 3 kali, setelahnya saya jadwalkan minimal 5 kali. Saya usahakan dapat memerah 3 - 4 kali pada waktu pagi hingga sore, dan sekali sekitar jam 8-9 malam (saat Afiqah baru saja tidur), dan sekali jam 11 malam (biasanya Afiqah baru bangun sekitar jam 1 pagi). Hasilnya saya berhasil mengumpulkan 30 botol @ 10-50 ml. Buat saya, itu adalah pencapaian yang luar biasa.
Setelah saya lebih sering memerah, alhamdulillah hasil tiap kali perah makin banyak.

Semangat!!

^_^

Tuesday, November 20, 2012

Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Roji'un. Selamat jalan, mbah Nur.

Semua yang lahir pasti akan meninggal. Ada yang datang dan ada yang pergi.

Kelahiran Syafiqah Rahmah di bulan November ini ternyata diikuti dengan kepergian Mbah Nur tercinta.
Kemarin mbah Nur (ibunya papa saya) telah dipanggil Allah SWT dalam usia 80 tahun lebih. Beliau meninggal dalam kondisi sakit yang cukup parah karena kanker payudara yang dideritanya selama 1 tahun lebih. Beberapa tahun sebelumnya, mbah pernah terkena stroke 2 kali. Bahkan stroke yang terakhir menyebabkan beliau susah menggerakkan bibir untuk bicara dan kaki untuk berjalan.

Buat keluarga kami, mbah Nur menempati tempat yang sangat istimewa. Bagaimana tidak? Papa adalah anak satu-satunya Mbah Nur. Sehingga semua kasih sayang mbah Nur dicurahkan kepada kami, anak-anak papa. Mbah Nur dan mbah Karim lama tinggal di Pekalongan, bahkan mbah Karim meninggal di kota kelahiran papa itu. Sejak kecil, hampir setiap lebaran Idul Fitri kami melakukan tradisi mudik ke Wonopringgo, sebuah kota kecil di Pekalongan.

Sejak kecil kami terbiasa dengan kasih sayang Mbah Nur yang selalu tak habis-habisnya. Terlebih lagi bila kami mudik ke rumah beliau. Setiap pagi kami pasti selalu dibelikan Nasi Megono seharga Rp. 1,000 per bungkus. Nasi Megono ini terdiri dari nasi hangat + Urap nangka gurih manis khas Pekalongan + Tempe goreng tepung. Kami tidak pernah bosan makan nasi megono tiap pagi selama kami di sana. Hehehe..


Friday, November 16, 2012

Sekali lagi, ulang tahun penuh kebahagiaan.. Alhamdulillah..

Alhamdulillah.. Sudah 28 tahun.. ^_^

Coba saya ingat-ingat dulu pencapaian sampai saat ini :
1. Sudah lulus sekolah sampai jenjang S1;
2. Sudah bekerja di bidang yang sesuai dengan background kuliah;
3. Sudah memiliki penghasilan sendiri dan cukup layak sesuai dengan jenjang pendidikan dan skill;
4. Sudah memiliki suami yang insya Allah terbaik;
5. Sudah memiliki Syafiqah Rahmah;
6. Sudah bisa membahagiakan orang tua dengan mewujudkan keinginan mereka terhadap saya, sedikit demi sedikit;
7. Sudah dan masih memiliki banyak teman dan sahabat yang menyayangi saya;
8. Terpenting : masih hidup, sehat, dan insya Allah bermanfaat untuk sesama.

Hmm... yang saat ini masih diperjuangkan :
1. Mendampingi Ibas membiayai adik-adiknya hingga lulus kuliah;
2. Ingin menaikkan kemampuan diri dalam hal programming, bisa lewat sekolah lagi, workshop, course, dsb -> ingin Ibas juga seperti ini;
3. Ingin memiliki rumah sendiri yang sesuai dengan impian saya dan Ibas ( saya akan bahas disini );
4. Memiliki usaha yang saya impikan, berhubungan dengan IT, buku, wanita, keluarga;
5. Ingin meningkatkan kemampuan diri sendiri sebagai muslimah, termasuk memantapkan ibadah sehari-hari dan ibadah haji;
6. Ingin bisa masak setiap hari untuk anak dan suami -> Ibas pernah protes saya jadi jarang masak buat dia semenjak punya anak :P ;

Saat ini beberapa item di atas yang baru terpikirkan. Mungkin tahun depan bisa berubah atau nambah listnya. Hehehehe..
Catatan : penomoran di atas itu bukan berarti yang disebut belakang tidak lebih penting dari pada yang disebut duluan. Semua item di atas sama berartinya untuk saya. :)


^_^

Wednesday, November 7, 2012

Please welcome Syafiqah Rahmah

Jum'at, 2 November 2013

Sesuai dengan jadwal, saya dan Ibas berangkat ke RSIA Tambak ba'da maghrib. Sampai di RSIA Tambak, kami makan malam dulu sebelum akhirnya mendaftarkan saya untuk rawat inap. Alhamdulillah saya mendapatkan kamar kelas utama sesuai keinginan kami. Kenapa kelas utama? Karena di RSIA Tambak, kelas 1 dan kelas utama tidak terlalu jauh baik harga maupun luas kamarnya. Yang berbeda adalah pada kamar kelas 1 terdapat sofa, sedangkan pada kamar utama terdapat sofa bed. Sofa bed lebih luas dan lebih nyaman untuk tidur dari pada sofa biasa. Hal ini diperuntukkan untuk keluarga yang akan menjaga saya selama dirawat di RSIA Tambak. 

Selesai proses pendaftaran dan pembayaran deposit awal, saya langsung diminta untuk datang ke ruang kala. Ruang kala ini merupakan ruang tunggu bagi bumil (ibu hamil) yang akan melahirkan. Saat itu ada 3 bumil yang sedang menunggu pembukaan lengkap. Karena saya adalah pasien operasi caesar, maka saya melakukan persiapan sebelum operasi. Kemudian suster mencukur rambut vagina saya dan melakukan rekam jantung bayi dalam kandungan saya. Proses rekam jantung bayi seharusnya hanya membutuhkan waktu tak lebih dari 30 menit. Namun, karena posisi bayi yang melintang dan bergerak-gerak, suster agak kesulitan untuk melakukan rekam jantung bayi hingga menghabiskan waktu 2 jam lebih.

Sabtu, 3 November 2012

Terus terang, saya tidak dapat tidur nyenyak semalaman itu. Saya diminta untuk bangun pada jam 4. Kemudian bersih-bersih di kamar mandi dan diminta untuk mengganti baju dengan baju operasi. Perasaan saya campur aduk pagi itu, bahkan saya tidak dapat mengingat pasti apa saya rasakan. Hehehe. Ibas dan mba iin membantu saya mempersiapkan diri, karena mereka berdua menginap sejak malam sebelumnya. Ketika suster dan bidan menjemput saya, ternyata ada bapak dan ibu mertua saya yang sudah datang diantar oleh adiknya Ibas. Memasuki kawasan ruang operasi, saya tidak dapat berfikir lagi, hanya mengikuti alur adegan yang ada. Hehehe.. Ibas diminta untuk menandatangi beberapa dokumen persetujuan operasi caesar. Setelah itu saya diajak masuk ke ruang pemulihan operasi sambil menunggu dokter-dokter yang akan membantu persalinan saya. Tak lebih dari 10 menit kemudian (tapi rasanya lama banget :P), para dokter mulai berdatangan. Sesuai yang tertera di papan jadwal yang tertempel di dinding ruangan itu, ada 4 dokter yang akan membantu persalinan saya, yaitu dr Reino (dokter kandungan saya), 1 dokter kandungan sebagai asisten dr. Reino, 1 dokter anastesi, dan 1 dokter anak.
Saat itu saya duduk dan menyaksikan para dokter dan suster berganti baju operasi. Rasanya tidak dapat dijelaskan deh. Tak lama kemudian saya diajak masuk ke ruang operasi. Suhu ruangan itu dingiiin sekali, mungkin seperti freezer dagiing beku yang sering saya liat di restaurantnya Tuan Crab. Hehehe. Saya berjalan menuju meja operasi tanpa alas kaki, saya merasakan kaki seperti kebas. Suster membantu saya untuk naik ke tempat tidur operasi dan meminta saya duduk agak membungkuk, untuk disuntikkan obat bius di tulang belakang saya. Saking dingin ruangannya, saya hampir tidak merasakan rasa sakit suntikannya. Setelah itu saya diminta untuk berbaring terlentang. Suntikan itu bersifat lokal dan hanya membius bagian tubuh saya mulai dari pinggang sampai ujung kaki.
Kemudian para suster mempersiapkan segala sesuatunya termasuk memasang semacam penutup di bawah dada saya. Tak lama kemudian dr. Reino datang dan menyapa saya dengan sapaan hangat seperti biasanya. Dia meminta sama-sama mengucap bismillah sebelum memulai operasi. Saya masih ingat dokter anastesi saya duduk di sebelah kiri belakang tempat tidur operasi. Saya tidak dapat melihat pasti, namun sepertinya dokter anastesi berlaku semacam notulen yang mencatat apa yang terjadi di ruang operasi. Beliau juga yang menceritakan kepada saya apa yang sedang terjadi. Hehehe.. Saya sendiri masih dapat mendengar suara kucuran yang saya duga adalah kucuran darah yang keluar ketika dokter membelah perut saya. :D Tak lama kemudian terdengar suara tangisan pertama anak saya. Alhamdulillah.
Dr. reino kemudian memberikan selamat kepada saya bahwa putri saya lahir dengan selamat, sehat, dan lengkap semua anggota tubuhnya. Alhamdulillah.. Kemudian dokter anak dan suster asistennya membersihkan darah putri saya seadanya untuk kemudian meletakkan di atas dada saya untuk IMD (Inisiasai Menyusui Dini). Sungguh tidak dapat dijelaskan rasanya saat itu, melihat anak saya seperti merangkak dengan mejilat-jilat dada saya sampai akhirnya menemukan puting payudara saya dan mengemutnya. Subhanallah. :)
Kemudian saya teringat untuk menanyakan masalah miom kepada dr. reino, apakah dapat diangkat saat itu juga. dr. Reino menjawab bahwa "Nanti saya lihat, kita bereskan dulu bekas operasi bayinya, ya". Saya tidak menyadari bahwa saat itu, pihak dokter sedang meminta persetujuan Ibas untuk mengangkat miomnya. Saya berfikir saat itu dokter tidak memberitahukan saya agar saya tidak panik karena masih dalam kondisi stress pasca operasi pengangkatan bayi. Saya baru mengetahui tentang miom saya beberapa puluh menit kemudian.dr Reino menawarkan untuk melihat miom saya, dan saya bersedia. Alhamdulillah miomnya dapat diangkat sekalian.
Setelah itu dokter menjahit bekas operasinya, bahkan saya dapat melihat jarum dan benang yang digunakan, karena tangan dokternya diangkat terlalu ke atas ketika menarik benang jahitannya sehingga kelihatan di atas kain penutup. Setelah semua rapih, para dokter berpamitan. Dokter anak menjelaskan tentang kondisi anak saya yang alhamdulillah sehat, namun masih harus diobservasi, sehingga harus dibawa ke ruang bayi dulu. Setelah para dokter keluar dari ruang operasi, para suster membereskan peralatan operasi dan juga memindahkan saya ke ruang pemulihan.
Sampai di ruang pemulihan saya diselimuti dengan selimut berbahan seperti alumunium foil yang hangat. Selimutnya seperti selimut yang digunakan untuk sauna / pengecilan berat badan. Mungkin tujuan selimut itu untuk mengembalikan suhu tubuh saya ke suhu normal karena baru keluar dari ruang operasi yang sangat dingin itu. Tak lama kemudian saya merasa sangat ngantuk sekali. Saya baru terbangun ketika suster datang untuk mengecek tekanan darah dan mengganti pembalut nifas saya. Saya bertanya kepada suster jam berapa saat itu dan saya kaget ketika suster mengatakan sudah jam 9 lewat. Ternyata saya sudah tidur cukup lama. Hehehe.
Sekitar 20-30 menit kemudian saya dipersiapkan untuk dipindahkan ke kamar perawatan. Ternyata beberapa keluarga sudah datang ketika saya sudah di dalam ruang operasi. Karena lamanya saya di ruang pemulihan, mereka sudah pulang karena masih ada keperluan lain. Mereka berjanji untuk kembali menjenguk di lain hari. Ketika saya kembali ke ruang perawatan, masih cukup banyak keluarga yang masih menunggu. :)

And this is.. Please welcome Syafiqah Rahmah, putri cantik buah hati saya dan Ibas. Lahir hari Sabtu, 3 November 2012 pukul 5.22, dengan BB 3.14 kg dan panjang 49 cm di RSIA Tambak. Terima kasih atas support dan do'anya. Iis - Basuki.

Sunday, October 14, 2012

Trimester Ketiga

Minggu ke 25 - 28
Alhamdulillah.. Baby berkembang dengan baik dan sehat. Organ tubuhnya sudah lengkap, tapi ukurannya masih kecil-kecil. Hehehe.. Ukuran kepala normal, yang artinya tidak kecil ataupun terlalu besar (hydrosefalus). Begitu juga lingkar perutnya.

Minggu ke 29 - 32
Pada minggu-minggu ini air ketuban mulai dicek. Jumlahnya cukup dan warnanya normal, tidak berwarna kehijauan yang berarti keracunan. Jumlah jari kedua tangan dan kedua kakinya normal. Ada betis dan paha yang artinya, insya allah tidak kuntet. Berat badan bayinya normal. Hingga minggu ke 32, dr. Reino masih optimis bahwa saya masih bisa lahir dengan proses spontan. Walau ukuran miom cukup besar, selama posisi kepala bayi bisa turun dan masuk ke dalam panggul.

Minggu ke 33 - 36
Mulai minggu ke 32, saya disarankan untuk ikut senam hamil. Agar diarahkan gerakan-gerakan yang dapat membuat kepala bayiku turun dan memasuki panggul. Berat badanku hingga minggu ke 36, total kenaikan hanya 6 kg. Menurut dokter kandunganku, dan juga suster serta bidan instruktur senam hamil, kenaikan berat badan ibu hamil tidak harus terlalu dipermasalahkan. Yang terpenting adalah berat badan bayinya normal, dan keadaannya sehat. Begitu juga keadaan ibunya harus sehat.

Sunday, August 26, 2012

Kalau Joni Bisa Ngomong

Apa kalian tahu film "Janji Joni"? Film yang dibintangi oleh Nicholas Saputra sebagai Joni, bercerita tentang pekerjaan seorang pengantar film di bioskop. Inti cerita dalam film ini sih tentang bagaimana perjuangan seorang pengantar film untuk dapat mengantar film ke berbagai bioskop dengan tepat waktu demi dapat berkenalan dengan seorang wanita cantik.

Namun, bukan itu yang ingin saya bahas di sini. Dalam film Janji Joni disebutkan beberapa jenis penonton bioskop. Karena saya (dan Ibas) suka sekali nonton film di bioskop, maka saya akan sebutkan jenis penonton (yang mengganggu) versi saya.

1. Penonton telat.
Penonton jenis ini datang setelah lampu bioskop dimatikan. Yang lebih bikin sebal adalah jika penonton itu duduknya di pojok, sehingga dia mengganggu penononton di sepanjang barisan tersebut

2. Penonton ngobrol.
Penonton ini biasanya tidak menonton sendiri. Dia ngobrol dengan orang yang bersamanya. Please deh, kalau mau ngobrol mah di luar saja.

3. Penonton kring-kring.
Ini penonton paling menyebalkan. Dia lupa atau memang sengaja tidak mematikan dering handphoe. Sehingga ketika ada yang menghubunginya, handphonenya berbunyi. lebih menyebalkan lagi jika ia dengan santainya mengangkat telp tersebut dan berbicara seolah-olah tidak mengganggu.

4. Penonton komentar.
Penonton jenis ini merupakan yang paling menyebalkan kedua setelah penonton kring-kring. Dia selalu komentar semua adegan film yang sedang berlangsung. Bisa dia komentar dengan temannya atau kadang ngomong sendiri.

5. Penonton handphone.
Penonton yang satu ini mungkin sudah meng-silent-kan handphonenya. tapi ia tetap memakai handphonenya untuk sekedar melihat jam, sms an, bbm an, FB an, atau kegiatan lainnya. Kegiatannya tersebut menyebabkan backlight handphonenya menyala. Suasana bioskop yang gelap akan membuat sinar sekecil apapun menyolok mata penonton yang lainnya.

6. Penonton tidak bisa diam.
Penonton ini tidak berisik karena suaranya, tapi karena gerak-geriknya. Jika sesekali membetulkan letak duduk sih masih normal ya. tapi jika hampir tiap menit ia bergerak, dari membetulkan letak duduk, mengambil / menaruh sesuatu di tasnya, dan lain sebagainya. Bahkan tak jarang ada yang menggoyangkan / menggerakkan kakinya seperti sedang menjahit. Gerakan seperti itu membuat lantai dan kursi penonton di sebelahnya ikut goyang.

7. Penonton bolak balik.
Biasanya penonton yang termasuk jenis ini adalah penonton yang (sok) sibuk atau penonton beser. Tiap ada telp masuk, dia keluar bioskop untuk menerima panggilan itu. Namun yang membuat mengganggu adalah panggilan telp bisa beberapa kali dalam pada saat film sedang diputar. Penonton beser juga mengganggu, karena biasanya dia bisa beberapa kali bolak-balik ke toilet. Yang lebih parahnya lagi jika ia duduk di kursi barisan atas. Saat sedang kebelet, seseorang bisa saja lari-lari agar tidak pipis di celana. Dan gerakannya itu yang mengganggu penonton yang lain, terutama yang duduk di barisan yang sama.

Sunday, July 29, 2012

Trimester Kedua

Minggu ke 13 - 16
Mulai minggu ini saya lebih concern kepada miom yang ada di dalam rahim saya. Karena harus dipastikan bahwa miom tersebut tidak mengganggu janin yang sedang saya kandung. Hingga minggu ke 16, Alhamdulillah janin yang sedang saya kandung berkembang dengan baik.

Minggu ke 17 - 20
Pada bulan ini diketahui bahwa miom yang ada di dalam rahim saya mulai membesar. Menurut dokter tidak ada yang bisa dilakukan untuk menyetop perkembangan miom atau memperkecil ukurannya. Yang bisa dilakukan adalah hanya memonitor bahwa janin dalam keadaan baik dan berkembang dengan semestinya.
Saat itu saya sih belum merasakan apapun di perut saya. Bahkan ukuran perut saya hanya ada gundukan kecil, dan belum terlihat seperti orang hamil. Jadi saya dan Ibas masih sanggup untuk berjalan-jalan ke Jogja selama 3 hari. :)

Minggu ke 21 - 24
Ukuran perut saya mulai membuncit. Tapi karena saya hampir tidak pernah menggunakan pakaian / kaos yang melekat di badan, sehingga orang umum belum menyadari bahwa saya sedang hamil. Hehehe.
Namun pada minggu ke 23, tiba-tiba saya merasakan  nyeri yang sangat pada perut bagian bawah dekat vagina, seperti sakit sedang haid yang dulu sering saya alami. Naasnya, saat itu hampir semua dokter kandungan di Jakarta sedang di Bali untuk mengikuti konferensi dokter kandungan se-Indonesia, termasuk dokter di klinik bersalin yang biasa saya datangi.
Bahkan rumah sakit pemerintah sebesar RSCM pun tidak ada dokter spesialis kandungan yang praktek. Saya malah disuruh menginap ke UGD dulu sampai dokter kembali dari Bali. Tentu saja saya menolak. Hanya membuang waktu dan biaya, karena dokter jaga atau suster yang ada pun tidak dapat melakukan tindakan yang hanya dapat dilakukan dokter spesialis kandungan jika terjadi sesuatu terhadap saya dan kandungan saya.
Malam itu juga, saya dan suami browsing semua rumah sakit di Jakarta yang menyediakan praktek dokter kandungan. Dari 20 Rumah sakit yang kami tlp, 19 diantaranya mengatakan hal yang sama, yaitu dokter spesialis kandungan mereka sedang ke Bali, dan menyuruh saya untuk datang 3 hari kemudian saat dokter itu pulang. Damn, mana bisa saya menunggu selama itu. Memangnya mereka mau tanggung jawab kalau terjadi apa-apa dengan saya dan kandungan saya?
Alhamdulillah ada 1 Rumah Sakit yang menyediakan dokter praktek, yaitu RSIA Tambak. Ada 2 dokter yang praktek pada malam itu dan besoknya. Namun 1 dokter akan berangkat ke Bali malam itu juga setelah selesai praktek dan saya tidak mungkin sempat mengejar jadwal praktek dokter tersebut. Akhirnya saya membuat janji untuk menemui dokter yang satunya lagi, yaitu dr. Reino Rambay. Alhamdulillah. Dari hasil usg fetomaternal dan penjelasan dari dr. Reino, diketahui bahwa sakit yang saya derita itu bukan karena miomnya. Tapi, karena tali pusarnya menutupi jalan lahir, dan sering kesenggol oleh bayi yang saya kandung.
Allah SWT memang Maha Berkehendak. Saya sengaja dipertemukan oleh dr. Reino saat saya memang didiagnosa memiliki Miom di dalam rahim saya. Beliau menyarankan saya untuk berhenti mengkonsumsi kacang kedelai dan semua olahannya, agar pertumbuhan miomnya dapat dihentikan. saya memang sangat suka mengkonsumsi tempe dan tahu, dan selalu ada di menu makanan saya setiap hari. Terbukti, sebulan setelah saya berhenti mengkonsumsi tempe dan tahu, ukuran miom saya tidak bertambah besar. Selain olahan kedelai, tentu saja saya harus menghindari JunkFood, makanan mentah, dan selalu mengkonsumsi buah dan sayur.

Saturday, April 7, 2012

Trimester Pertama

Minggu ke 1 - 4
Blm berasa hamil beneran sih.. Hehehe.. Baru ketauan hamil khan pas minggu ke - 5. Hitung minggu ke - 1 itu dari hari pertama haid terakhir. Itu berarti minggu ketika saya menikah. :D

Minggu ke 5 - 8
Masuk minggu ke 5 sebenarnya belum ada tanda-tanda hamil yang umumnya terlihat, seperti mual mual, tidak enak badan, dan lain sebagainya. Saya tau kalo sedang hamil juga karena melalukan test menggunakan test pack. Nah, mulai masuk minggu ke 7, rasa mual mulai muncul. Tapi Alhamdulillah, mual hanya muncul di kondisi tertentu saja. Misal saat mencium bau / wangi yang menyengat, seperti masakan tyang baru matang, bau kamar mandi (yang padahal bersih), ruangan lembab.

Minggu ke 9 - 12
Rasa mual itu masih terasa sampai minggu ke 10. Selama masa mual itu, saya jadi tidak bisa lagi memasak. Saat mau masuk rumah, selalu butuh waktu agar bau ruangannya menguap. Begitu juga saat mau masuk kamar mandi, saya harus mencium wangi2an yang saya suka seperti sabun / parfum terlebih dahulu.
Memasuki bulan ke tiga, terdeteksi adanya miom di dalam rahim saya. Saat itu diagnosa dokter, miom yang berada di rahim saya tidak berbahaya, baik untuk saya dan janin yang sedang saya kandung. Tidak ada pantangan makanan untuk miom itu